Harga Bitcoin Turun Tajam, Analis Sarankan Jangan Buru-Buru Serok, Kenapa?
Pergerakan harga Bitcoin kembali memicu perdebatan di kalangan investor kripto. Setelah sempat mencatat reli yang cukup meyakinkan dan mendekati level psikologis US$100.000, aset kripto terbesar di dunia ini kembali melemah.
Kondisi tersebut membuat strategi buy the dip kembali dipertanyakan, terutama bagi investor ritel yang sensitif terhadap fluktuasi harga jangka pendek.
Di tengah ketidakpastian pasar global dan meningkatnya volatilitas, sejumlah analis menilai bahwa koreksi Bitcoin kali ini belum tentu menjadi peluang beli terbaik. Bahkan, ada peringatan bahwa tekanan harga bisa berlanjut sebelum Bitcoin benar-benar menemukan dasar yang solid.
Mengutip laporan DeCrypt, analis dari bank investasi Compass Point menilai bahwa bertaruh pada Bitcoin sebelum harganya kembali menembus level US$98.000 atau setara sekitar Rp1,66 miliar (kurs Rp16.900) bukanlah langkah yang ideal. Penilaian ini muncul setelah Bitcoin mengalami penurunan harga dalam beberapa waktu terakhir.
Level US$98.000 tersebut merupakan rata-rata harga beli para short-term holders, yaitu investor yang memegang Bitcoin kurang dari 155 hari. Kelompok ini dikenal sangat sensitif terhadap pergerakan harga dan cenderung bereaksi cepat saat pasar bergejolak.
Pekan lalu, harga Bitcoin sempat melonjak ke level tertinggi dua bulan di US$97.500 atau sekitar Rp1,65 miliar, menurut data CoinGecko. Namun, Bitcoin gagal menembus ambang batas harga yang membuat investor jangka pendek kembali mencatatkan keuntungan.
Kegagalan ini memperkuat kekhawatiran bahwa harga Bitcoin berpotensi memasuki fase penurunan yang lebih panjang. Analis Compass Point menyebutkan bahwa kondisi ini memiliki kemiripan dengan pola pasar bearish sebelumnya.
“Salah satu ciri utama pasar bearish Bitcoin adalah reli pemulihan yang menjanjikan, kemudian diikuti aksi jual yang agresif,” tulis para analis, sebagaimana dikutip dari DeCrypt, Kamis, 22 Januari 2026.
Pada Rabu, harga Bitcoin bergerak di sekitar US$90.000 atau setara Rp1,52 miliar, setelah sempat turun hingga US$87.900 atau sekitar Rp1,49 miliar. Penurunan ini terjadi seiring meningkatnya kekhawatiran pasar akibat isu tarif dan ketegangan geopolitik yang dipicu oleh kembali munculnya wacana Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait Greenland.
Penurunan harga tersebut sekaligus menghapus seluruh kenaikan Bitcoin yang tercatat selama sebulan terakhir, menandakan lemahnya sentimen jangka pendek di pasar kripto. Di sisi lain, analis mencatat bahwa long-term holders, yakni investor yang memegang Bitcoin lebih dari enam bulan, justru mulai mengurangi aktivitas penjualan.
Setelah sempat melakukan penjualan moderat pada akhir November, jumlah Bitcoin yang mereka pegang relatif stabil di level 14 juta BTC, berdasarkan data dari checkonchain. Stabilnya perilaku investor jangka panjang ini menunjukkan bahwa tekanan jual saat ini lebih banyak datang dari pelaku pasar jangka pendek.
Compass Point menyatakan akan merasa lebih nyaman membeli saat koreksi jika harga Bitcoin turun mendekati US$80.000 atau setara sekitar Rp1,35 miliar. Namun demikian, analis juga mengingatkan bahwa tingkat pendanaan untuk kontrak futures perpetual masih tinggi, yakni di kisaran 10 persen.
Kondisi ini menandakan bahwa banyak pelaku pasar membeli Bitcoin menggunakan dana pinjaman. Menurut analis, praktik leveraged dip buying justru berisiko memicu gelombang likuidasi baru jika harga Bitcoin kembali turun dalam waktu dekat.
Pekan lalu, rata-rata pergerakan 50 hari Bitcoin sempat melampaui rata-rata 200 hari, sebuah pola teknikal yang dikenal sebagai golden cross dan kerap diartikan sebagai sinyal bullish. Saat itu, Bitcoin juga berada dekat dengan level psikologis US$100.000 atau sekitar Rp1,69 miliar.
Namun, pola tersebut kini dinyatakan tidak valid, setelah rata-rata 50 hari kembali turun di bawah rata-rata 200 hari. Hal ini memperkuat pandangan bahwa tekanan teknikal masih membayangi pergerakan harga Bitcoin.