Dampak Fatherless pada Pertumbuhan Anak, Salah Satunya Sulit Mengelola Emosi

fatherless, dampak fatherless, fenomena fatherless di indonesia, dampak fatherless pada pertumbuhan anak, Dampak Fatherless pada Pertumbuhan Anak, Salah Satunya Sulit Mengelola Emosi

Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji mengungkapkan, bahwa 20,9 persen anak Indonesia tumbuh tanpa figur ayah atau fatherless, baik secara fisik maupun psikologis. Lalu, apa dampaknya bagi masyarakat?

Devie Rahmawati, Pengamat Sosial Universitas Indonesia Jakarta mengatakan, anak yang tidak mendapatkan pola asuh dari ayah, akan lebih rentan berperilaku agresif, sulit mengelola emosi dan cenderung mengambil risiko berbahaya saat remaja.

“Efek ini akan lebih besar bila terjadi sejak masa dini dan lebih menonjol pada anak laki-laki dibandingkan anak perempuan,” ujar Devie kepada Kompas.com saat dihubungi, Jumat (19/9/2025).

Lebih luas lagi, menurut studi global, dunia pendidikan akan terganggu bukan karena turunnya nilai, melainkan karena faktor perilaku.

“Sehingga bisa mempengaruhi faktor kelulusan bahkan,” imbuh Devie.

Sementara dari sisi psikologi, ayah pada dasarnya memiliki peran penting bagi anak, seperti bagaimana anak belajar bertanggung jawab, mengambil keputusan, bagaimana anak belajar tentang keberanian serta bagaimana anak menghadapi masalah.

Menurut Psikolog Anak, Mario Manuhutu, kecenderungannya ketika tidak ada peran ayah, anak akan mencari figur yang sosoknya lebih tua, yang dianggap dewasa. Masalahnya, belum tentu orang dewasa yang ditemui bertanggung jawab dan berperilaku baik.

Hal ini bisa menjadi berisiko, ketika sosok dewasa yang didapatkan anak dari luar justru menyakiti mereka atau memberi dampak negatif, bahkan berujung pada toxic relationship.

“Akhirnya anak-anak bisa tidak memiliki batasan pribadi atau personal boundaries,” kata Mario saat dihubungi di hari yang sama.

Kacamata korban fatherless

Sementara itu, salah satu penyintas fatherless yang kini sudah menjadi orangtua, Putri (25) mengaku, bahwa ketidakhadiran ayah ternyata berpengaruh pada dirinya saat mengambil keputusan, baik dalam dunia pekerjaan maupun masalah pribadi.

“Ya jadi susah aja sih membedakan yang mana yang baik buat aku. Untung sekarang sudah ada suami yang bisa jadi teman untuk berdiskusi,” ujar Putri.

Putri bercerita, kedua orangtuanya bercerai saat dia duduk di bangku SMA, tapi peran ayah sudah tidak didapatkan sejak Putri remaja, tepatnya saat duduk di bangku SMP.

“Jadi masih ada pun enggak pernah ngobrol, nganterin sekolah aja terakhir SD dan menafkahi juga sudah berhenti sejak SMP,” ujarnya.

Kini Putri sudah menjadi ibu dari satu orang anak yang masih balita. Ia mengaku telah membicarakan dan menyepakati pola asuh dengan sang suami, agar putrinya tidak mengalami apa yang dia alami.

“Pokoknya aku ingin anakku mendapat kasih sayang dari dua orangtuanya. Makanya suami juga menjalankan peran seperti yang aku lakukan juga. Kami sepakat sih,” ungkap Putri.

“Semoga anakku bahagia dengan kasih sayang dari kedua orangtuanya,” harapnya.

Yang bisa dilakukan

Untuk mengatasi isu fatherless ini, Devie menyebut ada banyak hal yang bisa dilakukan.

Salah satunya adalah adanya jam kerja yang fleksibel untuk ayah, cuti orangtua, akses penitipan anak yang terjangkau, yang bisa membantu ayah menjalankan perannya.

“Pengasuhan virtual juga bisa dilakukan, melalui panggilan video terjadwal, membaca cerita jarak jauh, mengerjakan tugas sekolah bersama secara daring, ini bisa membantu membentuk jembatan emosional,” kata Devie.

Selain itu, cara pandang tradisional juga perlu diubah. Selama ini, stigma bahwa anak-anak adalah urusan perempuan dan laki-laki hanya sebagai pencari nafkah, membuat kasus fatherless masih tinggi di Indonesia.

“Selama itu tidak dibongkar, fatherless akan terus terjadi. Ini hanya bisa dibongkar lewat pendidikan,” kata Devie.

Sementara dari sisi psikologi, Mario menyarankan orangtua dan anak bersama-sama mendapatkan bantuan psikologi dengan berkonsultasi pada psikolog anak, untuk mencegah dampak yang lebih dalam.

“Dengan datang ke tempat terapi bersama anak, orangtua juga belajar. Penting bagi orangtua meningkatkan keinginan untuk belajar pola asuh,” kata Mario.

Terakhir, Mario mengingatkan bahwa menjadi ayah tidak cukup hadir secara fisik saja.

“Jadi ayah itu mudah, tinggal menikah saja. Tapi jadi ayah yang baik, memang perlu terus belajar,” pungkas Mario.

Di saat situasi tidak menentu, Kompas.com tetap berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update terkini dan notifikasi penting di Aplikasi Kompas.com.