Tips Pantau Penggunaan Gawai Anak untuk Orangtua yang Sibuk
Makin akrabnya anak-anak dengan perangkat digital membawa tantangan tersendiri bagi orangtua dalam mengasuh anak.
Pengawasan terhadap aktivitas daring menjadi hal yang penting dilakukan untuk memastikan anak mendapatkan manfaat positif dari internet tanpa terpapar dampak buruknya.
Situasi ini bisa menjadi kendala bagi pasangan suami istri yang sama-sama sibuk bekerja, terlebih bagi mereka yang harus menjalani pernikahan jarak jauh (long distance marriage atau LDM).
"Aku sama suami gimana caranya kita harus bisa kerja sama mengawasi anak-anak setiap hari. Kebetulan suami aku ini kerjanya di offshore, dua minggu di laut, dua minggu di darat," kata Kreator konten YouTube Annisa Swavira Bramantoko, dalam sesi diskusi bertajuk “Membangun Interaksi Sehat, Melindungi Generasi Emas Indonesia di Dunia Digital" oleh YouTube, Jakarta, Senin (8/6/2026).
Untuk menyiasatinya, Annisa mengaku memanfaatkan fitur-fitur yang tersedia di aplikasi.
Strategi pantau pemakaian gawai anak
Bangun komunikasi terbuka dengan anak
Sebagai sosok yang berkarier di industri kreatif, pekerjaan mengharuskan Annisa menghabiskan waktu sekitar empat hingga lima jam sehari di depan layar untuk mencari referensi dan menyunting video.
Ia pun berusaha memberikan pengertian kepada anaknya mengapa menggunakan gawai di hari kerja.
"Anak aku pasti melihat ibunya megang gadget terus. Aku mengenalkan kalau memang ini bagian dari Bunda, dan Bunda punya jam-jam tertentu dalam menyelesaikan pekerjaan," ungkap Annisa.
Annisa memilih memberikan pengertian kepada anaknya. Selain memberikan contoh dan pemahaman terkait pekerjaannya, ia juga secara proaktif memaparkan bahaya penggunaan gawai tanpa bimbingan orangtua.
"Kita hanya sebagai orangtua tuh harus mengenalkan bahwa dunia digital ini punya loh sisi negatifnya. Terus tontonan yang kurang baik juga udah aku kenalin ke dia, ini loh bahayanya," ucap Annisa.
Manfaatkan aplikasi khusus untuk pantau jarak jauh
Dalam praktiknya sehari-hari, pengawasan gawai kedua anaknya yang berusia delapan dan empat tahun dilakukan secara bergantian bersama sang suami.
Pemanfaatan sistem kendali orangtua memungkinkan mereka untuk menyetel batas waktu penggunaan harian, melacak lokasi anak, hingga menyortir aplikasi apa saja yang boleh diunduh di gawai anak-anak.
"Nanti di saat suami aku di laut, dia mengontrol anak-anak melalui salah satunya aplikasi Google Family Link," tutur Annisa.
Bahkan, dalam situasi tertentu ketika anak sedang bermain di luar rumah, intervensi dapat dilakukan secara langsung oleh suaminya yang sedang berada jauh dari rumah.
Bagi Annisa, ketegasan membatasi akses tetap harus dibarengi dengan dialog yang hangat.
Ia memastikan anak-anaknya mengerti bahwa layar gawai yang tiba-tiba terkunci bukan berarti sebuah hukuman, melainkan karena kesepakatan waktu bermain memang telah habis.
Pendekatan komunikasi terbuka inilah yang menjadi pondasi kuat untuk mendidik anak tetap sehat dan rasional di era modern.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang