Hujan Hitam Turun di Iran Usai Serangan Israel, Ilmuwan Peringatkan Dampak Serius Bagi Kesehatan
Fenomena hujan hitam yang turun selama beberapa hari di Tehran menjadi perhatian para ilmuwan. Mereka memperingatkan bahwa hujan tersebut berpotensi menimbulkan dampak jangka panjang bagi kesehatan manusia maupun lingkungan.
Hujan hitam yang melanda Iran dalam beberapa hari terakhir ini terjadi setelah serangan udara Israel terhadap sejumlah fasilitas minyak di negara itu yang memicu kebakaran besar pada Sabtu lalu.
Menurut organisasi pemantau lingkungan konflik Conflict and Environment Observatory (CEOBS) yang berbasis di Inggris, empat fasilitas minyak utama menjadi sasaran serangan, yaitu depot minyak di Karaj, Shehran, dan Aghdasiyeh, serta kilang minyak di Tehran. Kilang di Teheran sendiri memiliki kapasitas pengolahan sekitar 225.000 barel minyak per hari.
Melansir laman ABC Australia, Rabu 11 Maret 2026, ketika bahan bakar fosil seperti minyak, batu bara, dan gas terbakar, proses pembakaran akan melepaskan berbagai senyawa beracun ke atmosfer. Zat-zat tersebut antara lain hidrokarbon, nitrogen oksida, sulfur dioksida, logam berat, serta partikel halus. Kebakaran besar ini menyebabkan polutan tersebut menggantung di atas Teheran, kota yang dihuni hampir 10 juta penduduk.
Pada akhir pekan, sistem badai membawa hujan ke beberapa wilayah Iran. Hujan ini kemudian menarik turun polutan di udara sehingga berubah menjadi hujan asam dan hujan beracun termasuk hujan hitam berminyak, menurut pejabat Iran.
Profesor teknik lingkungan dari Syracuse University, Charles Driscoll, mengatakan bahwa untuk menghasilkan hujan hitam, kadar polutan di udara harus berada pada tingkat yang sangat tinggi. Sementara itu, CEOBS menyebut peristiwa ini sebagai insiden lingkungan yang sangat serius.
Foto-foto dari Teheran memperlihatkan kepulan asap hitam tebal menyelimuti ibu kota Iran. Sejumlah warga juga melaporkan adanya lapisan berminyak berwarna gelap yang menempel di mobil dan atap rumah, seperti dilaporkan The New York Times.
Organisasi kemanusiaan Iranian Red Crescent Society memperingatkan warga untuk tetap berada di dalam rumah guna menghindari hujan asam dan gas beracun yang dapat menyebabkan luka bakar kimia pada kulit serta kerusakan serius pada paru-paru.
Sementara itu, World Health Organization (WHO) pada Selasa memperingatkan bahwa pelepasan besar-besaran hidrokarbon beracun, sulfur oksida, dan senyawa nitrogen serta hujan hitam dan hujan asam yang turun berbahaya bagi masyarakat Iran dan berpotensi menimbulkan dampak kesehatan jangka panjang.
“Situasinya pasti sangat mengerikan. Saya bahkan sulit membayangkan seberapa parah kondisinya,” kata Driscoll.
Risiko paling besar dialami kelompok rentan, seperti orang dengan penyakit pernapasan, lansia, dan anak-anak yang memiliki saluran napas lebih sempit. Hal itu disampaikan Rachel Cleetus, direktur kebijakan Program Iklim dan Energi di Union of Concerned Scientists.
“Tidak mudah untuk tetap aman ketika udara di sekitar kita dipenuhi racun seperti ini,” ujarnya.
Sejumlah warga menggambarkan kondisi lingkungan saat hujan beracun turun sebagai seperti kiamat menurut CEOBS. Cleetus menambahkan, tergantung arah angin, polutan tersebut juga dapat terbawa hingga jarak yang sangat jauh.
“Ini bencana kesehatan manusia yang sangat besar dan jelas juga merupakan bencana ekologis,” kata Cleetus.
Dampak lingkungan jangka panjang
Para ahli memperkirakan racun dan bahan kimia yang dilepaskan akan menimbulkan dampak lingkungan jangka panjang di Teheran dan wilayah sekitarnya. Hal itu disampaikan Bryan Berger, profesor teknik kimia dari University of Virginia.
Selain hidrokarbon dan senyawa beracun lainnya, bahan kimia yang dikenal sebagai forever chemicals yang kemungkinan terdapat dalam material seperti bahan tahan api di fasilitas tersebut dapat mencemari air tanah. Zat ini juga bisa dengan mudah terbawa ke udara dan kembali turun bersama hujan.
Menurut Driscoll, Iran terutama Teheran sebenarnya sudah lama menghadapi masalah kualitas udara dan belum memiliki regulasi yang cukup kuat untuk menjaga kualitas udara tetap sehat.
Hujan asam yang turun juga bersifat korosif (tergantung pada konsentrasinya) dan dapat mempercepat kerusakan bangunan di Teheran yang selama ini memang sudah terpapar polusi udara tinggi.
Material bangunan yang terbakar juga menghasilkan berbagai senyawa organik yang sangat beracun. Selain itu, bahan buatan manusia tersebut dapat mengandung jejak logam berat yang berpotensi mencemari tanah dan sistem air.
Driscoll mengatakan, di kawasan ini belum pernah ada peristiwa pembakaran bahan bakar fosil dalam skala besar yang dampaknya langsung mengenai wilayah dengan populasi padat. Ia membandingkannya dengan peristiwa ketika presiden Irak saat itu, Saddam Hussein, membakar ratusan sumur minyak Kuwait pada 1991. Saat itu, wilayah di sekitarnya relatif tidak berpenghuni.
“Melihat besarnya sumber daya minyak di Timur Tengah, situasi ini bisa dibilang mendekati skenario terburuk,” kata Driscoll.