Dosen Beri Cara Menghemat Token Listrik untuk Anak Kos, Termasuk yang Pakai AC

Mahasiswa yang hidup di indekos kerap dihadapkan pada persoalan sederhana namun krusial: bagaimana membuat uang saku bertahan hingga akhir bulan.
Banyak dari mereka hanya memegang sedikit uang sebagai cadangan harian, sehingga pengelolaan pengeluaran menjadi kunci agar kebutuhan pokok tetap terpenuhi tanpa harus berutang.
Bagi banyak anak kos, token listrik seharga Rp 50.000 hingga Rp 100.000 sering kali terasa cepat habis karena penggunaan alat elektronik yang kurang terkontrol.
Mulai dari menyalakan perangkat terlalu lama hingga memakai peralatan berdaya tinggi, kebiasaan kecil ini dapat membuat pulsa listrik boros tanpa disadari.
Artikel ini merangkum cara praktis menghemat token listrik Rp 50.000 dan Rp 100.000 agar lebih awet untuk kebutuhan sehari-hari anak kos.
Cara menghemat token listrik anak kos
Dilansir dari (10/11/2025), dosen Pendidikan Teknik Elektro dari Universitas Negeri Yogyakarta, Toto Sukisno, menyebut ada beberapa cara agar token listrik Rp 50.000 bisa lebih tahan lama.
“Anak kos dengan beban standar setiap harinya membutuhkan 1,45 kWh,” katanya.
Sebagai contoh, sebuah kos memiliki daya sebesar 1.300-2.200 VA di Jakarta. Tarif dasar listrik pada Desember 2025 untuk golongan pelanggan daya tersebut sebesar Rp 1.444,70 per kWh.
Diketahui, setiap pembelian token juga bakal dikenakan Pajak Penerangan Jalan (PPJ) Jakarta sebesar 2,4 persen untuk golongan tersebut.
Sehingga, listrik yang diperoleh dari token Rp 50.000 adalah sebesar 33,77 kWh, dan idealnya bisa digunakan hingga 24 hari asal penghuni tidak boros listrik.
Berikut cara untuk menghematnya:
1. Matikan alat elektronik jika tidak digunakan
Yang membuat anak kos boros listrik adalah mereka sering lupa mematikan alat elektronik, seperti kipas angin, saat pergi keluar kos.
"Prinsip dasar untuk menghemat energi itu kaidah matikan utilitas atau peralatan yang tidak digunakan," ucap Toto.
2. Gunakan alat elektronik hemat energi
Toto merekomendasikan agar penghuni atau anak kos menggunakan peralatan elektronik yang hemat energi. Dia mengungkapkan, saat ini sudah banyak alat elektronik hemat energi yang dijual di pasaran.
Label hemat energi pada alat elektronik tersebut ditunjukkan dengan stiker gambar bintang berwarna hijau.
"Peralatan yang paling efisien jumlah bintangnya 5," ujar Toto.
3. Hindari penggunaan alat elektronik rusak
Meski telah diperbaiki, alat elektronik yang pernah rusak tetap berisiko lebih boros listrik.
“Untuk peralatan elektronik yang rusak, bila yang diperbaiki misal motornya (dengan melilit ulang), maka sudah bisa dipastikan akan semakin turun efisiensinya, dengan kata lain menjadi lebih boros,” tutur Toto.
Jadi daripada boros listrik, ganti peralatan listrik yang sudah rusak dengan beli baru.
Cara menghemat token listrik anak kos jika pakai AC
Ilustrasi AC. Mengatur suhu AC di 23 derajat Celsius bisa menghemat token listrik.
Sementara, dosen Teknik Ketenagalistrikan Sekolah Teknik Elektro dan Informatika (STEI) Institut Teknologi Bandung (ITB), Syarif Hidayat mengatakan, secara hitung-hitungan kasar, token listrik Rp 100.000 untuk pengguna AC akan habis kurang dari sebulan."Token listrik Rp 100.000 itu enggak cukup pasti," kata dia kepada , Rabu (12/11/2025).
Sebagai contoh, penghuni kos menggunakan AC 1/2 PK, maka daya listrik yang digunakan adalah 400 watt. Jika dalam sehari AC dinyalakan selama 10 jam, artinya alat elektronik tersebut mengonsumsi 4 kWh per hari.
Dengan asumsi daya listrik kamar kos adalah 1.300-2.200 VA di Jakarta, maka tarif dasar listriknya adalah Rp 1444,70 per kWh. Berikut penghitungan konsumsi kWh per harinya:
- 4 kWh x Rp 1444,70 = Rp 5.778,8 per hari.
Artinya, dalam satu bulan atau 30 hari, kebutuhan token listrik pengguna AC 1/2 PK yang dinyalakan 10 jam per hari adalah Rp 173.364.
Meski begitu, Syarif membagikan tips agar token listrik Rp 100.000 dapat digunakan selama 30 hari untuk anak kos pengguna AC.
Dia menjelaskan, daya 400 watt AC 1/2 PK adalah daya maksimum. Daya tersebut masih bisa dihemat jika penyekatan ruang bagus.
Dengan asumsi rata-rata penggunaan daya AC adalah 200 watt dan dinyalakan selama 10 jam, maka konsumsi listriknya adalah 2 kWh per hari.
Berikut penghitungan kWh per harinya:
- 2 kWh x Rp 1444,70 = Rp 2.889,4 per hari.
Ini artinya, dalam satu bulan, kebutuhan token listrik pengguna AC 1/2 PK yang dinyalakan 10 jam per hari adalah Rp 86.682. Sisa token listrik lainnya bisa digunakan untuk alat elektronik lain di indekos.
Agar listrik tak boros, Syarif menyarankan untuk menghindari penggunaan daya maksimal AC menjadi 400 watt. Syarif mengimbau agar penghuni indekos tidak mengatur AC di suhu 18 derajat Celsius.
AC yang dinyalakan dengan suhu 18 derajat Celsius secara terus-menerus bisa memakan daya maksimal.
Oleh sebab itu, Syarif menyarankan agar suhu AC diatur di suhu 23 derajat Celsius saja.
"Tapi kalau dipasangnya 23 derajat Celsius, daya rata-ratanya bisa hanya 200 watt," pungkasnya.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang