Ramai soal Istilah Kapitil Jadi Lawan Kata Kapital, Ini Penjelasan Badan Bahasa

kapitil, kapital, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Ramai soal Istilah Kapitil Jadi Lawan Kata Kapital, Ini Penjelasan Badan Bahasa

Istilah “kapitil”, lawan kata dari kapital dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), sedang ramai diperbincangkan oleh warganet di media sosial.

Berdasarkan unggahan akun Instagram @pan**** pada Minggu (4/1/2026), kapitil merujuk pada huruf kecil atau non-kapital, seperti a, b, c, dan seterusnya.

Warganet pun memberikan beragam respons terkait munculnya istilah kapitil. 

Sebagian menganggapnya sebagai candaan, sementara yang lain mengaku baru mengetahui istilah ini.

Guru : tolong tulis semua yang ada di papan dengan menggunakan huruf kapitil (kok rasanya ga ada wibawa ya?),” kata salah satu warganet.

Mas pass wifinya apa? semangat terus kapitil semua kak,” seloroh akun @bab***, Selasa (6/1/2026).

Penjelasan BPP Bahasa soal Kata Kapitil dalam KBBI

Sekretaris Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Ganjar Harimansyah buka suara terkait kata kapitil yang sedang ramai dibahas warganet di media sosial.

Ia menjelaskan bahwa kata kapitil merupakan varian cakapan dari nonkapital yang sudah ada. 

Kata-kata informal tersebut memiliki padanannya dalam bentuk baku dan dicatat dalam KBBI karena penggunaannya cukup banyak. 

“Untuk jenis usulan seperti ini, tim editor akan mengecek penggunaannya dan memastikan apakah kata tersebut perlu penjelasan lebih lanjut, misalnya dengan menambahkan label ragam penggunaan atau keterangan tambahan dalam definisi dan contoh,” ujar Ganjar dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Rabu (7/1/2026).

“Usulan entri baru yang masuk sangat beragam, termasuk kata-kata baru hasil kreativitas pengguna bahasa. Misalnya, kata galgah yang mengandung tiruan bunyi seperti orang yang lega dari hausnya, sebagai varian cakapan dari kata palum. Dengan beranalogi dari pasangan kata kerakal-kerikil, gumpal-gumpil, dibentuklah pasangan kapital-kapitil,” tambahnya.

Ganjar menerangkan, dalam praktik leksikografi modern, sebuah bentuk yang berpotensi menjadi kata baru terlebih dahulu dikumpulkan buktinya melalui data pemakaian (misalnya korpus, media massa, dan jejak digital), lalu dinilai sebaran serta kestabilan maknanya pada ragam tulis dan lisan. 

Frekuensi kemunculan memang penting, tetapi penentu utamanya ialah pola penggunaan yang berulang, konsisten, dan dapat dipertanggungjawabkan konteksnya. 

Sesudah itu, editor memeriksa nilai rasa dan risiko penafsiran sosial-budaya, kemudian menetapkan informasi pemakaian (label ragam, catatan penggunaan, rujuk-silang bentuk standar) sebelum entri melewati tahap penelaahan redaksional dan validasi. 

Terkait kata kapitil, jejak kemunculan yang disebut telah mencapai 6.440 pencarian di KBBI Daring dalam minggu ini tetap perlu ditelaah pada tingkat kalimat.

Hal tersebut perlu dilakukan untuk memastikan fungsi, makna, dan kelazimannya, sekaligus menakar apakah pemahaman dan nilai rasa tertentu membuat kata itu diterima secara luas atau terbatas pada komunitas dan situasi tertentu. 

Tantangan lainnya adalah bagaimana suatu kata bisa “aman” dari nilai rasa negatif yang dipengaruhi oleh latar belakang sosial dan budaya dari si penutur. 

“Satu kata dapat dianggap bernilai rasa negatif oleh penutur yang lain, dan begitu pula sebaliknya,” kata Ganjar.

“Jadi, sebuah kata bisa masuk KBBI jika memenuhi syarat utama, yakni unik, eufonik (enak didengar), sesuai kaidah bahasa Indonesia, tidak berkonotasi negatif, dan sering dipakai (frekuensi dan jangkauan luas) di masyarakat,” sambungnya.

Menurut Ganjar, kata-kata ini biasanya berasal dari bahasa daerah atau asing yang populer dan mengisi kekosongan makna (leksikal) dalam bahasa Indonesia. 

Pengusulan dari masyarakat ini merupakan wujud dari partisipasi semesta dalam memperkaya kosakata bahasa Indonesia.

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang