Malu karena Tak Kuat Angkat Peti Jenazah, Pria Ini Berhasil Turun 28 Kg
Sebuah momen di pemakaman menjadi titik balik hidup Mark Leruste. Pria 39 tahun asal London ini hampir tak sanggup mengangkat peti jenazah ayah sahabatnya karena kondisi fisiknya.
Kejadian itu membuatnya sadar bahwa harapan tanpa perubahan nyata tidak akan membawa hasil.
Dalam waktu 24 minggu, Mark berhasil menurunkan 28 kilogram dan memangkas 14 persen lemak tubuhnya lewat perubahan pola makan dan komitmen yang konsisten.
Titik balik yang datang dari rasa takut
Mark mengaku selama bertahun-tahun merasa “baik-baik saja”. Ia rutin berolahraga, tetapi tidak pernah benar-benar memperhatikan apa yang ia makan.
Berat badannya berada di kisaran 82 kilogram dengan persentase lemak tubuh lebih dari 25 persen. Momen di gereja itu mengubah segalanya.
“Saya sadar perlu menjadi lebih kuat, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk keluarga,” kata Mark, dikutip dari Men’s Health.
Ia tak ingin suatu hari nanti anak-anaknya kesulitan membantunya karena kondisi fisik yang buruk.
Menghentikan harapan kosong, mulai minta bantuan
Ilustrasi jalan kaki. Momen di pemakaman menjadi titik balik Mark Leruste hingga berhasil menurunkan 28 kilogram dalam enam bulan.
Berbeda dari percobaan diet sebelumnya, Mark memutuskan untuk tidak berjalan sendiri. Ia bergabung dengan program pelatihan profesional di London dan mulai menjalani rutinitas yang terstruktur.
Ia berlatih tiga kali seminggu, menargetkan 10.000 langkah setiap hari, serta menambahkan sesi kardio secara rutin.
Menurut Mark, perubahan terbesar justru terjadi saat ia berhenti “berharap tubuhnya berubah dengan sendirinya”.
Kesalahan besar dalam pola makan
Selama ini Mark mengira ia sudah makan sehat. Kenyataannya, asupan kalorinya mendekati 4.000 kalori per hari.
Karbohidrat olahan, makanan cepat saji, minuman manis, dan camilan menjadi bagian rutin dari kesehariannya.
“Masalahnya, saya berasumsi tanpa data,” ujar Mark, seperti dikutip dari Men's Health.
Ia menyebut harapan sebagai strategi terburuk dalam transformasi tubuh. Dengan bimbingan pelatih, Mark mulai memahami pembagian makronutrien.
Ia menyeimbangkan protein, karbohidrat, dan lemak, serta menyesuaikan waktu makan dengan aktivitas fisik. Ia bahkan menggunakan layanan makanan siap masak agar porsinya lebih terkontrol.
Tidak nyaman, tapi berhasil
Mark tidak menutupi bahwa prosesnya berat. Ia sering merasa lapar, mudah marah, dan kualitas tidurnya sempat terganggu. Namun, perubahan pada tubuhnya menjadi motivasi utama.
“Saya merasa tidak enak hampir sepanjang proses,” katanya jujur. “Tapi untuk pertama kalinya dalam hidup, saya benar-benar menyukai tubuh saya.”
Dalam enam bulan, ia menurunkan hampir 29 kilogram, memangkas lebih dari lima inci lingkar pinggang, dan menurunkan lemak tubuh secara signifikan.
Kunci diet: Konsisten, bukan sempurna
Menurut Mark, keberhasilan datang dari konsistensi, bukan kesempurnaan. Ia tetap disiplin berlatih, tetapi tidak menghukum diri saat sesekali melenceng dari rencana makan.
Pendekatan ini sejalan dengan pandangan banyak pelatih kebugaran. Perubahan berkelanjutan lebih efektif dibanding diet ekstrem jangka pendek. Transformasi tubuh jarang berjalan lurus, melainkan penuh naik turun.
Kini, Mark menegaskan satu hal yang ia pelajari: terus bergerak meski ragu.
“Tidak ada proses yang terlihat seksi,” katanya. “Yang penting adalah tetap berjalan.”
Kisah Mark menunjukkan bahwa diet bukan soal cepat atau instan. Perubahan nyata datang dari keberanian meminta bantuan, memahami tubuh, dan bertahan dalam proses yang tidak selalu nyaman.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang