Cari Kerja Makin Susah! Lebih dari 50 Persen Perusahaan Bakal Bekukan Rekrutmen di 2026

Ilustrasi kelas pekerja.
Ilustrasi kelas pekerja.

 Tahun 2026 diperkirakan menjadi periode "lampu kuning" bagi dunia kerja di Singapura. Hasil survei terbaru dari Singapore National Employers Federation (SNEF) menunjukkan bahwa hampir tiga dari lima pemberi kerja berencana membekukan jumlah karyawan karena prospek bisnis yang tidak pasti. 

Survei ini melibatkan sekitar 240 perusahaan dengan total pekerja lebih dari 120.000 orang dan dilakukan antara 25 Juni hingga 15 Agustus. Temuan ini mengungkap bahwa 72 persen perusahaan menghadapi ketidakpastian bisnis pada tahun ini, meningkat dari 58 persen pada 2024, sehingga mendorong 58 persen perusahaan untuk menahan perekrutan pada tahun depan. 

Perusahaan kecil paling cenderung mengambil langkah ini dengan angka mencapai 63 persen. Sementara perusahaan besar lebih mungkin memilih pengurangan jumlah karyawan jika diperlukan.

Kondisi ini juga berdampak pada rencana kenaikan gaji. Hampir separuh perusahaan, atau 48 persen, berencana melakukan moderasi atau pembekuan gaji untuk tahun finansial 2025/2026, meningkat 10 poin persentase dari tahun sebelumnya. 

Singapore Changi Airport

SNEF menekankan bahwa hal ini menunjukkan kewaspadaan lebih tinggi terutama di kalangan perusahaan kecil dan menengah. Tantangan utama yang dihadapi perusahaan tetap berkisar pada biaya tenaga kerja yang meningkat, kesulitan menarik dan mempertahankan profesional, manajer, eksekutif, dan teknisi (PMET), serta minimnya talenta lokal berketerampilan tinggi. 

Untuk menanggulangi hal ini, 62 persen perusahaan berencana menawarkan paket gaji dan tunjangan yang kompetitif, meski angka ini menurun dari 70 persen pada 2024. Strategi lain yang diutamakan adalah peningkatan keterampilan tenaga kerja melalui upskilling dan reskilling agar sesuai dengan kebutuhan bisnis yang berkembang, sementara fleksibilitas kerja mengalami penurunan signifikan dari 49 persen pada 2024 menjadi hanya 30 persen pada 2025.

Meski outlook bisnis dan gaji lebih berhati-hati, komitmen perusahaan terhadap pekerja berupah rendah tetap tinggi. SNEF mencatat bahwa 96 persen perusahaan yang mempekerjakan kelompok ini berencana memberikan kenaikan gaji built-in pada tahun mendatang. 

Hampir 40 persen perusahaan bahkan berniat memberikan kenaikan proporsional lebih tinggi kepada pekerja berupah rendah dibanding kelompok lainnya, sementara 33 persen akan memberikan kenaikan setara bagi semua karyawan.

“Pemberi kerja menavigasi 2026 dengan hati-hati, mengingat meningkatnya biaya menjalankan bisnis dan ketidakpastian ekonomi global secara keseluruhan,” ungkap CEO SNEF, Hao Shuo, sebagaimana dikutip dari CNA, Rabu, 3 Desember 2025.

"Meski begitu, menggembirakan melihat banyak pemberi kerja tetap berinvestasi pada karyawan mereka, terutama pekerja berupah rendah, karena investasi semacam ini pada akhirnya membantu mereka membangun tenaga kerja yang lebih kuat, tangguh, dan siap menghadapi masa depan,” paparnya. 

Selain itu, Hao Shuo mendorong perusahaan agar menyelaraskan keputusan pengupahan dengan pedoman National Wages Council agar setiap penyesuaian gaji tetap adil dan berkelanjutan.