Banyak yang Keliru Memaknai Lebaran, Quraish Shihab Ingatkan Bahaya Dendam yang Diam-diam Menghancurkan
Hari Raya Idul Fitri kerap dimaknai sebagai momen kemenangan setelah sebulan penuh menahan lapar dan dahaga. Namun di balik tradisi saling bermaafan dan berkumpul bersama keluarga, ada makna yang jauh lebih dalam yang sering kali luput dari perhatian banyak orang: membersihkan hati dari luka lama yang diam-diam masih tersimpan.
Di tengah suasana Lebaran yang penuh kehangatan, pakar tafsir Al-Qur’an, Muhammad Quraish Shihab, mengingatkan bahwa Idul Fitri seharusnya menjadi titik balik untuk membebaskan diri dari beban batin, terutama dendam yang kerap mengendap tanpa disadari.
Dalam Pengajian Ramadhan Tafsir Al-Mishbah bertajuk "Saling Memaafkan, Menghapus Luka dan Dosa", ia menegaskan bahwa salah satu ciri orang bertakwa adalah kemampuan menahan amarah dan memaafkan sesama.
“Ciri orang bertakwa itu menahan amarah dan memaafkan sesama. Lebaran Idul Fitri menjadi momen yang tepat untuk saling memaafkan, baik dengan keluarga maupun teman,” ujar Quraish Shihab dikutip NU Online.
Menurutnya, memaafkan tidak harus menunggu permintaan maaf dari pihak lain. Justru, memulai lebih dulu adalah langkah yang lebih mulia dan mencerminkan kedewasaan spiritual.
“Di akhir Ramadhan ini kita biasakan memaafkan. Kalau pun orang tidak meminta maaf, kita bisa memaafkan lebih dulu,” lanjutnya.
Tahapan Memaafkan Menurut Al-Qur’an
Quraish Shihab menjelaskan bahwa Al-Qur’an memberikan panduan bertahap dalam merespons kesalahan orang lain. Tidak semua orang langsung mampu mencapai level tertinggi dalam memaafkan, karena setiap manusia memiliki prosesnya masing-masing.
Ia menguraikan bahwa ada beberapa tingkatan respons ketika seseorang disakiti. Mulai dari membalas secara setimpal, kemudian memilih berpaling dan tidak menanggapi, hingga mencapai tingkat tertinggi, yaitu berbuat baik kepada orang yang telah menyakiti.
“Memaafkan itu menghapus luka di hati, tidak membalas. Tapi seperti tulisan yang salah di kertas, jika dihapus, tulisannya hilang, tetapi kertasnya masih meninggalkan bekas,” jelasnya.
Analogi tersebut menggambarkan bahwa memaafkan bukan berarti melupakan sepenuhnya, melainkan melepaskan beban emosi negatif yang melekat pada peristiwa tersebut.
Lebih jauh, ia juga menyinggung konsep safh dalam Al-Qur’an, yaitu membuka lembaran baru tanpa lagi mengungkit masa lalu. Pada tahap ini, seseorang tidak sekadar memaafkan, tetapi benar-benar meninggalkan luka tersebut di belakang.
Puncaknya adalah tingkat ihsan, ketika seseorang mampu membalas keburukan dengan kebaikan.
“Ciri orang bertakwa adalah menahan amarah dan memaafkan. Allah mencintai orang yang berbuat baik kepada yang bersalah. Ini adalah tingkat tertinggi,” ucapnya.
Dendam yang Diam-diam Merusak Diri Sendiri
Dalam penjelasannya, Quraish Shihab juga mengingatkan bahaya menyimpan dendam. Perasaan tersebut, menurutnya, tidak hanya merusak hubungan sosial, tetapi juga berdampak langsung pada ketenangan batin seseorang.
“Dendam dapat menggerogoti hati kita sendiri. Karena itu, dendam tidak dianjurkan karena dapat merugikan,” katanya.
Ia menambahkan, seseorang yang terus memelihara dendam cenderung sulit fokus, baik dalam pekerjaan maupun ibadah. Energi yang seharusnya digunakan untuk hal produktif justru habis untuk memikirkan luka masa lalu.
Melihat Kesalahan dengan Perspektif Lebih Luas
Sebagai penutup, Quraish Shihab mengajak umat Islam untuk melihat kesalahan orang lain dengan sudut pandang yang lebih luas. Bisa jadi, kesalahan tersebut terjadi karena ketidaksengajaan atau tekanan tertentu yang tidak diketahui.
“Ingatlah bahwa kesalahan orang lain bisa saja lebih ringan dibanding kesalahan yang mungkin kita lakukan. Jika Anda memaafkan, terbuka peluang Allah SWT memaafkan kesalahan Anda,” ujarnya.
Pesan ini menjadi pengingat bahwa Idul Fitri bukan hanya tentang tradisi saling bermaafan secara formal, tetapi tentang keberanian untuk benar-benar melepaskan beban lama dan melangkah ke fase hidup yang lebih damai.