IHSG Ditutup Anjlok 56 Poin Tertekan Saham Big Caps Rontok, Cek 3 Saham Paling Kinclong
Nilai transaksi di pasar reguler tercatat sebesar Rp 25,26 triliun dengan frekuensi transaksi sebanyak 2,69 persen. Biasanya, kondisi ini mencerminkan investor melakukan aksi jual-beli jangka pendek.
Tim Analis Phintraco Sekuritas menyampaikan, tekanan utama indeks domestik berasal koreksi sektor non-siklik, healthcare dan teknologi. Secara berurutan turun 0,74 persen, 0,52 persen dan 0,27 persen.
Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).
Sebaliknya, sektor properti melesat signifikan sebesar 1,08 persen. Kenaikan juga dicatatkan sektor industri sebesar 0,54 persen dan sektor bahan baku sebesar 0,18 persen.
Selain itu, koreksi IHSG turut dipicu oleh rontoknya sejumlah saham berkapitalisasi besar. Investor juga menantikan laporan Manufacturing PMI, inflasi, serta kinerja perdagangan bulan Oktober 2025.
"Sentimen pasar juga cenderung wait and see menjelang rilis serangkaian data domestik penting di awal pekan depan," ungkap Tim Analis Phintraco Sekuritas dikutip dari risetnya, Kamis, 27 November 2025.
Secara teknikal, IHSG menunjukkan sinyal konsolidasi. Tercermin dari histogram MACD yang bergerak sideways serta Stochastic RSI yang mulai mengarah turun.
"Pola ini mengindikasikan momentum penguatan mulai mereda dan membuka peluang bagi IHSG untuk mengalami pullback menguji area MA5 sebagai support dinamis jangka pendek," lanjutnya.
Phintraco Sekuritas juga melaporkan saham-saham di puncak jajaran 45 saham unggulan karena mencatatkan lompatan harga tertinggi antara lain:
PT Vale Indonesia Tbk (INCO)
Saham INCO menguat 3,13 persen atau 120 poin dan ditutup pada level 3.950.
PT Barito Pacific Tbk (BRPT)
Saham BRPT meningkat sebesar 2,56 persen atau 90 poin menjadi 3.600.
PT Surya Citra Media Tbk (SCMA)
Hasil positif juga dicetak saham SCMA sebesar 2,11 persen atau 8 poin dan parkir di area 388.