Real Madrid Dipecundangi Getafe, Presiden Florentino Perez Didesak Mundur

Presiden Real Madrid, Florentino Perez
Presiden Real Madrid, Florentino Perez

 Malam yang seharusnya menjadi ajang pembuktian justru berubah menjadi panggung kekecewaan. Kekalahan 0-1 Real Madrid di kandang sendiri dari Getafe bukan sekadar kehilangan tiga poin. Hasil itu memantik kemarahan suporter, mengguncang ruang ganti, dan menyeret nama Presiden klub ke pusaran tekanan.

Di Stadion Santiago Bernabeu, Real Madrid sejatinya datang dengan misi jelas: menjaga jarak dengan Barcelona dalam perburuan gelar La Liga. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Tim berjuluk Los Blancos itu tertahan di angka 60 poin, tertinggal empat angka dari rival abadinya, sementara musim tinggal menyisakan 12 laga. Dalam situasi seperti ini, setiap kesalahan menjadi mahal.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Gol tunggal yang dicetak Facundo Satriano lahir dari kemelut di kotak penalti. Lini belakang Madrid gagal menyapu bola dengan bersih, memberi ruang bagi penyerang Getafe untuk melepaskan tembakan tegas yang tak mampu dibendung kiper tuan rumah. Getafe pun mencatat kemenangan langka di Bernabeu, hasil yang terasa seperti gempa kecil bagi publik ibu kota Spanyol.

Situasi makin runyam di masa tambahan waktu. Franco Mastantuono harus meninggalkan lapangan lebih cepat setelah menerima kartu merah langsung akibat protes keras kepada wasit. Sanksi larangan bermain hampir pasti menanti. Sebelumnya, Dean Huijsen dan Alvaro Carreras juga sudah lebih dulu dipastikan absen karena akumulasi kartu. Artinya, Madrid terancam tampil pincang di laga berikutnya.

Pemain Real Madrid

Seperi dilansir media olahraga Spanyol Diario, Pelatih Alvaro Arbeloa tak mencoba mencari kambing hitam. Ia justru berdiri paling depan menanggung beban. Dalam konferensi pers, ia mengatakan tidak ada pemain yang menyerah dan meminta publik tidak menyalahkan anak asuhnya. Menurutnya, jika tim gagal menang, pelatih adalah pihak pertama yang harus bertanggung jawab.

Arbeloa juga menegaskan perburuan gelar belum berakhir. Ia menyebut targetnya adalah menyapu bersih seluruh poin yang tersisa. Fokus terdekat adalah laga tandang ke Vigo yang wajib dimenangkan. Ia percaya selisih empat poin masih mungkin dikejar, seraya mengingatkan bahwa Real Madrid adalah tim yang terbiasa bangkit dalam tekanan.

Namun optimisme itu tak sepenuhnya menular ke tribune. Sejumlah suporter terdengar meneriakkan tuntutan agar Presiden Florentino Perez mundur dari jabatannya. Sorotan kamera memperlihatkan wajah sang presiden yang tampak muram. Bangku-bangku kosong di beberapa sudut stadion menjadi simbol lain dari kekecewaan yang mengendap.

Krisis belum berhenti di situ. Klub juga mengonfirmasi Kylian Mbappe mengalami keseleo pada lutut kiri. Kondisinya masih terus dipantau tim medis dan belum ada kepastian kapan ia bisa kembali merumput. Arbeloa menegaskan tim tidak akan mengambil risiko terhadap kondisi pemainnya dan keputusan akan ditentukan berdasarkan perkembangan harian.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Absennya Mbappe berpotensi menjadi pukulan tambahan, terlebih Madrid bersiap menghadapi laga besar di Liga Champions melawan Manchester City. Dalam situasi di mana performa domestik sedang goyah, kehilangan bintang utama jelas bukan kabar baik.

Kini pertanyaan besar bukan hanya soal selisih poin dengan Barcelona. Yang dipertaruhkan adalah stabilitas internal, kepercayaan publik, dan mentalitas juara yang selama ini menjadi identitas klub. Real Madrid pernah berkali-kali keluar dari situasi sulit. Namun kali ini, tekanan datang dari berbagai arah sekaligus: hasil di lapangan, disiplin pemain, cedera, hingga suara keras dari tribune sendiri.