Dampak Orangtua Selalu Membela Anak yang Salah, Berkaca dari Kasus Kepsek Tampar Murid

Kepsek tampar murid, anak melanggar aturan, orangtua bela anak, orangtua membela anak, orangtua bela anak yang salah, selalu membela anak, anak selalu merasa benar, Dampak Orangtua Selalu Membela Anak yang Salah, Berkaca dari Kasus Kepsek Tampar Murid

Tindakan orangtua siswa kelas XII bernama Tri Indah Alesti menuai reaksi negatif di kalangan warganet karena melaporkan Kepala SMAN 1 Cimarga Dini Fitria, Jumat (10/10/2025).

Tri melaporkan Dini karena diduga menampar anaknya, ILP (17), saat ditegur karena ketahuan merokok di sekitar area sekolah yang berlokasi di Kabupaten Lebak, Banten, ini.

Laporan ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polres Lebak ini memang sudah dicabut pada Kamis (16/10/2025). Namun, warganet masih mengomentari tindakan Tri yang membela anaknya, meskipun ILP melanggar aturan sekolah.

Lantas, apa dampak orangtua selalu membela anaknya meskipun telah melakukan kesalahan?

Dampak orangtua membela anak yang salah

1. Tidak memahami norma kesusilaan

Kepsek tampar murid, anak melanggar aturan, orangtua bela anak, orangtua membela anak, orangtua bela anak yang salah, selalu membela anak, anak selalu merasa benar, Dampak Orangtua Selalu Membela Anak yang Salah, Berkaca dari Kasus Kepsek Tampar Murid

Dampak orangtua yang selalu membela anaknya beragam menurut psikolog, salah satunya anak akan merasa dirinya selalu benar.

Norma kesusilaan adalah aturan moral yang berasal dari hati nurani seseorang tentang apa yang benar dan salah.

Ketika orangtua selalu membela perilaku yang menyalahi aturan, anak akan tumbuh dengan tidak memahami norma kesusilaan.

“Anak jadi tidak memahami norma karena tidak pernah ditanamkan mana yang benar dan salah karena selalu dibela,” ujar psikolog klinis anak dan remaja di Klinik Sajiva RSKJ Dharmawangsa, Mira Damayanti Amir, S.Psi., saat dihubungi pada Kamis (16/10/2025).

Ketika berbuat salah, terutama karena menyalahi peraturan sekolah, anak seharusnya mendapatkan sanksi dan peringatan dari orangtua.

Inilah mengapa saat anak ditegur atau dimarahi guru karena melanggar aturan, orangtua sebaiknya mengajak anak untuk berdiskusi dua arah sepulang sekolah.

Diskusi mencakup pemahaman mendalam terkait apa yang anak lakukan, dan mengapa hal tersebut dianggap salah dan melanggar peraturan sekolah.

Dengan demikian, anak tidak tumbuh dengan perilaku menghalalkan segala cara agar sukses, termasuk berbuat curang.

2. Anak selalu menganggap dirinya benar

Kepsek tampar murid, anak melanggar aturan, orangtua bela anak, orangtua membela anak, orangtua bela anak yang salah, selalu membela anak, anak selalu merasa benar, Dampak Orangtua Selalu Membela Anak yang Salah, Berkaca dari Kasus Kepsek Tampar Murid

Dampak orangtua yang selalu membela anaknya beragam menurut psikolog, salah satunya anak akan merasa dirinya selalu benar.

Psikolog klinis sekaligus pendiri lembaga Personal Growth, Ratih Ibrahim, M.Psi., menambahkan bahwa anak bisa selalu menganggap dirinya benar, meskipun nyatanya bersalah.

“Anak bisa salah menerima bahwa dirinya tidak boleh bersalah, dirinya selalu benar. Bisa saja dia tumbuh menjadi pribadi yang semena-mena,” kata Ratih, Sabtu (18/10/2025).

Saat dibela, anak mungkin merasa senang karena orangtuanya berada di pihaknya. Padahal, membela anak dengan alasan kasih sayang, justru dapat menyesatkan mereka.

Ketika orangtua tidak membela anak yang melanggar aturan, mereka bisa menegakkan pendidikan moral, akhlak, dan budi pekerti, agar anak tumbuh dengan integritas dan menghormati aturan yang ditegakkan di mana pun ia berada.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com.