Momen Haru Keluarga Pelatih Valencia Tulis Nama di Pasir Labuan Bajo Sebelum Korban Ditemukan

Teka-teki mengenai keberadaan pelatih Valencia yang hilang dalam insiden kapal tenggelam di perairan Manggarai Barat akhirnya terjawab. Tim SAR gabungan berhasil menemukan jenazah korban di Pulau Rinca pada Minggu (4/1/2026) pagi.
Pihak kepolisian telah mengonfirmasi bahwa identitas mayat tersebut adalah Fernando Martin, pelatih Valencia yang dilaporkan hilang sejak beberapa hari lalu.
Kabid Humas Polda NTT Kombes Pol Henry Novika Chandra membenarkan kabar tersebut setelah dilakukan proses identifikasi awal di lapangan.
"Iya. Dari hasil identifikasi awal, dengan ciri-ciri yang ada (sesuai dengan korban)," kata Henry saat dikonfirmasi Kompas.com, Minggu siang.
Kepastian Identitas dari Pihak Keluarga
Kepolisian telah berkoordinasi dengan Budi Widjaja selaku pendamping keluarga korban untuk memastikan validitas identitas jenazah. Berdasarkan pemeriksaan fisik, keluarga meyakini bahwa jenazah tersebut adalah anggota keluarga mereka.
"Pak Budi yang mendampingi keluarga, menyatakan memang itu suaminya (pelatih Valencia)," ungkap Henry.
Meski identifikasi awal sudah menunjukkan kecocokan, pihak kepolisian tetap akan melakukan pemeriksaan medis lebih mendalam.
Hal ini dilakukan guna melengkapi prosedur administrasi dan penyelidikan sesuai standar medis yang berlaku.
Momen Haru, Keluarga Menulis Nama Korban di Pasir Pantai
Sebelum jenazah ditemukan, sebuah momen menyentuh hati terjadi di pesisir pantai Labuan Bajo pada Jumat (2/1/2026). Keluarga korban, didampingi Wakil Duta Besar Spanyol untuk Indonesia, Fernando Burgos Sainz, melakukan ritual doa di bibir pantai.
Kakak korban tampak bersimpuh dan menuliskan nama-nama korban di atas pasir pantai sebagai bentuk harapan dan permohonan agar sang adik segera ditemukan.
"Tadi kakak korban izin ke pantai untuk berdoa. Dia menulis nama-nama korban di pasir lalu berdoa semoga bisa ditemukan," ujar Budi Widjaja, Ketua DPC Gahawisri.
Kehadiran keluarga di lokasi pencarian merupakan permintaan khusus untuk memantau langsung operasi Tim SAR.
Budi menjelaskan bahwa pihaknya baru mengizinkan keluarga ikut ke laut pada hari ke-8 karena mempertimbangkan kondisi psikis mereka.
Sinyal Handphone dan Teknologi Sonar
Operasi pencarian ini melibatkan teknologi canggih setelah muncul titik terang dari aktivitas perangkat elektronik korban.
Sinyal handphone milik Fernando Martin sempat terdeteksi berpindah-pindah tempat, mulai dari Utara Padar, Padar Selatan, Batu Tiga, hingga mendekati Nusa Kode.
Informasi krusial ini didapatkan setelah adanya koordinasi dengan Interpol dan Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).
"Tadi malam informasi dari Interpol, di mana dari pihak kerabat keluarga ada yang mengirimkan pesan SMS atau WhatsApp ke handphone korban setelah kejadian. Sinyal itu ditemukan di tanggal 26 dan 28 (Desember)," jelas Budi.
Berbekal data koordinat tersebut, Tim SAR mengerahkan teknologi Multi Beam Echo Sounder yang mampu mendeteksi hingga kedalaman 180 meter di bawah permukaan laut.
Dukungan tiga unit sonar dari Polda NTT juga dikerahkan untuk menyisir dua titik fokus pencarian hingga akhirnya jenazah ditemukan di Pulau Rinca.
Keluarga korban menyampaikan apresiasi mendalam kepada Tim SAR Gabungan yang telah bekerja keras di tengah anomali cuaca dan gelombang tinggi selama proses pencarian berlangsung.
Sebagian Artikel Telah Tayang di Kompas.com dengan Judul dan Tribunflores.com dengan judul Keluarga Korban Kapal Tenggelam Doa dan Tulis Nama Korban di Pasir Pantai Labuan Bajo
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang