Cedera Main Padel, Dokter Sebut Siku dan Lutut Paling Rentan

Cedera Main Padel, Dokter Sebut Siku dan Lutut Paling Rentan

Olahraga padel semakin populer di berbagai kalangan karena dinilai menyenangkan sekaligus menantang.

Permainan yang memadukan unsur tenis dan squash ini memang terlihat sederhana, tetapi tetap memiliki risiko cedera jika dilakukan tanpa teknik yang tepat.

Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi, dr. Ega Jaya, Sp.KFR, AIFO-K, mengungkapkan bahwa ada beberapa bagian tubuh yang paling sering mengalami keluhan pada pemain padel.

Berdasarkan pengalaman klinisnya, cedera paling banyak terjadi pada area siku dan lutut.

“Dari pengalaman pasien yang datang sama saya, kurang lebih rekam jejaknya main padel itu dua, di siku dan lutut,” jelas dr. Ega dalam peluncuran OMRON TENS, di Jakarta Pusat, Rabu (4/3/2026).

Menurut dia, karakter permainan padel yang mengandalkan gerakan cepat dan perubahan arah mendadak membuat beberapa sendi bekerja lebih keras.

Jika teknik bermain kurang tepat atau tubuh belum siap menerima beban aktivitas, risiko cedera dapat meningkat.

Cedera lutut akibat gerakan mendadak

Salah satu bagian tubuh yang sering mengalami keluhan saat bermain padel adalah lutut. Hal ini berkaitan dengan pola gerakan dalam permainan yang banyak melibatkan perubahan posisi secara cepat.

“Lutut, karena memang banyak gerakan-gerakan yang mendadak tiba-tiba menekuk lutut dan berdiri. Hal ini bikin beban di bantalan lutut makin besar,” kata dr. Ega.

Cedera Main Padel, Dokter Sebut Siku dan Lutut Paling Rentan

Olahraga padel saat sedang berpuasa dalam rangkaian acara peluncuran Launching OMRON New Product: Move Better, Recover Faster with OMRON TENS, di House of Padel, Jakarta Pusat, Rabu (4/3/2026).

Dalam permainan padel, pemain kerap melakukan gerakan menekuk lutut untuk menjangkau bola rendah, kemudian langsung berdiri atau berlari ke arah lain. Gerakan berulang seperti ini membuat sendi lutut bekerja lebih keras dari biasanya.

Jika dilakukan dalam waktu lama tanpa persiapan fisik yang memadai, bantalan lutut dapat menerima tekanan yang cukup besar.

Kondisi tersebut dapat memicu rasa nyeri, terutama pada orang yang jarang berolahraga atau baru mulai mencoba padel.

Oleh karenanya, pemanasan sebelum bermain menjadi hal yang penting. Latihan peregangan dan penguatan otot sekitar lutut dapat membantu menyiapkan sendi agar lebih siap menghadapi beban aktivitas di lapangan.

Risiko tennis elbow pada siku

Selain lutut, keluhan juga sering muncul pada bagian siku. Pada banyak kasus, nyeri yang dialami pemain padel dikenal sebagai tennis elbow.

“Kalau di siku itu biasanya dikenalnya tennis elbow. Jadi nyeri di bagian siku bagian luar, karena biasanya karena overuse dan beban berlebih yang harus ditanggung sama siku,” ujar dr. Ega.

Kondisi ini terjadi karena siku menerima beban berulang saat pemain memukul bola.

Dalam padel, pukulan dilakukan dengan frekuensi tinggi, sehingga otot dan tendon di sekitar siku dapat mengalami tekanan yang terus-menerus.

Apabila dilakukan tanpa teknik yang tepat atau dalam durasi yang terlalu lama, bagian tersebut dapat mengalami kelelahan otot hingga memicu rasa nyeri.

Teknik bermain sangat berpengaruh

Dr. Ega menjelaskan, risiko cedera pada siku juga berkaitan erat dengan teknik bermain. Padel melibatkan koordinasi berbagai bagian tubuh saat melakukan pukulan.

“Gerakan padel itu fokusnya pada gerakan tangan, siku, bahu, dan torso. Kalau di beberapa bagian itu lemah atau tidak sesuai teknik, maka bebannya akan lebih banyak di siku,” jelasnya.

Jika kekuatan otot di bahu atau bagian tubuh lainnya tidak optimal, beban gerakan dapat berpindah ke siku. Hal ini membuat sendi tersebut bekerja lebih berat dari seharusnya.

“Alhasil siku jadi overused dan bisa berpotensi cedera jika terlalu dipaksakan,” tambahnya.

Untuk mengurangi risiko tersebut, pemain dianjurkan mempelajari teknik dasar yang benar serta melakukan latihan penguatan otot.

Dengan demikian, distribusi beban gerakan dapat lebih seimbang dan tidak hanya bertumpu pada satu bagian tubuh.

Padel memang menawarkan pengalaman olahraga yang menyenangkan dan kompetitif.

Seperti aktivitas fisik lainnya, olahraga ini tetap memerlukan persiapan yang baik agar manfaat kebugaran bisa diperoleh tanpa meningkatkan risiko cedera.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang