Perjuangan Paulette Szalay Turun Bobot Hampir 60 Kg di Usia Menopause
Paulette Szalay berhasil menurunkan berat badan hampir 60 kilogram setelah menopause dengan mengubah pola pikir, kebiasaan makan, dan rutinitas olahraga secara bertahap.
Perempuan berusia 60 tahun ini memulai perubahan tersebut dari satu keputusan sederhana yang kemudian mengubah kesehatan, kepercayaan diri, dan arah hidupnya, dikutip dari Today, Kamis (17/10/2025).
Perjalanan menurunkan berat badan itu tidak terjadi secara instan. Selama hampir seumur hidupnya, Paulette mengaku sudah berkali-kali mencoba diet, tetapi tidak pernah bertahan lama atau memberikan hasil yang signifikan.
Perubahan justru terjadi ketika ia berhenti memandang penurunan berat badan sebagai hukuman, lalu mulai melihatnya sebagai proses merawat diri.
Titik balik di usia 60 tahun
Paulette mengingat jelas momen yang menjadi titik balik hidupnya. Saat itu, berat badannya hampir mencapai 118 kilogram dan aktivitas sederhana mulai terasa berat.
“Saya bekerja sebagai pendidik di lantai dua, dan saya sudah tidak sanggup naik-turun tangga. Saya harus menggunakan lift,” ujar Paulette.
Berat badan tersebut juga memicu berbagai masalah kesehatan, mulai dari tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, kaki bengkak akibat penumpukan cairan, asam lambung, hingga gangguan tiroid.
Keyakinan yang menghambat perubahan
tahun, Paulette hidup dengan keyakinan bahwa menurunkan berat badan setelah menopause adalah hal yang mustahil.
“Saya punya pola pikir bahwa saya tidak bisa menurunkan berat badan setelah menopause, dan begitulah saya akan menjalani hidup selamanya,” katanya.
Ia mengaku perasaan tersebut membuatnya tertekan, kehilangan rasa percaya diri, dan merasa terasing dalam kehidupan sosial.
Inspirasi datang dari pantai
Tangkapan layar unggahan Paulette Szalay di akun Instagram @pszalay01 saat diundang menjadi bintang tamu dalam acara Sherri Shepherd.
Perubahan besar itu bermula saat liburan keluarga ke Juno Beach, Florida, pada 2022. Paulette duduk di pantai dengan pakaian tertutup, berkeringat, dan hanya bisa melihat orang lain menikmati waktu mereka.
“Saya melihat seorang perempuan yang lebih tua mengenakan bikini dengan percaya diri. Saat itu saya berpikir, kalau dia bisa, saya juga bisa,” ujarnya.
Momen sederhana itu menjadi pemicu kesadaran bahwa perubahan masih mungkin dilakukan, meski usianya tidak lagi muda.
Langkah pertama yang mengubah segalanya
Perubahan gaya hidup Paulette dimulai dari satu keputusan kecil saat makan malam Paskah di sebuah restoran. Ia memesan salmon panggang dan sayuran kukus.
“Keluarga saya sampai heran. Saya bilang ke mereka, ini adalah hari pertama dari sisa hidup saya,” katanya.
Sejak saat itu, ia berkomitmen menjalani perubahan secara konsisten, tanpa target yang ekstrem.
Olahraga dimulai dari lima menit
Paulette memilih pusat kebugaran dengan suasana ramah dan tanpa penghakiman. Pada hari pertama berolahraga, ia hanya mampu berjalan di treadmill selama lima menit.
“Hari pertama itu saya benar-benar hanya lima menit di treadmill dan sudah kehabisan napas,” ujarnya.
Kini, ia mampu berolahraga selama lebih dari satu jam, dua hingga tiga kali seminggu, dengan kombinasi kardio dan latihan kekuatan.
Mengatur pola makan tanpa menyiksa
Dalam perjalanannya, Paulette bekerja sama dengan ahli gizi untuk mengatur asupan kalori dan nutrisi. Ia sempat mengurangi karbohidrat, lalu secara bertahap memasukkannya kembali dalam porsi kecil.
“Daripada menjadikan pasta sebagai menu utama, saya mengonsumsinya sebagai lauk dalam porsi kecil,” ujar Paulette.
Ia juga mengubah cara memasak dengan memanggang, mengukus, atau menggunakan air fryer, serta mengurangi penggunaan mentega.
Perubahan kesehatan yang terasa nyata
Dalam tiga tahun, Paulette berhasil menurunkan berat badan sekitar 59 kilogram. Ia tidak lagi membutuhkan obat tekanan darah dan kolesterol, asam lambungnya menghilang, serta dosis obat tiroidnya berkurang.
“Saya tidak pernah merasa lapar atau kehabisan energi. Selama tiga tahun ini saya merasa sehat,” katanya.
Kepercayaan dirinya pun meningkat. Paulette kini mengenakan bikini yang dulu hanya bisa ia bayangkan. Selain perubahan fisik, Paulette merasakan dampak besar pada mental dan tujuan hidupnya.
“Saya bangun setiap pagi dan bertanya, apa yang bisa saya capai hari ini,” kata Paulette.
Ia berharap kisahnya dapat menjadi inspirasi bagi perempuan lain, terutama mereka yang merasa terlambat untuk memulai perubahan.
“Saya ingin menjadi inspirasi bagi orang lain, seperti perempuan di pantai itu yang dulu menginspirasi saya,” tuturnya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang