Bukan Cuma Bantuan, Korban Bencana Alam Juga Perlu Trauma Healing, Ini Alasannya
Bencana alam yang melanda sejumlah wilayah di Sumatra beberapa waktu lalu tidak hanya menyisakan kerusakan fisik, tetapi juga luka psikologis yang mendalam bagi para penyintas.
Di balik kebutuhan mendesak akan pangan, air bersih, dan layanan kesehatan, aspek kesehatan mental kerap luput dari perhatian, padahal dampaknya dapat berlangsung dalam jangka panjang dan memengaruhi kualitas hidup korban secara signifikan.
Trauma yang Dialami Korban Bencana Alam
Korban bencana alam berpotensi mengalami trauma psikologis akibat peristiwa yang datang secara tiba-tiba dan mengancam keselamatan jiwa. Kehilangan anggota keluarga, tempat tinggal, mata pencaharian, serta rasa aman dapat memicu kecemasan, ketakutan berlebih, gangguan tidur, hingga stres pascatrauma.
Pada anak-anak, trauma sering kali muncul dalam bentuk perubahan perilaku, seperti menjadi pendiam, mudah menangis, atau mengalami kesulitan belajar.
Sementara itu, orang dewasa dan lansia dapat merasakan perasaan putus asa, rasa bersalah karena selamat, hingga kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari. Trauma yang tidak ditangani dengan tepat berisiko berkembang menjadi gangguan mental yang lebih serius.
Alasan Korban Bencana Alam Membutuhkan Trauma Healing
Trauma healing menjadi kebutuhan penting karena pemulihan pascabencana tidak hanya berkaitan dengan membangun kembali infrastruktur, tetapi juga memulihkan kondisi psikologis penyintas. Dukungan psikososial membantu korban memahami dan mengelola emosi, mengurangi tekanan mental, serta memperkuat kembali fungsi sosial dalam komunitas.
Tanpa intervensi yang memadai, trauma dapat menghambat proses adaptasi dan pemulihan, bahkan memicu peningkatan kasus gangguan jiwa. Oleh karena itu, trauma healing berperan sebagai langkah pencegahan agar dampak psikologis tidak berkepanjangan, sekaligus membantu korban bangkit dan menata kembali kehidupan mereka secara lebih sehat dan berdaya.
Dukungan Trauma Healing untuk Korban Bencana Alam
Sebagai respon awal pada fase tanggap darurat, gerakan 100 Musisi Heal Sumatra menerjunkan relawan ke lokasi bencana yang telah dibekali keterampilan Psychological First Aid (PFA). Dukungan ini ditujukan untuk membantu pemulihan kondisi psikologis dan sosial penyintas, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak, ibu hamil, perempuan, lansia, difabel, serta keluarga yang terdampak langsung. Upaya ini diharapkan dapat menekan peningkatan kasus gangguan jiwa, baik dari sisi jumlah maupun tingkat keparahan.
Selain dukungan psikososial, bantuan lain juga disalurkan berupa kebutuhan dasar seperti sembako, water filter, solar panel, serta jaringan komunikasi yang didistribusikan secara proporsional di Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh.
Di sektor kesehatan, bantuan operasional rumah sakit dan pengadaan alat medis diberikan kepada RS Langsa dan RS Tamiang. Pasca banjir, RSUD Aceh Tamiang mulai beroperasi kembali secara bertahap dengan prioritas layanan kegawatdaruratan, meski masih menghadapi keterbatasan sarana pendukung. Sementara itu, di RSUD Kota Langsa, inisiatif revitalisasi dilakukan untuk memastikan layanan kritis seperti IGD, ICU, dan kamar operasi dapat berjalan optimal.