Kenapa Harus Pakai Baju Serba Putih Saat Nonton Festival Lampion Candi Borobudur?
MagelangHari Raya Waisak disambut meriah oleh umat Buddha, bahkan seluruh masyarakat Indonesia. Berpusat di Candi Borobudur, wisatawan yang mau nonton wajib pakai baju putih.
Perayaan Hari Raya Waisak Nasional di Candi Borobudur merupakan momen spiritual terbesar bagi umat Buddha di Indonesia yang juga dikemas sebagai daya tarik budaya dunia.
Kementerian Agama Republik Indonesia (Kemenag) dan dinas terkait senantiasa mendukung perayaan ini sebagai wujud nyata moderasi beragama dan ruang harmoni sosial. Salah satu puncak acara yang paling dinantikan oleh umat maupun wisatawan adalah Festival Lampion (Lentera Perdamaian).
Pelepasan ribuan lampion ramah lingkungan ke langit Borobudur di bawah sinar bulan purnama sidi ini bukan sekadar atraksi visual yang memukau, melainkan sebuah tradisi penuh makna yang melambangkan penerangan batin, penyebaran cinta kasih, serta doa perdamaian yang dipanjatkan untuk seluruh alam semesta.
Berdasarkan panduan resmi dan ketetapan panitia Waisak Nasional, ada aturan wajib yang harus diikuti oleh wisatawan yang ingin menonton Festival Lampion yaitu mengenakan pakaian serba putih.
Berdasarkan situs resmi, berikut 5 fakta mengenai aturan dan makna mengenakan baju putih saat mengikuti rangkaian Waisak di Candi Borobudur:
Wajib Mengenakan Pakaian Serba Putih
1. Aturan Resmi Protokol Kunjungan
Pemerintah melalui panitia penyelenggara Waisak Nasional menetapkan bahwa mengenakan pakaian berwarna putih dan sopan. Baju harus panjang, sopan, tidak ketat, tidak transparan, dan bukan celana atau rok pendek. Pakaian putih merupakan regulasi wajib bagi siapa saja yang ingin memasuki area caturangga atau mengikuti prosesi sakral seperti Detik-Detik Waisak.
Jika tidak mematuhinya, petugas berwenang berhak mengarahkan pengunjung untuk menyesuaikan pakaiannya demi ketertiban.
2. Simbol Kemurnian dan Kedamaian Batin
Secara filosofis keagamaan yang diakui dalam literatur panduan, warna putih dianggap sebagai keseimbangan sejati dari semua warna. Mengenakan pakaian putih melambangkan kemurnian, kesucian, dan kedamaian, serta menjadi simbol bahwa seseorang datang ke Borobudur dengan niat yang bersih dan hati yang terang.
3. Bentuk Penghormatan Tertinggi terhadap Kesakralan Ibadah
Borobudur saat Waisak berfungsi penuh sebagai tempat ibadah, bukan sekadar objek wisata. Pemerintah mengimbau masyarakat umum dan wisatawan untuk memakai baju putih (serta direkomendasikan payung berwarna putih jika cuaca terik) sebagai bentuk penghormatan dan upaya menjaga kekhusyukan umat Buddha yang sedang menjalankan ritual keagamaan.
4. Pembeda antara Umat Awam dan Para Bhikkhu
Pakaian putih merupakan busana tradisional bagi umat awam (Upasaka dan Upasika) saat menghadiri hari besar keagamaan. Penggunaan warna putih polos ini bertujuan agar terdapat batasan dan perbedaan yang jelas secara visual antara umat biasa dengan para anggota Sangha (Biksu/Bhikkhu) yang mengenakan jubah khusus (Civara) berwarna kontras seperti kuning, oranye, atau cokelat tua.
5. Penghapusan Sekat Sosial (Simbol Kesetaraan)
Warna pakaian yang seragam menjadi simbol kesetaraan tanpa memandang status sosial, ekonomi, jabatan, maupun latar belakang suku. Aturan ini selaras dengan misi pemerintah dalam menjadikan perayaan Waisak di Borobudur sebagai ruang spiritualitas yang inklusif, damai, dan setara bagi semua orang.