Siap-Siap Tergeser, Pekerja Tanpa Skill AI Makin Sulit Dapat Kerja
Perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) mulai menunjukkan dampak nyata terhadap dunia kerja global, terutama dalam menentukan siapa yang direkrut, memperoleh gaji lebih tinggi, hingga menciptakan nilai bagi perusahaan.
Meski gelombang penggantian tenaga kerja secara besar-besaran belum sepenuhnya terjadi, perubahan dalam lanskap karier sudah mulai terlihat.
Salah satu pernyataan yang kerap muncul dalam diskusi adalah, AI disebut tidak akan menggantikan manusia, tetapi mereka yang menggunakan AI akan menggantikan pekerja yang tidak menggunakannya. Pernyataan ini menjadi semakin relevan seiring dengan meningkatnya adopsi teknologi AI di berbagai sektor industri.
Dalam tiga tahun sejak peluncuran ChatGPT, penggunaan AI telah berkembang pesat dan tidak lagi sebatas prediksi. Sejumlah perusahaan mulai memanfaatkan AI untuk mengotomatisasi tugas rutin, mempercepat proses kerja, serta menciptakan peluang bisnis baru.
Di saat yang sama, berbagai program pelatihan ulang tenaga kerja dan inisiatif pemerintah untuk membangun talenta AI juga terus digencarkan. Melansir dari Forbes, Senin, 4 Mei 2026, data mengungkap bahwa kemampuan AI kini menjadi faktor pembeda yang signifikan di pasar tenaga kerja.
Pada 2025, laporan PwC mencatat pekerja dengan keterampilan AI memperoleh premi gaji sebesar 56 persen dibandingkan mereka yang tidak memiliki kemampuan tersebut. Angka ini meningkat dari 25 persen pada tahun sebelumnya, menandakan permintaan terhadap skill AI yang terus meningkat.
Selain itu, kandidat yang mencantumkan keterampilan AI dalam resume memiliki peluang 8 hingga 15 persen lebih besar untuk lolos tahap seleksi wawancara. Survei lain juga menunjukkan bahwa sekitar 72,8 persen individu dengan pendapatan rumah tangga di atas £200.000 atau setara Rp3,4 miliar per tahun meningkatkan penggunaan AI dalam satu tahun terakhir, yang mengindikasikan adanya hubungan antara pemanfaatan AI dan tingkat pendapatan.
Meski demikian, dampak AI terhadap pemutusan hubungan kerja (PHK) belum sepenuhnya dominan. Laporan menyebutkan bahwa AI disebut sebagai faktor dalam 25 persen kasus PHK pada 2026, meningkat dari 5 persen pada periode yang sama tahun 2025. Namun secara keseluruhan, PHK yang dikaitkan dengan AI masih sekitar 5 persen dari total PHK di Amerika Serikat.
Di sisi lain, AI mulai mengubah peran dalam berbagai profesi. Dalam bidang rekayasa perangkat lunak, misalnya, AI telah mengambil alih tugas dasar seperti pembuatan kode sederhana dan perbaikan bug. Hal ini berdampak pada berkurangnya kebutuhan untuk posisi entry-level, sementara pekerja dengan pengalaman lebih tinggi justru menjadi lebih produktif.
Di bidang sumber daya manusia, AI digunakan untuk menyaring CV, menyusun deskripsi pekerjaan, hingga mengelola kebutuhan tenaga kerja berbasis data. Sementara di sektor pendidikan, AI membantu dalam pembuatan materi ajar serta proses evaluasi, sekaligus membuka peluang pembelajaran yang lebih personal bagi siswa.
Meskipun belum sepenuhnya menjadi kekuatan yang mengubah dunia kerja secara total, AI kini telah menjadi indikator penting dalam menentukan arah karier. Kemampuan dalam memanfaatkan AI mulai digunakan sebagai tolok ukur dalam proses rekrutmen, penentuan gaji, hingga kontribusi terhadap perusahaan.
Seiring dengan tekanan ekonomi yang mendorong perusahaan untuk lebih efisien dan inovatif, tren ini diperkirakan akan terus meningkat.