BMKG Peringatkan Gelombang Tinggi hingga 2,5 Meter di Perairan Sumut Sampai 8 Januari
Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini terkait potensi gelombang tinggi dan cuaca ekstrem di sejumlah wilayah perairan serta daratan Sumatera Utara (Sumut) pada 7 hingga 8 Januari 2026.
Peringatan ini ditujukan terutama kepada nelayan, operator pelayaran, dan masyarakat pesisir agar meningkatkan kewaspadaan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Belawan, Christen Marpaung, mengatakan bahwa berdasarkan hasil analisis meteorologi terbaru, sejumlah perairan di Sumatera Utara berpotensi diterjang gelombang setinggi 1,25 hingga 2,5 meter.
“Sejumlah perairan di Sumatera Utara berpotensi diterjang gelombang setinggi 1,25 hingga 2,5 meter pada 7 hingga 8 Januari 2026,” kata Christen di Medan, Selasa (6/1/2026) dikutip dari Antara.
Gelombang tinggi tersebut diperkirakan terjadi di beberapa wilayah perairan strategis, antara lain Samudera Hindia barat Kepulauan Nias, perairan barat Kepulauan Batu, Perairan Kepulauan Batu, perairan barat Kepulauan Nias, serta perairan timur Kepulauan Nias.
Apa dampak gelombang tinggi bagi aktivitas nelayan?
BMKG mengingatkan bahwa kondisi gelombang tersebut berisiko tinggi terhadap keselamatan pelayaran, khususnya bagi perahu nelayan dan kapal tongkang.
Christen menjelaskan bahwa terdapat batasan-batasan kondisi cuaca yang perlu diperhatikan oleh para pelaku aktivitas laut.
“Perahu nelayan harus waspada jika kecepatan angin mencapai 15 knot dan tinggi gelombang mencapai 1,25 meter, dan kapal tongkang jika kecepatan angin mencapai 16 knot dan tinggi gelombang mencapai 1,5 meter,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa nelayan kecil dengan armada terbatas sangat rentan terdampak gelombang tinggi.
Oleh karena itu, penundaan aktivitas melaut perlu dipertimbangkan demi menghindari risiko kecelakaan laut.
Apa penyebab meningkatnya gelombang dan angin kencang?
BMKG menjelaskan bahwa peningkatan kecepatan angin dan tinggi gelombang di perairan Indonesia, termasuk Sumatera Utara, dipengaruhi oleh keberadaan Bibit Siklon Tropis 91S.
Bibit siklon tersebut terpantau berada di koordinat 11,0 derajat Lintang Selatan dan 97,4 derajat Bujur Timur, atau di Samudera Hindia barat daya Bengkulu.
Selain itu, pola angin di wilayah Indonesia bagian utara umumnya bergerak dari barat laut hingga timur laut dengan kecepatan berkisar antara 6 hingga 25 knot.
Sementara di wilayah Indonesia bagian selatan, angin dominan bergerak dari barat daya hingga barat laut dengan kecepatan yang relatif sama.
Kecepatan angin tertinggi terpantau di Laut Natuna Utara serta Samudera Hindia barat Bengkulu hingga Lampung. Kondisi ini turut memengaruhi dinamika atmosfer di wilayah Sumatera Utara.
Mengapa hujan lebat juga berpotensi terjadi di Sumut?
Christen menjelaskan, adanya sirkulasi siklonik di perairan barat Aceh serta Bibit Siklon Tropis 91S di sebelah barat daya Lampung memicu terbentuknya daerah perlambatan kecepatan angin atau konvergensi, pertemuan angin atau konfluensi, serta belokan angin di wilayah Sumatera Utara.
Kondisi tersebut diperparah oleh suhu muka laut yang relatif hangat sehingga meningkatkan pasokan uap air ke atmosfer.
Ditambah lagi dengan kondisi atmosfer yang labil, potensi pertumbuhan awan hujan di sebagian besar wilayah Sumatera Utara menjadi semakin besar.
“Perpaduan faktor-faktor cuaca ini turut mendukung pertumbuhan awan konvektif dan meningkatkan potensi terjadinya hujan di beberapa wilayah Sumatera Utara dalam beberapa hari ke depan,” jelasnya.
Wilayah mana saja yang berpotensi diguyur hujan lebat?
BMKG mencatat cuaca di Sumatera Utara dalam beberapa hari ke depan umumnya didominasi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat. Wilayah yang perlu meningkatkan kewaspadaan antara lain:
- Labuhanbatu dan Labuhanbatu Utara
- Labuhanbatu Selatan
- Langkat
- Mandailing Natal
- Nias, Nias Barat, Nias Selatan, dan Nias Utara
- Padang Lawas dan Padang Lawas Utara
- Padangsidimpuan dan Sibolga
- Tebing Tinggi
- Asahan dan Batubara
- Tapanuli Utara, Tapanuli Selatan, dan Tapanuli Tengah
- Pakpak Bharat, Dairi, Samosir
- Deli Serdang, Humbang Hasundutan, Karo, dan Simalungun.
Berdasarkan perkembangan cuaca tersebut, BMKG mengimbau masyarakat untuk selalu waspada terhadap potensi dampak cuaca ekstrem, seperti banjir, tanah longsor, pohon tumbang, dan gangguan aktivitas transportasi laut.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang