Intip 6 Tren Pasar Kerja di 2026, AI Mulai Jadi Ancaman Karyawan? 

Ilustrasi pekerja.
Ilustrasi pekerja.

Dunia kerja terus berubah cepat, dan tahun 2026 diprediksi menjadi tahun penyesuaian besar. Adanya tekanan ekonomi, ekspektasi baru, serta perubahan hubungan kekuasaan antara perusahaan dan pekerja, membuat para profesional dituntut untuk lebih adaptif. 

Fenomena seperti micro-layoff, fleksibilitas kerja, dan dampak kecerdasan buatan menandai cara baru melihat karier dan hubungan dengan pimpinan.

Bagi generasi muda, terutama Gen Z, tren ini sangat relevan. Memahami tren ini sejak awal akan membantu pekerja menyiapkan strategi untuk tetap kompetitif dan menjaga kepuasan kerja.

Lantas, apa saja sih tren kerja di tahun depan? Berikut daftarnya sebagaimana dirangkum dari Forbes, Senin, 17 November 2025.

Ilustrasi aktivitas / bekerja.

1. Ketidakcocokan Antara Karyawan dan Pimpinan Meningkat

Kepercayaan pada pimpinan menurun tajam. Dalam laporan Glassdoor, sebutan seperti “misalignment” meningkat 149 persen dari 2024 ke 2025, lalu "disconnect” naik 24 persen, dan “distrust” naik 26 persen. 

“Pekerja merasakan efek bergelombang dari rollercoaster emosional enam tahun terakhir. Saat pandemi, pimpinan transparan dan terbuka. Kini banyak yang kembali ke bahasa korporat, dan pekerja merasa pimpinan tidak mendukung mereka,” ungkap Daniel Zhao, ekonom utama Glassdoor. 

Saat ini, sambung dia, pekerja melihat bagaimana pimpinan menangani PHK, kebijakan kembali ke kantor, dan adopsi teknologi berbiaya besar, sehingga hilangnya kepercayaan dan moral kepada pimpinan. 

2. PHK Skala Kecil Berulang Jadi Normal Baru

Pemutusan hubungan kerja skala kecil yang terus-menerus menjadi pola baru, yang disebut Glassdoor sebagai “forever layoff” turut menjadi tren di 2026. Walaupun skala pemotongan kecil, efeknya terhadap ketidakpastian dan kecemasan pekerja cukup besar. 

Data menunjukkan PHK kecil (kurang dari 50 orang) meningkat dari 38 persen pada 2015 menjadi 51 persen pada 2025. Dampak dari fenomena ini termasuk kelelahan kerja, kurangnya keterlibatan, dan hilangnya kepercayaan, yang diperkirakan berlanjut sepanjang 2026.

3. Tren Kembali ke Kantor Meningkat

Kesempatan naik jabatan menjadi lebih sulit bagi pekerja yang bekerja dari rumah. Rata-rata penilaian peluang karier untuk pekerja jarak jauh atau campuran turun dari 4,1 pada 2020 menjadi 3,5 pada 2025. Meskipun ada mandat kembali ke kantor, jumlah hari kerja dari rumah tidak banyak berubah. Kekhawatiran karyawan adalah “tidak terlihat, tidak diingat”. Pekerja profesional kini harus memilih antara fleksibilitas kerja dan visibilitas. 

4. Dampak Kecerdasan Buatan Masih Terbatas

Kekhawatiran soal kecerdasan buatan (AI) tetap tinggi, tetapi gangguan nyata masih terbatas. Kepuasan pekerja di pekerjaan dengan paparan teknologi ini hanya turun sedikit sejak 2022. Beberapa pekerjaan, seperti penerjemah dan insinyur perangkat lunak, mengalami penurunan lebih tajam, namun jumlahnya kecil. Sebagian besar organisasi masih bereksperimen dengan teknologi, dan 2026 diperkirakan akan menghadirkan perubahan bertahap, bukan drastis.

5. Pencari Kerja Lebih Hati-hati tapi Tidak Bisa Pilih-Pilih

Selektivitas menurun karena pasar kerja ketat. Menurut Glassdoor, pelamar 12 persen lebih kecil kemungkinannya menolak tawaran pada 2025 dibanding 2023. Sekitar tiga dari empat tawaran diterima, menunjukkan tingkat penolakan terendah sejak 2020. Akibatnya, banyak pekerja merasa stagnan, yang bisa menghambat pertumbuhan karier dan pendapatan.

6. Upah Pemula Mulai Pulih

Ada satu titik terang di 2026, yaitu upah bagi lulusan baru yang mulai melampaui level 2020. Inflasi menurunkan daya beli dari 2020–2022, tapi pertumbuhan upah rata-rata 4,3 persen melampaui inflasi 3,0 persen dalam tiga tahun terakhir. Contohnya, upah di beberapa kota AS yang meningkat. 

Tahun 2026 menandai perubahan besar di dunia kerja. Ketidakcocokan dengan pimpinan, PHK kecil berulang, trade-off antara fleksibilitas dan peluang, hingga teknologi yang perlahan mengubah pekerjaan menjadi tantangan nyata. 

“Pimpinan perlu memperhatikan kesenjangan yang semakin melebar antara mereka dan pekerja. Disconnect ini berisiko memperburuk krisis keterlibatan di 2026," kata Daniel memperingati.