Dokter Urologi Sebut Vape Turunkan Kualitas Sperma, Mengancam Peluang Hamil

sperma, vape, produksi sperma, Dokter Urologi Sebut Vape Turunkan Kualitas Sperma, Mengancam Peluang Hamil, Seperti rokok, vape mengandung zat yang merusak, Operasi saja tidak cukup, Sperma perlu waktu untuk membentuk ulang, Kebiasaan kecil bisa berdampak besar

Kebiasaan menggunakan vape dapat menurunkan kualitas sperma dan menghambat peluang kehamilan, meski pria sudah menjalani operasi untuk memperbaiki gangguan kesuburan.

Peringatan tersebut disampaikan dokter spesialis urologi RS Windu Husada, dr. I Nyoman Palgunadi, Sp.U, melalui akun Threads miliknya @dokterspesialisurologi, yang dikutip Kompas.com dengan izin, Kamis (26/2/2026).

Dalam unggahannya, Palgunadi menceritakan pengalaman menangani pasien pria yang telah menjalani operasi varikokel, tetapi hasil pemeriksaan sperma belum menunjukkan perbaikan yang diharapkan.

Setelah ditelusuri, pasien tersebut ternyata masih menggunakan vape.

Seperti rokok, vape mengandung zat yang merusak

Menurut Palgunadi, masih banyak pria yang menganggap vape lebih aman dibanding rokok biasa.

“Vape kan nggak sejahat rokok, dok,” tulisnya menirukan pernyataan pasien.

Namun, ia menegaskan bahwa anggapan tersebut tidak tepat.

“Uapnya tetap mengandung nikotin dan zat oksidatif. Itu bisa ganggu pembentukan sperma,” tulis dr. Palgunadi.

Nikotin dan zat oksidatif dapat merusak sel tubuh, termasuk sel yang berperan dalam pembentukan sperma. Akibatnya, jumlah sperma bisa berkurang, geraknya melambat, dan kualitasnya menurun.

Operasi saja tidak cukup

sperma, vape, produksi sperma, Dokter Urologi Sebut Vape Turunkan Kualitas Sperma, Mengancam Peluang Hamil, Seperti rokok, vape mengandung zat yang merusak, Operasi saja tidak cukup, Sperma perlu waktu untuk membentuk ulang, Kebiasaan kecil bisa berdampak besar

Ilustrasi nyeri selangkangan. Dokter urologi mengingatkan bahwa kebiasaan vape dapat menurunkan kualitas sperma, dan perbaikannya baru bisa terlihat sekitar tiga bulan setelah berhenti.

Operasi varikokel dilakukan untuk memperbaiki pembuluh darah yang melebar di sekitar testis agar produksi sperma menjadi lebih baik.

Namun, Palgunadi menekankan bahwa hasil operasi bisa tidak maksimal jika kebiasaan yang merusak masih dilakukan.

“Bukan percuma. Tapi seperti memperbaiki AC lalu tetap nyalain kompor di ruangan,” tulisnya.

Artinya, tindakan medis perlu diikuti perubahan gaya hidup agar hasilnya optimal.

Sperma perlu waktu untuk membentuk ulang

Palgunadi menjelaskan bahwa sperma tidak langsung membaik setelah berhenti vape.

“Sperma butuh sekitar 3 bulan untuk regenerasi. Masih sangat mungkin membaik,” tulis dr. Palgunadi.

Proses pembentukan sperma memang memerlukan waktu sekitar dua hingga tiga bulan.

Karena itu, pria yang ingin memiliki anak disarankan menghentikan kebiasaan yang dapat mengganggu kesuburan sejak dini.

Kebiasaan kecil bisa berdampak besar

Di akhir unggahannya, Palgunadi mengingatkan bahwa banyak pria ingin menjadi ayah, tetapi belum siap meninggalkan kebiasaan yang dapat merusak kesuburan.

“Banyak pria mau punya anak. Tapi belum mau lepas kebiasaan kecil yang mengganggu. Kadang bukan tubuh yang belum siap jadi ayah. Tapi kebiasaan yang belum siap ditinggalkan,” tulisnya.

Pesan tersebut menjadi pengingat bahwa kesuburan tidak hanya dipengaruhi tindakan medis, tetapi juga kebiasaan sehari-hari.

Menghentikan vape bisa menjadi langkah penting bagi pria yang sedang merencanakan kehamilan bersama pasangan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang