Langsung Lapor Prabowo, Gubernur BI Ungkap 2 Alasan Rupiah Melemah

Gubernur BI, Perry Warjiyo, Konferensi Pers Hasil Rapat Berkala KSSK IV-2025
Gubernur BI, Perry Warjiyo, Konferensi Pers Hasil Rapat Berkala KSSK IV-2025

 Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo melaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto terkait melemahnya rupiah di tengah kondisi perekonomian saat ini. Ia mengungkapkan ada dua alasan nilai tukar rupiah merosot tajam.

"Tadi dibahas dan mendapatkan arahan mengenai nilai tukar, bahwa yang pertama nilai tukar sekarang itu undervalue. Undervalue dan ke depan kita yakini akan stabil dan menguat," kata Perry dalam konferensi pers di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa, 5 Mei 2026.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Ilustrasi rupiah melemah.

Ia menjelaskan bahwa pertumbuhan ekonomi 5,61 persen di kuartal I - 2026, inflasi dalam kondisi rendah, cadangan devisa kuat, dan kredit yang tumbuh tinggi, seharusnya menjadi dasar untuk menunjukan Rupiah akan stabil dan menguat. 

Namun, diakui bahwa dalam jangka pendek ini ada tekanan terhadap nilai tukar hingga saat ini menembus ke level Rp 17.400 per US$. 

"Sebabnya ada dua yaitu faktor global, dan kemudian pada faktor musiman," ucap Perry. 

Dia menjelaskan faktor global yang dimaksud harga minyak yang  tinggi, suku bunga Amerika Serikat yang meningkat, imbal hasil pada obligasi yield US Treasury 10 tahun yang tinggi hingga 4,47 persen, kemudian mata uang Dollar yang mengalami penguatan. 

"Dan pak Menko (Perekonomian) tadi mengatakan terjadinya pelarian modal dari emerging market termasuk Indonesia," kata Perry. 

"April, Mei, Juni ini memang permintaan terhadap dolarnya tinggi, ada untuk pembayaran repatriasi dividen, ada pembayaran utang, dan juga untuk jamaah haji. Tapi Rupiah adalah undervalue dan ke depan akan stabil dan cenderung menguat. Itu nomor satu," imbuhnya.

Diketahui, Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat pada Selasa pagi tercatat melemah 11 poin atau 0,07 persen menjadi Rp17.405 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.394 per dolar AS.

Merespons hal tersebut, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menjelaskan sejumlah langkah pemerintah untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan dinamika global. Antara lain dilakukan melalui penguatan kerja sama pertukaran mata uang antarnegara (swap currency) serta diversifikasi instrumen pembiayaan negara.

“Kita sudah mempersiapkan dengan Bank Indonesia terkait swap currency dengan China, Jepang, Korea, dan negara lain,” kata Airlangga di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Selasa, 5 Mei 2026.

Ilustrasi rupiah.

Ilustrasi rupiah.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Dia menjelaskan pemerintah juga menyiapkan strategi pembiayaan melalui penerbitan surat berharga dalam berbagai mata uang. Langkah tersebut bertujuan memperkuat likuiditas dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

“Ke depan kita juga akan terus mempersiapkan komposisi terkait dengan tingkat hutang yang kita bisa, surat berharga yang kita bisa terbitkan yang sifatnya seperti dari China, ataupun dari Yen (Jepang) itu untuk menjaga tekanan terhadap dolar AS,” ujarnya.