Nasi di Rumah Tahan 3 Hari? Ini Kata Ahli soal Ciri Beras Oplosan
Nasi yang tetap pulen meski sudah dua hari dimasak bisa terdengar menguntungkan. Tapi hati-hati, justru itu bisa jadi tanda bahaya.
Belakangan ini, marak peredaran beras oplosan yang mencuat setelah investigasi resmi Kementerian Pertanian pada Juni 2025.
Dari 268 sampel beras yang diuji, mayoritas tak sesuai standar mutu bahkan dijual melebihi harga eceran tertinggi.
Tak hanya soal harga, bahaya beras oplosan juga menyentuh kualitas konsumsi harian. Dalam artikel ini, akan dijelaskan ciri-ciri beras oplosan menurut ahli pangan dari IPB University.
Penjelasan ini bisa menjadi panduan praktis bagi siapa pun yang ingin mengenali perbedaan antara beras asli dan yang telah dicampur atau dipalsukan.
Ilustrasi nasi putih, makanan yang bisa membuat cepat lapar.
Nasi Tahan Tiga Hari, Ciri Paling Gampang Dikenali
Salah satu ciri utama beras oplosan adalah nasinya tidak cepat basi. Dilansir dari laman Kompas.com yang tayang pada Senin (14/07/2025), Ahli Teknologi Industri Pertanian IPB University, Profesor Tajuddin Bantacut, menyampaikan, “Kalau beras oplosan dimasak, nasinya tahan basi tiga hari berturut-turut. Warnanya juga tidak mengilap kalau pakai pemutih.”
Kondisi ini tentu berbeda dari nasi yang dimasak dari beras asli, yang biasanya hanya bertahan satu hari di suhu ruang.
Justru ketika nasi awet berhari-hari tanpa perubahan warna dan bau, patut dicurigai adanya bahan tambahan atau campuran tak lazim dalam beras.
Tak Ada Kutu Beras Selama Disimpan? Justru Mencurigakan
Beras asli yang disimpan dalam wadah kedap udara tetap akan mengundang kutu seiring waktu.
Hal ini karena masih ada kandungan dedak dan nutrisi alami dalam beras. Namun, pada beras oplosan, kutu cenderung enggan datang bahkan setelah berbulan-bulan disimpan.
“Kalau beras disimpan lama dan tidak ada kutu berasnya, itu justru mencurigakan,” pungkas Tajuddin.
Hal ini bisa jadi karena beras sudah mengalami pemrosesan atau penambahan bahan kimia tertentu yang membuatnya tampak bersih, namun mengurangi kualitas aslinya.

Warna Terlalu Putih Bukan Tanda Bersih
Warna beras yang putih natural lebih aman dikonsumsi dibanding yang terlalu putih mengilap. Warna yang terlalu terang bisa menandakan adanya bahan pemutih atau pencampuran bahan lain yang tidak semestinya.
“Kalau saya sarankan ke masyarakat, mulai sekarang, jangan (beli) beras yang terlalu putih karena beras yang masih biasa, masih mengandung dedak,” jelas Tajuddin.
Dedak pada beras adalah sumber nutrisi yang penting dan menandakan bahwa beras tidak terlalu banyak melalui proses pemutihan.
Bau dan Tekstur yang Aneh, Bisa Jadi Tanda Oplosan
Selain warna, bau beras juga bisa menjadi penanda. Beras asli memiliki aroma natural yang tidak menyengat. Jika baunya terasa tidak biasa atau terlalu menyengat, bisa jadi itu beras oplosan yang dicampur bahan lain.
“Setelah kita beli, buka di rumah, ya kemudian diperiksa kan secara visual warnanya, setelah dimasak terlihat teksturnya, kemudian ada baunya kan,” ujar Tajuddin.
Bau menyengat dan tekstur yang tidak normal saat dimasak bisa menjadi indikator bahwa beras sudah dicampur bahan tak seharusnya.