Top 57+ Persen Masyarakat Indonesia Alami Masalah Gigi, Mengapa Banyak Orang Takut ke Dokter Gigi?

Di tengah berkembangnya tren self care atau perawatan diri di kalangan Milenial dan Gen Z saat ini, mulai dari tren pemakaian skincare, olahraga hingga gaya hidup sehat, perawatan gigi masih sering diabaikan karena berbagai faktor.
Salah satu penyebabnya adalah dental anxiety atau rasa takut saat harus duduk di kursi dokter gigi. Ini menjadi fenomena umum yang sering menghambat seseorang untuk melakukan pemeriksaan rutin ke dokter gigi.
Mengapa Banyak Orang Takut ke Dokter Gigi?
Banyak orang lebih memilih menunda kunjungan ke klinik meski merasakan keluhan kecil, daripada harus menghadapi prosedur yang dianggap menakutkan, menyakitkan, atau bahkan mahal.
CEO SATU Dental Group, Satria Situmorang menyebut, berdasarkan data resmi Kemenkes sebanyak 57 persen masyarakat Indonesia mengalami masalah gigi dan mulut dalam 12 bulan terakhir.
“Menariknya lagi, cuma 11 persen dari 57 persen yang aktif mencari perawatan medis. Banyak banget masyarakat yang belum aware dan masih bingung harus mencari perawatan gigi ke mana. Apakah dia perlu ke dokter gigi atau enggak? Bahkan, ada juga yang enggak tahu kalau sedang sakit gigi,” papar Satria dalam acara Press Conference #BeraniTampil di Blok M, Jakarta, Jumat (5/6).
Padahal, kebiasaan menunda ini justru menjadi bumerang yang dapat merugikan kesehatan mulut dalam jangka panjang.
Dalam kesempatan yang sama, Dokter gigi dari SATU Dental, drg. Melissa Delania, Sp. Pros mengungkap, sebanyak 86,4 persen masyarakat Indonesia diketahui belum pernah ke dokter gigi. Dari angka tersebut, 30 persen di antaranya mengaku tidak pernah melakukan pemeriksaan karena rasa takut.
Biasanya, rasa takut ini muncul karena ketakutan terhadap rasa sakit, suasana klinik yang menegangkan, hingga rasa malu karena tidak berani menanyakan harga di awal.
"Banyak orang baru datang ke klinik ketika sudah merasakan sakit gigi yang mengganggu aktivitas. Padahal, dari sisi medis, kebiasaan melakukan pemeriksaan rutin sejak usia muda jauh lebih efisien dan dapat meminimalkan risiko tindakan kuratif yang berat,” jelasnya.
Apabila dental anxiety ini dibiarkan, dampaknya tidak hanya pada kesehatan gigi, tetapi juga rasa percaya diri.
Seringkali, masalah seperti gusi berdarah atau gigi berlubang di tahap awal tidak disadari, karena tidak menimbulkan rasa sakit.
Namun jika terus diabaikan, kondisi ini akan memburuk dan memerlukan tindakan yang lebih besar, lebih kompleks, dan tentu membutuhkan biaya yang lebih mahal.
Kampanye #BeraniTampil SATU Dental
Untuk mengatasi stigma tersebut, SATU Dental meluncurkan kampanye #BeraniTampil yang berkolaborasi dengan Mario Caesar, Niky Putra, dan Marco Ivanos.
Kampanye ini bertujuan menciptakan ekosistem perawatan gigi yang ramah, transparan, dan menyenangkan bagi anak muda.
"Banyak dari kita yang sering menunda ke dokter gigi karena bingung harus mulai dari mana atau ragu dengan biaya. Melalui kampanye Berani Tampil, kami ingin menghapus kecemasan tersebut. Fokus kami adalah menyediakan ekosistem perawatan gigi yang terbuka sejak awal hingga pascatindakan, mulai dari perawatan dasar seperti scaling hingga whitening,” tegas Satria.
“Kami ingin mengedukasi masyarakat bahwa merawat gigi bisa menjadi bagian dari gaya hidup yang menyenangkan dan transparan. Apalagi dengan didukung penuh oleh keahlian tim dokter gigi kami,” pungkasnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang