Jelang Bursa Ditutup, Investor Serbu Saham! 657 Emiten Menghijau dan IHSG Melonjak 6,5 Persen

IHSG., Nilai Transaksi Tembus Rp21,59 Triliun, Sempat Tertahan Usai BI Naikkan Suku Bunga, BI Rate Naik untuk Jaga Rupiah dan Inflasi, Pertemuan DPR dan Industri Perbankan Tambah Optimisme, Investor Kembali Agresif Masuk Pasar
IHSG.

Aksi beli besar-besaran mewarnai perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) pada Selasa, 9 Juni 2026. Menjelang penutupan perdagangan, investor ramai-ramai memborong saham sehingga mendorong Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melesat tajam hingga 6,5 persen ke level 5.692,85.

Lonjakan tersebut menjadi salah satu penguatan harian terbesar yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Pergerakan positif tidak hanya tercermin pada indeks utama, tetapi juga terlihat dari dominasi saham yang bergerak di zona hijau hampir sepanjang perdagangan.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Data perdagangan hingga pukul 15.19 WIB menunjukkan sebanyak 657 saham menguat. Sementara itu, hanya 126 saham yang mengalami pelemahan dan 176 saham lainnya bergerak stagnan.

Dominasi saham yang menguat tersebut mengindikasikan tingginya minat beli investor menjelang berakhirnya perdagangan. Arus dana yang masuk ke pasar saham juga terlihat dari tingginya aktivitas transaksi yang terjadi sepanjang hari.

Nilai Transaksi Tembus Rp21,59 Triliun

Euforia pasar tidak hanya tercermin dari lonjakan indeks dan jumlah saham yang menguat. Nilai transaksi yang tercatat juga menunjukkan aktivitas perdagangan yang sangat tinggi.

Hingga menjelang penutupan, nilai transaksi mencapai Rp21,59 triliun. Adapun volume perdagangan tercatat sebanyak 34,54 miliar saham yang diperdagangkan dalam 2,26 juta kali transaksi.

Tingginya aktivitas tersebut turut mendorong kenaikan kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia menjadi Rp9.952 triliun.

Banyaknya saham yang diborong investor menjelang akhir perdagangan menjadi sinyal bahwa pelaku pasar mulai kembali membangun optimisme setelah beberapa waktu terakhir pasar mengalami tekanan akibat sentimen global dan pelemahan nilai tukar rupiah.

Sempat Tertahan Usai BI Naikkan Suku Bunga

Meski akhirnya ditutup dengan penguatan tajam, perjalanan IHSG sepanjang hari tidak sepenuhnya mulus.

Pada sesi pertama, indeks bahkan sempat mencatat kenaikan lebih dari 5 persen. Namun laju penguatan sempat tertahan setelah pasar merespons keputusan Bank Indonesia yang secara mengejutkan menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate sebesar 25 basis poin menjadi 5,50 persen.

Keputusan tersebut awalnya memicu kehati-hatian pelaku pasar karena kenaikan suku bunga biasanya berdampak terhadap biaya pendanaan dan aktivitas investasi.

Namun kondisi berbalik menjelang penutupan ketika investor mulai melihat kebijakan tersebut sebagai langkah positif untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

BI Rate Naik untuk Jaga Rupiah dan Inflasi

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo menjelaskan bahwa kenaikan BI Rate dilakukan sebagai bagian dari strategi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah meningkatnya ketidakpastian global.

Menurut Perry, konflik geopolitik di Timur Tengah menjadi salah satu faktor yang meningkatkan tekanan terhadap pasar keuangan dunia, termasuk Indonesia.

Selain menjaga stabilitas rupiah, kebijakan tersebut juga ditujukan untuk memastikan inflasi tetap berada dalam sasaran pemerintah, yakni 2,5 persen dengan toleransi plus minus 1 persen pada 2026 dan 2027.

Pasar kemudian menilai langkah tersebut sebagai upaya memperkuat fondasi ekonomi nasional sekaligus meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik bagi investor global.

Pertemuan DPR dan Industri Perbankan Tambah Optimisme

Sentimen positif lainnya datang dari pertemuan yang berlangsung di Kompleks Parlemen Senayan antara Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad dengan jajaran pimpinan industri perbankan nasional.

Dalam pertemuan tersebut hadir Ketua Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) yang juga Direktur Utama PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk Putrama Wahju Setiawan, Ketua Perbanas sekaligus Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Hery Gunardi, Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, serta Kepala Badan Pengaturan BUMN atau COO Danantara Indonesia Dony Oskaria.

Hasil koordinasi dan evaluasi tersebut memberikan sinyal bahwa kondisi sektor perbankan nasional masih berada dalam keadaan yang baik dan stabil.

Pernyataan tersebut menjadi salah satu faktor yang meningkatkan kepercayaan investor terhadap prospek pasar keuangan Indonesia.

Investor Kembali Agresif Masuk Pasar

Di tengah masih bertahannya nilai tukar rupiah di kisaran Rp18.160 per dolar Amerika Serikat, tekanan terhadap mata uang domestik mulai menunjukkan tanda-tanda mereda.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Kondisi tersebut ikut mengurangi kekhawatiran pelaku pasar terhadap risiko lanjutan di sektor keuangan. Hasilnya, minat beli investor kembali meningkat dan terlihat dari aksi pemborongan saham yang terjadi menjelang penutupan perdagangan.

Lonjakan IHSG hingga 6,5 persen dengan dukungan 657 saham yang menguat menjadi gambaran kuat bahwa investor kembali agresif masuk ke pasar. Arus pembelian yang masif pada penghujung perdagangan juga menunjukkan optimisme baru terhadap prospek ekonomi domestik serta stabilitas sektor keuangan nasional di tengah tantangan global yang masih berlangsung.