Kenapa Seseorang Memilih Diam Saat Terjadi Konflik? Ini Penjelasannya

Kenapa Seseorang Memilih Diam Saat Terjadi Konflik? Ini Penjelasannya, 1. Merasa kewalahan dengan emosi, 2. Takut konflik semakin membesar, 3. Terbiasa memendam perasaan, 4. Merasa tidak didengar atau dipahami

Dalam sebuah konflik, tidak semua orang merespons dengan marah, berdebat, atau langsung menyampaikan apa yang dirasakan.

Sebagian orang justru memilih diam, menjauh, atau sulit memberikan respons ketika menghadapi percakapan yang penuh tekanan.

Perilaku tersebut sering disebut sebagai emotional shutdown, yaitu kondisi ketika seseorang seolah “mematikan” respons emosionalnya karena merasa kewalahan menghadapi situasi tertentu.

Alih-alih melanjutkan percakapan, mereka cenderung menarik diri untuk menghindari tekanan yang dirasakan.

Dikutip dari Psychology Today, psikoterapis Robert Taibbi menyebut seseorang dapat memilih untuk menutup diri ketika situasi yang dihadapi terasa terlalu berat secara emosional.

Respons ini bisa menjadi cara tubuh dan pikiran untuk melindungi diri ketika seseorang merasa tidak mampu memproses emosi yang muncul.

Namun, diam saat konflik tidak selalu berarti seseorang tidak peduli atau tidak ingin menyelesaikan masalah.

ada beberapa orang, mengambil jarak sejenak menjadi cara untuk menenangkan diri sebelum kembali membicarakan persoalan dengan lebih baik.

Mengapa seseorang memilih diam saat konflik?

Ada beberapa alasan mengapa seseorang cenderung menarik diri ketika menghadapi konflik.

1. Merasa kewalahan dengan emosi

Ketika konflik terjadi, emosi seperti marah, kecewa, takut, atau sedih dapat muncul secara bersamaan.

Bagi sebagian orang, intensitas emosi tersebut membuat mereka kesulitan berpikir jernih dan menyusun kata-kata.

Dalam kondisi ini, diam bisa menjadi respons alami karena seseorang membutuhkan waktu untuk mengatur kembali emosinya.

2. Takut konflik semakin membesar

Sebagian orang memilih tidak berbicara karena khawatir perkataan mereka justru memperburuk keadaan.

Mereka mungkin takut mengatakan sesuatu yang menyakitkan, memicu pertengkaran lebih besar, atau membuat hubungan semakin renggang.

Karena itu, menarik diri sementara dianggap sebagai cara untuk menghindari eskalasi konflik.

3. Terbiasa memendam perasaan

Pola komunikasi seseorang sering dipengaruhi oleh pengalaman sebelumnya.

Orang yang sejak kecil tidak terbiasa membicarakan emosi atau berada dalam lingkungan yang kurang memberi ruang untuk berekspresi bisa lebih mudah memilih diam ketika menghadapi masalah.

Alih-alih mengungkapkan apa yang dirasakan, mereka mungkin terbiasa menyimpan emosi sendiri.

4. Merasa tidak didengar atau dipahami

Ada pula orang yang memilih diam karena merasa percakapan tidak akan menghasilkan perubahan.

Jika seseorang merasa pendapatnya selalu ditolak atau tidak dihargai, mereka bisa kehilangan dorongan untuk menjelaskan perasaannya.

Diam untuk menenangkan diri atau menghindari masalah?

Meski terlihat serupa, mengambil waktu untuk menenangkan diri berbeda dengan menghindari konflik.

Jeda sementara dapat menjadi hal yang sehat apabila seseorang tetap memiliki niat untuk kembali berdiskusi dan menyelesaikan masalah.

Sebaliknya, terus-menerus menghindari pembicaraan penting tanpa memberikan penjelasan dapat membuat masalah semakin sulit diselesaikan.

Dalam hubungan, komunikasi yang sehat bukan berarti setiap orang harus langsung berbicara ketika konflik terjadi.

Beberapa orang membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami perasaan mereka sebelum menyampaikannya.

Yang penting, jeda tersebut tetap disertai dengan upaya untuk kembali membangun

Cara menghadapi seseorang yang memilih diam saat konflik

Jika menghadapi orang yang cenderung menutup diri, memaksa mereka berbicara saat sedang emosional biasanya tidak selalu membantu.

Memberikan ruang sejenak dapat membuat mereka merasa lebih aman untuk terbuka.

Setelah situasi lebih tenang, percakapan dapat dimulai dengan pendekatan yang tidak menyalahkan, misalnya dengan menanyakan apa yang mereka rasakan atau apa yang mereka butuhkan.

Pada akhirnya, diam saat konflik tidak selalu menunjukkan sikap tidak peduli. Bagi sebagian orang, diam merupakan cara menghadapi tekanan emosional.

Namun, kemampuan untuk kembali berkomunikasi dan membicarakan masalah tetap menjadi bagian penting dalam menjaga hubungan yang sehat.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang