Terkuak! Ini Penyebab Gen Z Makin Sulit dapat Kerja pada 2025
Ada fenomena baru di pasar kerja 2025. Para lulusan sarjana muda yang kebanyakan adalah Gen Z si adaptif dan tech-savvy, justru kini harus berjuang lebih keras untuk mendapatkan pekerjaan pertama mereka.
Kondisi ini menciptakan kekhawatiran baru, apakah ijazah sarjana masih menjadi tiket masuk ke dunia kerja? Ataukah Gen Z perlu menemukan jalan alternatif di tengah perubahan ekonomi yang cepat, lonjakan pemanfaatan AI, dan minimnya lowongan entry-level?
Data di Amerika Serikat (AS) menunjukkan memprihatinkan pada jutaan lulusan baru, di mana lebih dari 2 juta orang meraih gelar sarjana pada musim semi 2025, tetapi hanya 30 persen yang mendapatkan pekerjaan penuh waktu sesuai bidang studi.
Laporan Cengage Group menunjukkan 76 persen perusahaan merekrut jumlah yang sama atau lebih sedikit karyawan entry-level sepanjang 2025. Penyebabnya mencakup pelemahan ekonomi, tekanan inflasi, kebijakan tarif baru, hingga pemanfaatan AI.
“Tanpa adanya pekerjaan baru yang tersedia, sulit bagi karyawan entry-level untuk mendapatkan pijakan dan memulai karier mereka,” ungkap Nich Tremper, ekonom senior, sebagaimana dikutip dari CNBC, Selasa, 9 Desember 2025.
Menurutnya, banyak perusahaan “kelebihan rekrutmen” pada 2021–2022 sehingga kini memperlambat perekrutan. Layoff pun meningkat, mencapai 1,1 juta pemutusan kerja sepanjang Januari–Oktober 2025.
Ilustrasi wisuda.
Tremper menambahkan, bahwa kondisi ini membuat pekerja memilih bertahan “Mereka tidak mencari peran baru, tidak meninggalkan pekerjaan mereka saat ini. Tanpa pekerjaan baru itu, sulit bagi karyawan entry-level memulai karier,” jelasnya.
Lebih jauh, ia memperingatkan bahwa pasar tenaga kerja yang membeku pada usia 20-an dapat menghambat kenaikan karier dan pendapatan jangka panjang.
Tremper juga menegaskan bahwa AI membuat perusahaan menunda rekrutmen karena mereka ingin mengevaluasi posisi mana yang benar-benar perlu diisi manusia. “Mereka bisa menggunakan AI untuk menutup celah sambil memikirkan strategi perekrutan mereka ke depan.”
Gen Z Beralih ke Pekerjaan Teknis
Di tengah pasar kerja yang sulit ditembus lulusan baru, ada fenomena yang tak kalah menarik. Yaitu, banyak Gen Z yang akhirnya beralih ke pekerjaan teknis. Chris Henderson, salah satunya. Pria lulusan bisnis ini gagal menemukan pekerjaan finance sesuai gaji yang ia inginkan. Setelah tiga bulan mencari, ia akhirnya memilih masuk ke bisnis keluarga sebagai teknisi listrik.
Ia kini menghasilkan US$72.000 per tahun atau setara Rp1,19 miliar, dan menemukan pekerjaannya memuaskan. “Tidak ada yang lebih baik daripada bekerja dengan tangan Anda dan menyelesaikan pekerjaan yang Anda lakukan sendiri,” katanya.
Pekerjaan teknisi listrik sendiri menjadi salah satu profesi dengan pertumbuhan tercepat menurut Bureau of Labor Statistics. Ini menjadi tanda pergeseran tren kerja di 2025 ini.