Terungkap, Zohran Mamdani Gunakan Al-Qur’an Bersejarah Saat Sumpah Jabatan

Zohran Mamdani, Wali Kota New York terpilih bersama keluarganya
Zohran Mamdani, Wali Kota New York terpilih bersama keluarganya

 Wali Kota terpilih New York City, Zohran Mamdani, mengucapkan sumpah jabatannya Rabu malam jelang Tahun Baru 2026. Dalam proses sumpah jabatannya pada Rabu tengah malam waktu setempat, terungkap bahwa Mamdani menggunakan Al-Qur’an berusia ratusan tahun.

Momen ini menandai pertama kalinya seorang wali kota New York disumpah dengan kitab suci umat Islam, sekaligus menegaskan deretan sejarah baru bagi kota tersebut. Pemilihan Al-Qur’an bersejarah yang digunakan dalam prosesi sumpah jabatan Zohran Mamdani ini menjadi sorotan. Sebab ini mencerminkan keberadaan komunitas Muslim yang telah lama hidup dan berkembang di kota terbesar di Amerika Serikat.

Tiga Al-Qur’an yang Digunakan Mamdani

Melansir laman AP News, dalam prosesi sumpah jabatan di stasiun subway, Mamdani meletakkan tangannya di atas dua Al-Qur’an pertama milik kakeknya dan sebuah Al-Qur’an berukuran kecil yang diperkirakan berasal dari akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19. Al-Qur’an kecil ini merupakan bagian dari koleksi Schomburg Center for Research in Black Culture milik Perpustakaan Umum New York.

Menurut Hiba Abid, kurator studi Timur Tengah dan Islam di perpustakaan tersebut, Al-Qur’an itu melambangkan keberagaman dan luasnya jangkauan komunitas Muslim di New York.

“Ukurannya memang kecil, tapi Al-Qur’an ini menyatukan unsur keimanan dan identitas dalam sejarah New York City,” ujar Abid.

Sementara itu, dalam upacara pelantikan berikutnya di Balai Kota pada hari pertama tahun baru, Zohran Mamdani menggunakan Al-Qur’an milik kakek dan neneknya. Tim kampanye belum memberikan keterangan lebih lanjut mengenai pusaka keluarga tersebut.

Naskah Al-Qur’an yang digunakan berasal dari koleksi Arturo Schomburg, seorang sejarawan kulit hitam keturunan Puerto Rico yang dikenal mendokumentasikan kontribusi global masyarakat keturunan Afrika. Meski tidak diketahui secara pasti bagaimana Schomburg memperoleh Al-Qur’an tersebut, para peneliti meyakini hal itu berkaitan dengan minatnya terhadap hubungan historis antara Islam dan budaya kulit hitam di Amerika Serikat dan Afrika.

Berbeda dengan manuskrip keagamaan mewah yang biasanya dikaitkan dengan kalangan bangsawan atau elite, Al-Qur’an ini tampil sederhana. Sampulnya berwarna merah tua dengan hiasan floral yang minimal, ditulis menggunakan tinta hitam dan merah. Tulisan di dalamnya jelas dan mudah dibaca, menandakan bahwa kitab ini dibuat untuk penggunaan sehari-hari, bukan sekadar pajangan seremonial.

Ciri-ciri tersebut menunjukkan bahwa manuskrip ini ditujukan bagi pembaca biasa, dan justru itulah makna utamanya, menurut Abid.

“Nilai penting Al-Qur’an ini bukan terletak pada kemewahannya, melainkan pada aksesibilitasnya,” jelasnya.

Lantaran  tidak memiliki tanggal maupun tanda tangan penulis, para ahli memperkirakan usia manuskrip ini berdasarkan gaya jilid dan tulisannya. Diperkirakan kitab ini dibuat pada akhir abad ke-18 atau awal abad ke-19, pada masa Kekaisaran Ottoman, di wilayah yang kini mencakup Suriah, Lebanon, Israel, Palestina, dan Yordania.

Abid menambahkan bahwa perjalanan panjang manuskrip ini menuju New York mencerminkan latar belakang Mamdani yang berlapis. Mamdani adalah warga New York keturunan Asia Selatan yang lahir di Uganda, sementara Duwaji memiliki latar belakang Amerika-Suriah.

Identitas dan Kontroversi

Kenaikan pesat seorang sosok Muslim dengan pandangan sosialis-demokrat juga memicu meningkatnya retorika Islamofobia, terutama setelah perhatian nasional tertuju pada pemilihan ini.

Dalam pidato emosional beberapa hari sebelum pemilu, Mamdani mengatakan bahwa sikap bermusuhan tersebut justru membuatnya semakin teguh untuk menunjukkan identitas keimanannya secara terbuka.

“Saya tidak akan mengubah siapa diri saya, apa yang saya makan, atau keyakinan yang dengan bangga saya anut. Saya tidak lagi akan mencari diri saya dalam bayang-bayang. Saya akan menemukannya di tempat yang terang,” ujarnya.

Keputusan menggunakan Al-Qur’an pun menuai kritik baru dari sejumlah kalangan konservatif. Senator AS dari Alabama, Tommy Tuberville, menulis di media sosial, menuliskan ‘musuh ada di dalam gerbang’, sebagai tanggapan atas sebuah artikel berita tentang pelantikan Mamdani.

Council on American-Islamic Relations (CAIR), sebuah organisasi hak sipil, telah menetapkan Tuberville sebagai tokoh ekstremis anti-Muslim berdasarkan pernyataan-pernyataannya di masa lalu.

Reaksi semacam ini bukan hal baru. Pada 2006, Keith Ellison anggota Kongres Muslim pertama juga menuai kecaman dari kalangan konservatif ketika memilih menggunakan Al-Qur’an dalam sumpah seremonialnya.

Setelah pelantikan, Al-Qur’an tersebut akan dipamerkan untuk umum di Perpustakaan Umum New York. Abid berharap perhatian publik terhadap prosesi ini baik yang mendukung maupun yang mengkritik—dapat mendorong lebih banyak orang untuk menjelajahi koleksi perpustakaan yang mendokumentasikan kehidupan Muslim di New York, mulai dari rekaman musik Armenia dan Arab awal abad ke-20 hingga kisah-kisah langsung tentang Islamofobia pasca-serangan 11 September.

“Manuskrip Al Quran ini sejak awal dibuat untuk digunakan oleh orang-orang biasa. Kini, manuskrip tersebut berada di perpustakaan publik, tempat siapa pun bisa melihat dan mempelajarinya,”  kata Abid.