Mengenal Awan Cumulonimbus, Awan Paling Berbahaya bagi Keselamatan Penerbangan
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan karakteristik awan Cumulonimbus yang dikenal berbahaya bagi penerbangan.
Awan ini kerap muncul bersamaan dengan cuaca ekstrem seperti hujan lebat, angin kencang, dan petir.
Dalam aktivitas penerbangan, keberadaan awan Cumulonimbus menjadi salah satu faktor cuaca yang selalu diwaspadai karena menyimpan ancaman serius.
Pemahaman mengenai jenis awan ini penting untuk keselamatan penerbangan dan mitigasi risiko di perjalanan dengan alat transportasi udara.
Apa Itu Awan Cumulonimbus?
Kepada Kompas.com (22/1/2026), Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Yogyakarta, Bambang Herwanto, menyebut awan Cumulonimbus sebagai jenis awan yang paling berbahaya bagi penerbangan.
“Cumulonimbus,” ujarnya saat menjelaskan jenis awan yang berisiko tinggi bagi aktivitas penerbangan.
Menurutnya, awan Cumulonimbus merupakan awan pembawa cuaca ekstrem yang dapat berkembang secara vertikal hingga mencapai ketinggian yang signifikan.
Mengapa Awan Cumulonimbus Berbahaya bagi Penerbangan?
Bambang menjelaskan bahwa ancaman utama awan Cumulonimbus berasal dari dinamika udara yang sangat kuat di dalamnya.
“Awan cumulonimbus (CB) dikenal sebagai salah satu ancaman terbesar dalam dunia penerbangan. Awan ini dapat menimbulkan turbulensi ekstrem, hujan deras, angin kencang, bahkan petir yang berisiko tinggi bagi pesawat di udara,” jelasnya.
Ia menambahkan, awan ini juga dapat memicu berbagai kondisi berbahaya lain yang secara langsung memengaruhi keselamatan pesawat.
“Awan Cumulonimbus (Cb) berbahaya karena menciptakan turbulensi parah (arus udara naik/turun ekstrem), microburst (angin turun tiba-tiba), icing (pembekuan es pada sayap), dan hujan es/lebat yang dapat membahayakan bagi dunia penerbangan,” katanya.
Apa Ciri-ciri Awan Cumulonimbus?
Awan Cumulonimbus memiliki ciri visual yang relatif mudah dikenali. Bambang menyebut awan ini biasanya tampak besar, tebal, dan menjulang tinggi.
“Bentuk awan Cumulonimbus terlihat seperti jamur atau bunga kol karena pada bagian atas terdapat seperti bentuk topi atau landasan. Penampakan awan terlihat tebal, gelap, dan tinggi,” jelasnya.
Karena karakteristik tersebut, awan Cumulonimbus menjadi salah satu indikator utama dalam peringatan dini cuaca ekstrem.
“Awan pembawa hujan dan mengandung petir; Awan Cumulonimbus menjadi pertanda potensi cuaca ekstrem,” paparnya.
Bagaimana Proses Terbentuknya Awan Cumulonimbus?
Bambang menjelaskan bahwa awan Cumulonimbus terbentuk melalui beberapa tahapan sebelum akhirnya meluruh.
“Pada tahap pertama, awan akan tumbuh menjulang ke atas dalam fase cumulus. Di dalam awan cumulus ini memiliki updraft atau gaya hentakan ke atas yang cukup kuat, sehingga mendorong awan dapat tumbuh ke atas,” ujar Bambang.
Ia melanjutkan, pada tahap kedua atau fase matang, awan Cumulonimbus terbentuk secara sempurna dan memicu cuaca ekstrem.
“Pada tahap kedua atau fase matang, awan Cumulonimbus terbentuk yang ditandai dengan adanya sambaran petir, angin kencang, dan hujan lebat. Fase ini awan memiliki updraft maupun downdraft atau gaya hentakan ke bawah yang kuat, sehingga berbahaya bagi dunia penerbangan,” katanya.
Menurut Bambang, tahap terakhir adalah fase peluruhan, ketika awan mulai melemah dan menghilang.
“Pada tahap terakhir yaitu fase peluruhan, awan sudah mulai luruh dan menghilang. Biasanya akan disertai hujan dengan intensitas ringan hingga sedang. Pada fase ini, hanya tersisa downdraft dan tidak ada updraft sehingga awan tidak dapat mempertahankan bentuknya, dan luruh,” jelasnya.
Peran Informasi Cuaca dalam Keselamatan Penerbangan
Mengenali kemunculan awan Cumulonimbus dapat digunakan sebagai bagian dari edukasi dan pemahaman publik terkait dinamika cuaca.
Selain itu, dalam praktik penerbangan, data cuaca BMKG menjadi salah satu pertimbangan penting dalam perencanaan dan pelaksanaan penerbangan.
Pemantauan awan Cumulonimbus juga secara intensif dilakukan untuk membantu meminimalkan risiko dan menjaga keselamatan penerbangan, terutama di wilayah yang rawan cuaca ekstrem.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme. Berikan apresiasi sekarang