BMKG Beri Peringatan Dampak Pertumbuhan Awan Cumulonimbus di Labuan Bajo, Siap-siap Tunda Pelayaran

BMKG Beri Peringatan Dampak Pertumbuhan Awan Cumulonimbus di Labuan Bajo, Siap-siap Tunda Pelayaran

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memberi peringatan kepada nelayan, pelaku wisata bahari, dan operator kapal di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT) soal dampak pertumbuhan awan Cumulonimbus atau awan hitam. Awan Cumulonimbus berpotensi menimbulkan angin kencang serta hujan lebat yang dapat disertai petir.

Lebih lagi bisa menyebabkan gelombang tinggi. Meski akibat awan Cumulonimbus dan hujan petir bisa bervariasi tergantung intensitas sistem dari awannya.

"Kondisi ini bisa menyebabkan gelombang naik lebih tinggi dari yang diprakirakan dan berisiko bagi kapal kecil maupun wisata di perairan terbuka," kata Kepala Stasiun Meteorologi Komodo Maria Seran di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat (Mabar), Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (10/11), dikutip dari Antara.

"Misalnya ada kumpulan awan Cumulonimbus yang cukup banyak dan kadang bisa ditandai dengan suara petir yang sangat besar, maka angin kencangnya bisa sangat kuat atau squall line, dan potensi kenaikannya bisa lebih dari dua meter secara lokal dan hanya terjadi sesaat," ungkap Maria.

BMKG mengimbau para nelayan, pelaku wisata bahari, dan operator kapal, menunda keberangkatan atau pelayaran kapal wisata jika melihat ada awan gelap menjulang di langit.

"Namun bagi yang sudah berada di laut, segera cari perlindungan di pulau terdekat atau teluk yang aman hingga cuaca kembali membaik dan diharapkan tetap pantau informasi cuaca dari BMKG dan selalu utamakan keselamatan di laut," katanya.

Sebelumnya, seperti dilaporkan Antara, BMKG mengingatkan masyarakat mewaspadai potensi gelombang laut setinggi 2,5 meter di sejumlah wilayah perairan Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Senin hingga Kamis (10-13/11).

“Sejumlah wilayah perairan NTT berpotensi gelombang laut setinggi 1,25 hingga 2,5 meter pada 10 hingga 13 November 2025,” kata Kepala Stasiun Meteorologi Maritim Tenau Kupang Yandri Anderudson Tungga.

Ia mengatakan tinggi gelombang tersebut berpeluang terjadi di wilayah perairan Selat Sape bagian selatan, Selat Flores-Lamakera, perairan selatan Flores, perairan selatan Alor-Pantar, Selat Sumba bagian barat, Laut Sawu, perairan selatan Sumba, perairan utara Sabu-Raijua, perairan utara Kupang-Rote, perairan selatan Sabu-Raijua, dan perairan selatan Timor-Rote.

Sementara itu pola angin di NTT pada umumnya bergerak dari arah tenggara menuju barat daya dengan kecepatan angin berkisar 8 sampai 30 knot.

“Waspada terhadap awan Cumulonimbus (awan gelap seperti bunga kol) yang dapat meningkatkan tinggi gelombang serta perubahan arah dan kecepatan angin secara signifikan dan tiba-tiba,” kata Yandri. (*)