Identifikasi Korban Kecelakaan Pesawat di Pangkep, Mengapa Jenazah Pria Lebih Sulit Teridentifikasi?

Gunung Bulusaraung, Identifikasi Korban Kecelakaan Pesawat di Pangkep, Mengapa Jenazah Pria Lebih Sulit Teridentifikasi?

Proses identifikasi korban kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan (Sulsel), menghadapi tantangan berat.

Hingga Rabu (21/1/2026) malam, Tim Disaster Victim Identification (DVI) Biddokkes Polda Sulsel masih terus berupaya memastikan identitas jenazah korban pertama yang berjenis kelamin pria.

Kondisi ini kontras dengan identifikasi korban kedua, Florencia Lolita Wibisono, yang berhasil dipastikan dalam waktu singkat.

Faktor Medan Ekstrem dan Kondisi Jenazah

Perbedaan durasi identifikasi ini dipicu oleh kondisi fisik jenazah saat tiba di Rumah Sakit Bhayangkara Makassar. Korban pria tersebut ditemukan pada Minggu (18/1/2026) di dasar jurang sedalam 200 meter.

Proses evakuasi dari Gunung Bulusaraung berlangsung dramatis karena medan yang hampir tegak lurus dan cuaca ekstrem. Jenazah baru tiba di Makassar pada Rabu pagi pukul 08.54 Wita setelah melalui perjalanan panjang yang berisiko.

Kepala Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Kabid Dokkes) Polda Sulsel, Kombes Pol dr Muhammad Haris, menjelaskan bahwa lamanya proses evakuasi secara tidak langsung memengaruhi kondisi biologis jenazah.

"Dalam identifikasi korban, ada dua metode yang kami gunakan, yaitu metode primer dan metode sekunder," ujar Haris di Kantor Biddokkes Polda Sulsel, Rabu.

Metode Identifikasi: Sidik Jari vs DNA

Haris memaparkan bahwa identifikasi cepat bisa dilakukan jika indikator primer seperti sidik jari, profil gigi, atau DNA dapat terbaca dengan jelas.

Pada kasus Florencia Lolita Wibisono, sidik jarinya masih dalam kondisi baik sehingga tim Pusident Mabes Polri dapat memverifikasi identitasnya hanya dalam hitungan jam.

Namun, untuk jenazah pria yang ditemukan di kedalaman berbeda, tim menghadapi kendala teknis.

"Kalau sidik jari masih bisa diperiksa dengan baik, identifikasi bisa dilakukan lebih cepat. Namun jika sidik jari dan profil gigi sulit diperoleh, maka pemeriksaan DNA harus dilakukan dan itu membutuhkan waktu yang tidak singkat," jelasnya.

Selain metode primer, tim DVI juga mengandalkan metode sekunder sebagai pembanding, yang meliputi:

  • Data Medis: Rekam medis korban semasa hidup.
  • Properti: Pakaian atau barang pribadi yang melekat pada tubuh.
  • Data Ante Mortem: Ciri khusus yang dilaporkan oleh pihak keluarga.

Kejar Ketepatan, Bukan Kecepatan

Meski masyarakat menantikan kepastian, Kombes Pol Muhammad Haris menegaskan bahwa Polri tidak menetapkan target waktu. Prioritas utama adalah validitas data agar tidak terjadi kesalahan dalam penyerahan jenazah kepada keluarga.

"Kami tidak mengejar kecepatan, tetapi ketepatan. Identifikasi ini harus benar-benar pasti karena menyangkut kepastian dan hak keluarga korban," tegas Haris.

Ia juga menambahkan bahwa perbedaan lokasi penemuan, di mana ada korban yang jatuh di kedalaman 400 meter dan lainnya di 200 meter, sangat memengaruhi tingkat kerusakan fisik jenazah akibat benturan maupun faktor alam.

Hingga saat ini, proses pencocokan data profil gigi dan indikator medis lainnya masih terus dilakukan di RS Bhayangkara Makassar sesuai standar internasional DVI.

Artikel ini telah tayang di Tribun-Timur.com dengan judul Dibanding Florencia, Identifikasi Jenazah Pertama Korban Pesawat ATR 42-500 Jauh Lebih Sulit

Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang