Bursa Asia Ngegas Usai Kekhawatiran AI Mereda, Investor Tunggu Data Inflasi Tiongkok

Papan indeks di bursa Asia
Papan indeks di bursa Asia

Laporan penjualan ritel AS pada bulan Desember 2025 menunjukkan bahwa pengeluaran konsumen stagnan. Hasil ini melesat dari prediksi para ekonom yang memperkirakan kenaikan bulanan sebesar 0,4 persen. 

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Investor di kawasan Asia akan mencrermati data inflasi Tiongkok pada bulan Januari 2026. Inflasi diproyeksi turun menjadi 0,4 persen dari 0,8 persen pada bulan Desember 2025.

Sementara itu, indeks harga produsen Tiongkok diperkirakan akan tetap berada di wilayah deflasi untuk bulan ke-40 berturut-turut. Tepatnya di level minus 1,5 persen dibandingkan dengan minus 1,9 persen pada bulan sebelumnya. 

Ilustrasi bursa efek.

Dikutip dari CNBC Internasional, indeks Kospi Korea Selatan melambung 0,18 persen sekaligus mencatatkan kenaikan hari ketiga berturut-turut. Indeks Kosdaq yang terdiri dari saham-saham berkapitalisasi kecil membukukan lonjakan sebesar 0,33 persen. 

Di Australia, indeks S&P/ASX 200 menguat 0,92 persen di awal perdagangan. Indeks Hang Seng Hong Kong berjangka naik ke posisi 27.260 dari sebelumnya di level 27.183,15.

Bursa Jepang tutup karena hari libur nasional.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Bursa AS menunjukkan pergerakan fluktuatif. Indeks S&P 500 melemah 0,33 persen dan Nasdaq Composite anjlok 0,59 persen lantaran kekhawatiran tentang AI melanda Wall Street. 

Indeks Dow Jones Industrial Average menguat 0,1 persen dan mencatat rekor penutupan tertinggi di angka 50.188,14.

Indeks acuan ini mencetak rekor intraday ketiga berturut-turut di awal perdagangan sebagai reli lanjutan setelah berhasil melampaui level 50.000 untuk pertama kalinya pada pekan lalu.