Zohran Mamdani Disorot, Respons Wali Kota New York atas Serangan ke Istrinya Picu Kritik

Zohran Mamdani dan Istri saat upacara inagurasi
Zohran Mamdani dan Istri saat upacara inagurasi

Wali Kota New York City, Zohran Mamdani, tengah berada di tengah badai polemik politik terkait karya ilustrasi lama istrinya yang berhubungan dengan isu Palestina.

Kontroversi ini mulai mencuat pekan lalu ketika beberapa media sayap kanan memberitakan karya lama Rama Duwaji, yang berkaitan dengan penulis Palestina Susan Abulhawa serta sejumlah komentar kontroversial yang pernah disampaikan Abulhawa.

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Lantas karya apa yang dipermasalahkan hingga membuat Mamdani berada di badai polemik? Berikut ini rangkuman penjelasannya seperti melansir laman Al Jazeerah, Senin 16 Maret 2026.

Karya apa yang dipermasalahkan?

Hubungan Duwaji dengan Abulhawa pertama kali dilaporkan oleh situs berita konservatif Washington Free Beacon pekan lalu.

Media tersebut menyebutkan bahwa Duwaji, yang merupakan freelancer ilustrator berusia 28 tahun, pernah membuat ilustrasi untuk sebuah esai yang dihimpun oleh Abulhawa dalam sebuah kumpulan tulisan penulis Gaza berjudul Every Moment is a Life. Karya tersebut dipublikasikan secara daring oleh platform Everything is Political.

Belakangan, Abulhawa menjelaskan bahwa tulisan itu sebenarnya adalah cerita pendek yang ditulis oleh seorang warga Gaza yang terpaksa mengungsi akibat perang Israel yang ia sebut sebagai genosida. Cerita berjudul A Trail of Soap tersebut menggambarkan kesulitan dan situasi memalukan yang dialami warga ketika harus menggunakan toilet umum darurat di wilayah yang hancur akibat perang.

Mamdani menyatakan bahwa Duwaji mendapat pesanan ilustrasi itu dari pihak ketiga dan tidak pernah berkomunikasi ataupun bertemu dengan Abulhawa, klaim yang kemudian juga dikonfirmasi oleh Abulhawa.

Komentar apa yang disorot dalam laporan itu?

Laporan Free Beacon yang kemudian ditulis juga oleh New York Post dan Jewish Insider menyoroti sejumlah komentar lama Abulhawa.

Beberapa kritikus menilai sebagian unggahan Abulhawa terkesan merujuk pada seluruh orang Yahudi, tuduhan yang dibantah oleh Abulhawa.

Ia mengatakan pernyataan-pernyataan itu mencerminkan rasa sakit yang ia rasakan sebagai warga Palestina yang dua kali datang ke Gaza untuk kegiatan bantuan selama perang Israel, yang sejak Oktober 2023 telah menewaskan lebih dari 72.000 warga Palestina.

Dalam sebuah artikel di situs The Electronic Intifada, Abulhawa menyebut serangan pejuang Palestina ke Israel selatan pada 7 Oktober 2023 sebagai momen spektakuler yang mengejutkan dunia.

Di media sosial, ia juga mengecam apa yang ia sebut sebagai pembantaian supremasi Yahudi di Gaza, bahkan menulis bahwa anak-anak setan ini akan merasakan apa yang mereka lakukan pada warga Gaza.

Ia juga mengkritik pengaruh politik Israel dengan menggunakan istilah seperti makhluk supremasi Yahudi dan vampi. Bahkan dalam satu kesempatan menyebut seorang komentator sebagai ‘kecoak’ supremasi Yahudi.

Respons Mamdani?

Dalam konferensi pers pekan lalu, Mamdani mengatakan bahwa selain tidak pernah bertemu Abulhawa, Duwaji juga tidak pernah melihat unggahan media sosial yang dipersoalkan.

“Kami di pemerintahan ini dan saya tegaskan, pemerintahan kami terpisah dari ibu walikota karena ia tidak memiliki peran resmi di dalamnya menentang segala bentuk kebencian tanpa kompromi.  Saya pikir retorika seperti itu jelas tidak dapat diterima. Itu sangat tercela,” kata Mamdani, merujuk pada unggahan Abulhawa.

Apa yang dikatakan Abulhawa?

Dalam pernyataan video panjang yang dirilis pada Sabtu, Abulhawa mengatakan ia ingin meluruskan situasi tersebut untuk Mamdani, para pendukung dan pengkritiknya, para wartawan, para pembaca, teman-teman Abulhawa, dan masyarakat secara umum.

Ia menolak tuduhan bahwa komentarnya merupakan anti-Semitisme atau rasisme terhadap orang Yahudi. Menurutnya, ia sedang mengkritik struktur kekuasaan Zionis dan para pendukungnya dari sudut pandang seorang Palestina yang mengalami langsung dampak sistem tersebut.

“Israel dan secara tidak langsung warga Israel, karena mereka selalu disebut sebagai satu-satunya demokrasi di kawasan telah menghancurkan dan merampas semua yang dimiliki keluarga saya.  Mereka melakukan genosida di depan mata dunia, dengan seluruh darah dan kekejamannya, dengan kengerian seperti kiamat, luka yang diwariskan dari generasi ke generasi, dan kerusakan moral bagi seluruh umat manusia,” lanjutnya.

Abulhawa juga menggambarkan perasaan rakyat Palestina berupa rasa sakit, kemarahan, penghinaan, bahkan kebencian, yang bercampur dengan ketidakberdayaan untuk menghentikan penderitaan itu.

Ia menambahkan bahwa ia akan terus menggunakan hak istimewa memiliki suara untuk berbicara lantang bagi mereka yang tak berdaya menghadapi kekerasan negara kolonial.

Mengapa Mamdani dikritik?

Beberapa komentator yang sebelumnya mendukung Mamdani mempertanyakan keputusannya menanggapi laporan media tersebut, karena dianggap justru memperkuat narasi yang tidak jujur.

Aktivis Shaiel Ben-Ephraim bahkan menyebut Mamdani bodoh karena meminta maaf dan memberi penjelasan.

“Bagi kaum Zionis, itu tidak akan pernah cukup. Berdirilah tegak,” kata dia.

Penulis Palestina Mohammed El-Kurd juga mengingatkan bahwa Mamdani sendiri pernah mengatakan ia terjun ke politik karena isu hak-hak Palestina, sehingga wajar jika orang menagih komitmennya.

Craig Mokhiber, mantan pejabat hak asasi manusia PBB, juga meminta Mamdani bersikap tegas dan menyarankan agar ia tidak selalu mengikuti saran para penasihatnya.

“Ketakutan bukanlah dasar yang baik untuk berpolitik di momen sejarah seperti ini,” tulisnya di platform X.

Sementara itu, Abulhawa mengatakan ia tidak secara pribadi marah kepada Mamdani, tetapi berharap kejadian ini menjadi pelajaran.

“Anda menyerah pada kekuatan yang berusaha menggerogoti Anda dan istri Anda yang berbakat dan luar biasa dan mereka akan mencengkeram lebih keras setiap kali Anda meminta maaf atau mengalah. Jika Anda tidak berhati-hati, mereka akan menguras jiwa Anda bahkan sebelum Anda menyadarinya,” kata dia.

Apa konteks yang lebih luas?

Mamdani sebelumnya juga menghadapi gelombang Islamofobia saat meraih kemenangan politiknya yang cepat tahun lalu. Ia kerap dituduh anti-Yahudi karena mengecam kebijakan Israel dan menyebut tindakan Israel di Gaza sebagai “genosida”. Ia sendiri berulang kali menegaskan bahwa ia adalah pemimpin untuk “semua warga New York”.

Namun, selama kampanye ia juga sempat mengecewakan sebagian pendukungnya ketika mengatakan akan “menganjurkan untuk tidak menggunakan” istilah “globalise the intifada”, yang oleh sebagian orang dianggap sebagai bentuk kompromi terhadap tuduhan tak berdasar yang diarahkan kepadanya.

Sejumlah pengamat juga menilai Mamdani menghadapi standar ganda karena pandangan politiknya dan bahkan hubungan tidak langsung keluarganya terus diperiksa secara intens.

Belum lama ini, ia juga harus menjawab pertanyaan mengenai tindakan istrinya yang memberi tanda “suka” pada unggahan media sosial yang memuji perlawanan Palestina setelah serangan 7 Oktober 2023.

Di sisi lain, beberapa anggota parlemen hampir tidak menghadapi konsekuensi atas unggahan yang jelas-jelas bernada Islamofobia terhadap Mamdani.

Senator Republik AS Tommy Tuberville, misalnya, hampir tidak mendapat teguran dari partainya meskipun berulang kali menyerang keyakinan agama Mamdani.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dalam sebuah unggahan di X pekan lalu, Tuberville menanggapi foto Mamdani yang merayakan buka puasa (iftar) dengan menyandingkannya dengan gambar serangan 11 September 2001 terhadap World Trade Center.

“Musuh sudah berada di dalam gerbang,” tulis Tuberville.