Pakar Sosiologi Ingatkan Potensi Konflik Sosial di Daerah Bencana: Bantuan Lanbat Bisa Picu Apatisme
Pakar Sosiologi Pedesaan Institut Pertanian Bogor (IPB) Ivanovich Agusta mengatakan bahwa dampak sosial setelah bencana sering luput dari perhatian publik.
Ia menegaskan bahwa bencana bukan hanya merusak fisik rumah, tetapi juga merusak sistem sosial yang menjaga kerekatan dan identitas desa.
Menurutnya, masyarakat desa mengalami disrupsi secara tiba-tiba dalam struktur sosial dan relasi antarwarga saat bencana terjadi.
Salah satu dampak paling nyata adalah dislokasi sosial yang membuat ruang-ruang komunal seperti balai desa, musala, pasar, hingga jalan yang selama ini sebagai pusat interaksi warga menjadi hilang.
“Ketika ruang-ruang itu hilang, ritme kehidupan desa terputus. Interaksi melemah, komunikasi terganggu, dan solidaritas sosial ikut teruji,” ujar Ivanovich dalam keterangan resmi yang diterima Kompas.com, Selasa (9/12/2025).
Bencana Bisa Timbulkan Tekanan untuk Masyarakat
Ivanovich mengatakan, bencana juga menimbulkan tekanan psikososial seperti rasa takut, trauma, dan masa depan yang tidak pasti.
Menurutnya, kondisi tersebut bisa membuat semangat kerja dan partisipasi warga dalam berbagai aktivitas sosial menjadi turun.
Tak hanya itu, pranata sosial desa berpotensi terganggu, seperti jadwal tanam petani, kegiatan kelompok tani, arisan, posyandu, hingga aktivitas keagamaan yang berhenti untuk sementara waktu karena wilayah mengalami kerusakan dan akses yang terbatas.
“Terhentinya pranata sosial ini sangat melemahkan integrasi masyarakat desa. Padahal di situlah kekuatan sosial warga selama ini berada,” ungkapnya.
Ivanovich menambahkan, anak-anak, perempuan, lansia, dan petani menjadi kelompok yang paling rentan terdampak.
Anak-anak berpotensi kehilangan rasa aman dan akses pendidikan, sementara perempuan menanggung beban ganda dalam kondisi serba terbatas.
Sedangkan, lansia menghadapi kendala mobilitas dan ketergantungan pada keluarga.
Petani juga mengalami dampak jangka panjang karena kerusakan lahan, irigasi hancur, ternak hilang, dan siklus produksi terputus.
“Petani menanggung dampak terberat dalam jangka panjang akibat lahan rusak, irigasi hancur, ternak hilang, serta berhentinya siklus produksi. Kerentanan petani ini bersifat ekologis sekaligus sosial-ekonomi,” tutur Ivanovich.
Potensi Konflik Sosial
Ia juga menyoroti potensi munculnya konflik sosial di wilayah terdampak, salah satunya distribusi bantuan.
Menurut Ivanovich, kecemburuan antarwarga dapat muncul jika data korban tidak jelas, transparansi minim, dan penyaluran bantuan yang belum merata.
“Dalam situasi bencana, kelelahan psikologis membuat masyarakat lebih sensitif. Ketimpangan kecil saja bisa memicu kecemburuan sosial,” jelasnya.
Ia juga menyoroti bahwa keterlibatan pemimpin lokal terkadang dipersepsikan negatif apabila dianggap memprioritaskan kelompok atau kerabat tertentu.
“Gotong royong biasanya sangat kuat di fase awal bencana, ketika warga saling menyelamatkan dan membantu. Namun dalam jangka menengah, kelelahan kolektif dan ketidakpastian pemulihan dapat melemahkan solidaritas,” katanya.
Ia menjelaskan, tingkat kepercayaan warga terhadap pemerintah sangat dipengaruhi oleh kecepatan, ketepatan, dan transparansi penanganan bencana.
“Jika bantuan cepat dan adil, kepercayaan menguat. Jika lambat dan tidak jelas, yang muncul justru frustrasi dan apatisme,” tambahnya.
Dr Ivanovich menegaskan bahwa pemulihan pascabencana harus dilakukan secara menyeluruh.
Hal itu mencakup penguatan pemulihan psikososial, reaktivasi pranata sosial, pendataan transparan, dan pemulihan mata pencaharian.
Diperlukan juga penguatan peran pemerintah desa hingga pembangunan mitigasi dan kesiapsiagaan bencana berbasis komunitas.
“Bencana bukan hanya soal hari ini, tetapi juga tentang bagaimana kita membangun kembali ketahanan sosial desa untuk masa depan,” pungkasnya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang