Dunia Maya Bak Pedang Bermata Dua, Simbiosis Kritik dan Ideologi Radikal Sangat Berbahaya

Ilustrasi media sosial.
Ilustrasi media sosial.

Dunia maya disebut sebagai pedang bermata dua. Pasalnya, apabila dimanfaatkan untuk menyebarkan narasi ekstrem maka hal itu dapat mengancam nilai demokrasi di Indonesia. 

Hal tersebut disampaikan oleh seorang eks Narapidana Terorisme (Napiter) yang enggan disebutkan namanya dalam sebuah tulisan yang diterima awak media, Selasa 7 Oktober 2025.

"Dunia maya adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, ia membuka ruang partisipasi rakyat yang belum pernah ada sebelumnya. Di sisi lain, ia bisa berubah menjadi pabrik narasi ekstrem yang mengancam demokrasi. Kritik yang sehat adalah hak setiap warga negara," kata eks napiter tersebut sebagaimana dilansir. 

Menurutnya, ketika dunia maya dimanfaatkan oleh buzzer dan clipper kemudian sejalan dengan idiologi radikal maka hal tersebut sangat berbahaya. 

"Namun, ketika kritik itu difabrikasi oleh buzzer, diarahkan oleh clipper, diperkuat oleh algoritma, dan bertemu dengan ideologi radikal, ia bisa menjadi bahan bakar yang berbahaya," ujarnya. 

Dalam hal ini, katanya, kritik publik merupakan elemen vital demokrasi. Tanpa kritik, pemerintah akan berjalan tanpa koreksi. 

Namun, di era digital, kritik tidak lagi sederhana. Jumlahnya melimpah, ragamnya beragam, dan sumbernya sulit diverifikasi. Masalahnya, viralitas tidak selalu mencerminkan relevansi atau kebenaran.

"Fenomena buzzer sering disebut sebagai astroturfing, yaitu gerakan yang seolah berasal dari masyarakat, padahal direkayasa oleh pihak tertentu. Ketika publik mengeluh soal harga beras, misalnya, buzzer bisa memperkuat narasi bahwa pemerintah tidak peduli rakyat. Keresahan yang wajar akhirnya dibelokkan menjadi delegitimasi politik. Dalam konteks radikalisasi, buzzer tanpa sadar bisa membuka pintu. Narasi 'pemerintah zalim' atau 'pemerintah gagal' yang terus diperkuat menciptakan ruang kosong. Ruang inilah yang kemudian diisi oleh ideologi radikal dengan tawaran solusi ekstrem," paparnya. 

"Selain buzzer, ada pula aktor lain, 'clipper'. Jika buzzer berfungsi memperbesar, clipper berfungsi memilih dan menyaring isu. Mereka menentukan topik mana yang diangkat dan mana yang diabaikan," ucapnya.

Menurutnya, meski dunia maya rawan menjadi mesin fabrikasi radikalisme, namun tetap penting sebagai ruang demokrasi. Tantangannya adalah menjaga agar kritik sehat tidak dibajak oleh narasi radikal.

Ada beberapa langkah yang perlu diperkuat, di antaranya, melakukan literasi digital yang masif, dimana targetnya adalah masyarakat harus mampu membedakan kritik autentik dari narasi fabrikasi. 

Program literasi digital perlu diperluas, bukan hanya soal hoaks, tetapi juga framing dan manipulasi. Pemerintah harus aktif menjelaskan kebijakan dengan bahasa yang mudah dipahami dan transparan.

"Karena komunikasi publik yang buruk hanya akan memperbesar ruang fabrikasi. Para perusahaan platform digital harus turut bertanggungjawab dengan melakukan pengawasan terhadap algoritmanya. Karena konten ekstrem harus ditangani, tetapi tanpa mematikan kebebasan berekspresi. Akademisi dan media juga harus turut berperan dengan menulis analisis akademis dalam bahasa populer agar publik bisa memahami kerumitan fenomena ini. Media juga harus menjalankan fungsi klarifikasi," tuturnya.

Oleh karenaya, Ia menyebut menjadi tugas bersama menjaga batas tipis itu, agar masyarakat dapat membedakan kritik tulus dari fabrikasi, memisahkan keresahan wajar dari radikalisasi, dan memastikan demokrasi digital tetap hidup.

"Dunia maya seharusnya menjadi ruang untuk memperkuat bangsa, bukan untuk meruntuhkannya," katanya.