Rekrutmen Dibuka Besar-besaran tapi PHK Jalan Terus, Begini Peta Pasar Kerja 2026

Ilustrasi melamar kerja.
Ilustrasi melamar kerja.

 Memasuki 2026, dinamika pasar tenaga kerja global kembali menjadi sorotan. Di satu sisi, perusahaan terlihat optimistis dengan rencana perekrutan karyawan baru, namun di sisi lain, ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) belum sepenuhnya mereda. 

Kondisi ini menciptakan paradoks yang menarik, ketika ekspansi dan efisiensi berjalan beriringan. Perkembangan teknologi, khususnya kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), turut memengaruhi cara perusahaan menyusun strategi sumber daya manusia. 

AI kerap disebut sebagai faktor utama perubahan struktur tenaga kerja, meski di balik itu terdapat pertimbangan finansial dan efisiensi operasional yang tak kalah besar. Laporan terbaru dari Resume.org memberikan gambaran lebih jelas mengenai arah kebijakan perekrutan dan PHK perusahaan pada 2026.

Menurut laporan tersebut, sebanyak 92 persen perusahaan menyatakan berencana merekrut karyawan pada 2026. Namun, di saat yang sama, 55 persen perusahaan juga mengantisipasi akan melakukan PHK. 

"Alasan utama PHK yang paling sering disebut antara lain AI sebesar 44 persen, reorganisasi atau restrukturisasi sebesar 42 persen, serta keterbatasan anggaran sebesar 39 persen," demikian sebagaimana dikutip dari HR Dive, Kamis, 15 Januari 2026.

Menariknya, hampir enam dari sepuluh perusahaan atau sekitar 59 persen mengaku membingkai PHK atau perlambatan perekrutan sebagai dampak AI. "Hal ini dilakukan karena lebih dapat diterima oleh para pemangku kepentingan dibandingkan mengatakan alasan sebenarnya adalah keterbatasan keuangan," lanjut laporan tersebut.

Ilustrasi PHK

Di tengah selektivitas yang meningkat, perusahaan menjadi semakin spesifik dalam mencari kandidat. Laporan mencatat bahwa 54 persen perusahaan menempatkan kemampuan pemecahan masalah sebagai salah satu dari tiga prioritas utama dalam perekrutan. 

Selain itu, perusahaan juga mencari kandidat yang mampu mempelajari alat dan teknologi baru dengan cepat sebesar 44 persen, serta memiliki keterampilan komunikasi yang baik sebesar 43 persen. Hal ini menunjukkan bahwa meski teknologi berkembang pesat, kualitas sumber daya manusia tetap menjadi faktor krusial. Perusahaan tidak hanya mencari keahlian teknis, tetapi juga soft skills yang mendukung adaptasi dan kolaborasi.

Resume.org menyebut fenomena ini sebagai “The Great Turnover.” Survei terhadap 1.000 manajer perekrutan di Amerika Serikat yang dilakukan pada Desember 2025 menemukan bahwa sebagian besar perekrutan dan pengurangan tenaga kerja direncanakan terjadi pada awal 2026.

Hampir separuh perusahaan atau 48 persen memperkirakan PHK pasti atau kemungkinan besar akan terjadi pada kuartal pertama, sementara 86 persen berharap tetap melakukan perekrutan pada periode yang sama. Perusahaan yang menahan perekrutan menyebut keterbatasan anggaran sebesar 48 persen, ketidakpastian pendapatan sebesar 39 persen, serta tekanan untuk mengendalikan biaya sebesar 38 persen sebagai alasan utama. Menjelang akhir 2026, hanya 6 persen perusahaan yang masih berharap aktif merekrut.

“Apa yang kami lihat adalah penyeimbangan ulang tenaga kerja,” kata Kara Dennison, kepala penasihat karier Resume.org, dalam laporan tersebut. “Perusahaan melakukan PHK di area yang tidak lagi selaras dengan prioritas jangka pendek, sambil merekrut secara agresif di fungsi yang terkait dengan pendapatan, transformasi, dan efisiensi.”

Studi lain dari ManpowerGroup pada Desember juga menunjukkan prospek perekrutan yang relatif stabil menuju 2026. Bagi perusahaan yang berencana merekrut di awal tahun, 37 persen menyebut pertumbuhan organisasi sebagai alasan utama, 26 persen karena investasi di bidang bisnis baru, dan 19 persen untuk menggantikan karyawan yang baru saja keluar.

Peran AI dalam Keputusan Perekrutan

AI memang menjadi faktor penting, tetapi dampaknya tidak sepenuhnya menggantikan manusia. Hanya 9 persen perusahaan yang mengatakan AI telah sepenuhnya menggantikan pekerja manusia di peran tertentu. Sebaliknya, Resume.org mencatat bahwa AI lebih sering digunakan sebagai alat perlambatan perekrutan dibandingkan pengganti tenaga kerja yang sesungguhnya.

Sebanyak 45 persen perusahaan menyatakan teknologi ini sebagian mengurangi kebutuhan akan perekrutan baru, sementara 45 persen lainnya mengatakan AI memiliki dampak kecil atau bahkan tidak berdampak sama sekali pada jumlah tenaga kerja.

Dennison menegaskan bahwa bagi para pencari kerja, inti dari laporan ini adalah perekrutan tidak berhenti, melainkan menjadi lebih selektif. “Sebagian besar organisasi mengurangi peran yang berbiaya tinggi, lambat menghasilkan ROI, atau tidak selaras dengan model operasional baru,” ujarnya.