Saat Kuliner Tradisional Disajikan di Labuan Bajo, Kembalikan Memori Masa Kecil
Membangun memori tentang makanan di masa kecil jadi tujuan utama lokakarya dengan tajuk icip-icip memori pangan "Lemari dan laci-laci kecil di kepala", Minggu (26/4/2026).
Puluhan menu makanan dari berbagai daerah di Indonesia, ditata di meja kayu, pendopo Pavila Hotel, Labuan Bajo.
Ada olahan karbohidrat seperti ubi rebus, jagung, pisang rebus, nasi kuning, dan nasi bambu. Berbagai lauk-pauk dari ikan dan daging kambing, serta sayuran, kue, dan buah-buahan menghadirkan berbagai cita rasa khas berbagai daerah di Indonesia.
"Dengan kita terus mengingat dari mana kita berasal dan apa yang terus kita konsumsi, langkah-langkah yang kita ambil akan lebih bermanfaat bagi kita dan orang di sekitar kita," ucap Co Founder SuapSuapan, Haiza Putti kepada Kompas.com.
Ia mengatakan, kegiatan ini juga untuk melestarikan pangan lokal, supaya tidak tergerus oleh perubahan jaman dan pengaruh dari luar. Menu yang ada di antaranya lawar jantung pisang dan jagung bose dari Flores, Kapiong dari Toraja, dan bolu tape dari Bandun.
Peserta yang hadir pun dari berbagai kalangan. Termasuk kaum disabilitas dari Komunitas Tuli Labuan Bajo. Acara diisi dengan diskusi sambil mencicipi makanan-makanan yang tersedia di meja.
Acara ini diselenggarakan oleh Pamflet Generasi sekaligus peluncuran buku kompilasi zine Lemari dan Laci-laci Kecil di Kepala.
Kegiatan ini diselenggarakan berkolaborasi dengan SuapSuapan serta menghadirkan pegiat pangan Elizabet Yani Tararubi dari Dapur Tara dan Oma Bekti dari Rumah Pekerti.
Haiza mengatakan peluncuran buku ini menjadi momentum untuk memperkenalkan 29 karya zine yang ditulis oleh orang muda dari Manggarai Barat, Bandung, dan Jakarta.
Setiap zine merekam pengalaman personal tentang pangan, terutama ingatan masa kecil, yang kemudian dirangkai menjadi refleksi kolektif tentang perubahan sistem pangan.
"Bukunya tentang memori pangan masa kecil. Supaya kita tidak melupakan apa yang menjadi akar kita, budaya kita," terang Haiza.
Ia juga mengatakan hal-hal yang ada di rumah kita, termasuk pangan, sebenarnya berpengaruh besar pada hal-hal yang terjadi di sekitar kita di masa kini, termasuk budaya, sosial dan politik.
Kurator buku dan pegiat pangan asal Mollo, Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur, Dicky Senda menyebutkan bahwa buku ini memperlihatkan bagaimana pengalaman orang muda dalam mengajak masyarakat luas untuk memahami tantangan pangan secara kolektif.
“Mereka menggambar ulang isi laci personal ke medium zine ini. Ada yang membukanya dengan pasti, menemukan laci-laci penuh memori dan perasaan. Kemudian beranjak menuju titik refleksi yang sama: dari cara pandang personal menjadi kesadaran kolektif yang baru, sebagai modal untuk bergerak,” ujar Dicky.
Dicky juga menambahkan, buku tersebut menyoroti bahwa generasi muda tidaklah homogen. Pengalaman mereka terhadap pangan dibentuk oleh beragam faktor seperti gender, kelas sosial, kondisi ekonomi, hingga lokasi geografis.
Karena itu, narasi yang dihadirkan dalam buku ini menjadi penting untuk memperkaya diskursus sistem pangan yang lebih inklusif.
Budaya terlupakan karena perubahan zaman
Pendiri Dapur Tara sejak 2019, Elizabet Yani Tararubi yang dikenal aktif mengangkat pangan lokal Flores melalui pendekatan kuliner berbasis komunitas, mengajak peserta menelusuri kembali makna pangan melalui ingatan dan rasa.
“Salah satu efek dari perkembangan Labuan Bajo adalah narasi “tanah milik siapa”. Hutan kita ditebang, dijual dan semangat bertani maupun berkebun sudah mulai hilang," ujarnya.
Ia juga menambahkan, sudah banyak budaya di Flores seperti Lonto Leok yang mulai terlupakan karena kini generasi muda lebih memilih nongkrong di kafe modern.
"Oleh karena itu, kemana pun kita pergi, kita harus membawa akar kita untuk menguatkan identitas agar tidak hilang," tutup dia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang