Mengenal Virus Nipah: Gejala, Cara Penularan, dan Alasan WHO Waspada
Virus Nipah kembali menjadi perhatian setelah sejumlah kasus baru dilaporkan di India.
Meski demikian, virus ini bukanlah patogen baru dalam dunia virologi. Virus Nipah pertama kali diidentifikasi pada 1998 saat terjadi wabah penyakit di kalangan peternak babi di Malaysia dan Singapura.
Sejak saat itu, virus yang berasal dari spesies kelelawar buah ini terus menjadi ancaman kesehatan serius di berbagai negara, termasuk India dan kawasan Asia Selatan.
Di Indonesia, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pernah mengeluarkan imbauan kewaspadaan terkait virus Nipah pada 2023.
Hal ini dilakukan sebagai langkah antisipasi mengingat mobilitas global yang tinggi serta potensi penularan lintas negara.
Berdasarkan informasi dari laman resmi Kemenkes, virus Nipah memiliki masa inkubasi antara 4 hingga 14 hari sebelum gejala klinis muncul.
Apa saja gejala virus Nipah yang perlu diwaspadai?
Setelah masa inkubasi, pasien dapat mengalami gejala ringan hingga berat. Pada sebagian kasus, infeksi virus Nipah bahkan dapat mengancam jiwa. Gejala awal yang umum muncul antara lain:
- Demam
- Sakit kepala
- Batuk
- Sakit tenggorokan
- Nyeri otot
- Sesak napas
- Muntah
- Kesulitan menelan.
Pada kondisi tertentu, virus Nipah dapat menyerang sistem saraf pusat dan menyebabkan peradangan otak atau ensefalitis. Kondisi ini dapat memicu gejala lanjutan seperti:
- Kantuk berlebihan
- Sulit berkonsentrasi
- Disorientasi
- Perubahan suasana hati yang signifikan
Jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat, infeksi virus Nipah dapat berujung pada kematian.
Oleh karena itu, masyarakat yang mengalami gejala mengarah pada infeksi Nipah dianjurkan segera berkonsultasi dengan tenaga medis.
Bagaimana cara penularan virus Nipah terjadi?
Menurut World Health Organization (WHO), virus Nipah berasal dari kelelawar buah yang berperan sebagai reservoir alami.
Virus ini tidak menimbulkan penyakit pada kelelawar, tapi dapat menular ke hewan lain seperti babi.
Penularan antarsatwa ini kerap dipicu oleh penebangan hutan dan kerusakan habitat alami yang memaksa kelelawar berpindah ke area permukiman dan peternakan.
Dari hewan ke manusia, virus Nipah dapat menyebar melalui kontak langsung dengan cairan tubuh hewan yang terinfeksi.
Selain itu, konsumsi daging hewan yang terpapar virus dan tidak dimasak hingga matang juga berisiko menularkan infeksi.
Tak hanya itu, virus Nipah juga dapat menular dari manusia ke manusia. Penularan ini biasanya terjadi melalui kontak erat dengan pasien terinfeksi, terutama ketika terdapat paparan cairan tubuh seperti air liur.
Seberapa mematikan virus Nipah?
WHO mengklasifikasikan virus Nipah sebagai patogen berpotensi pandemi. Dikutip dari The Independent, tingkat kematian akibat infeksi virus Nipah berkisar antara 40 hingga 75 persen, tergantung pada wabah dan varian virus yang terlibat.
Badan Keamanan Kesehatan Inggris juga mencatat bahwa sebagian pasien yang selamat dapat mengalami dampak neurologis jangka panjang, seperti kejang berulang atau perubahan kepribadian.
Dalam kasus yang jarang terjadi, ensefalitis bahkan dilaporkan dapat kambuh berbulan-bulan atau bertahun-tahun setelah infeksi awal akibat reaktivasi virus.
Tingginya angka kematian, kemampuan penularan antarmanusia, serta belum tersedianya vaksin atau pengobatan spesifik membuat virus Nipah berpotensi memicu krisis kesehatan global.
Kondisi ini mendorong banyak negara untuk meningkatkan sistem surveilans dan kesiapsiagaan dini.
Bagaimana cara mencegah penularan virus Nipah?
Untuk menekan risiko penularan, sejumlah langkah pencegahan dapat dilakukan, antara lain:
- Menghindari kontak langsung dengan hewan berisiko, termasuk kelelawar dan hewan ternak
- Mencuci sayur dan buah sebelum dikonsumsi
- Menggunakan alat pelindung diri saat membersihkan kotoran atau urine hewan
- Rutin mencuci tangan dengan sabun dan air bersih
- Memastikan daging hewan dimasak hingga matang dan tidak mengonsumsi daging mentah
Pada awal pekan ini, otoritas kesehatan India mengonfirmasi tiga kasus baru virus Nipah. Ketiga pasien tersebut merupakan tenaga kesehatan yang berprofesi sebagai dokter, perawat, dan staf medis.
Sebelumnya, dua kasus positif juga dilaporkan pada tenaga kesehatan di sebuah rumah sakit swasta di Barasat, dekat Kolkata.
Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "".
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang