Cari Kerja Makin Susah! Ternyata Kini Muncul Fenomena 'Low-Hire, Low-Fire', Apa Itu?

Ribuan Pencari Kerja Padati Job Fair
Ribuan Pencari Kerja Padati Job Fair

 Fenomena baru sedang membentuk ulang dinamika pasar tenaga kerja Amerika Serikat. Data terbaru menunjukkan bahwa klaim tunjangan pengangguran kembali turun, menandakan tingkat PHK masih rendah. Namun, pada saat yang sama, pencari kerja justru semakin kesulitan mendapatkan pekerjaan baru. 

Kondisi yang tampak kontradiktif ini oleh para ekonom disebut sebagai fase “low-hire, low-fire”, sebuah situasi yang mulai menjadi ciri khas ekonomi AS sepanjang 2024–2025.

Di tengah ketidakpastian ekonomi global dan perubahan perilaku bisnis, banyak perusahaan memilih mempertahankan tenaga kerja yang ada ketimbang melakukan rekrutmen besar-besaran. Perusahaan juga tidak buru-buru melakukan PHK massal meskipun lingkungan ekonomi sedang melambat.

Melansir dari Fortune, Kamis, 27 November 2025, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa jumlah warga Amerika yang mengajukan tunjangan pengangguran untuk pekan yang berakhir 22 November turun sebanyak 6.000 menjadi 216.000. Angka itu berada di bawah perkiraan ekonom sebesar 230.000. 

Job Market Fair 2017 di Surabaya

Dalam laporan tersebut disebutkan bahwa penurunan itu menunjukkan PHK secara keseluruhan masih rendah. Namun, data ini belum mencerminkan pemutusan hubungan kerja dari perusahaan besar seperti UPS dan Amazon, karena sebagaimana dijelaskan dalam laporan, pemangkasan tenaga kerja, biasanya membutuhkan waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan untuk sepenuhnya tercatat dalam data.

Klaim pengangguran mingguan digunakan sebagai indikator cepat untuk melihat kondisi perekrutan dan PHK. Rata-rata empat pekan terakhir juga turun sebesar 1.000 menjadi 223.750. Secara permukaan, angka tersebut terlihat positif. Namun di baliknya ada tren lain yang justru mencemaskan para analis pasar tenaga kerja.

Jumlah warga Amerika yang tetap mengajukan tunjangan untuk pekan yang berakhir 15 November justru naik 7.000 menjadi 1,96 juta orang. Peningkatan tersebut menandakan bahwa mereka yang sedang menganggur membutuhkan waktu lebih lama untuk mendapatkan pekerjaan baru. 

Situasi ini selaras dengan yang disebut para ekonom sebagai kondisi “low-hire, low-fire”. Itu adalah suatu kondisi di mana perusahaan tidak banyak memecat karyawan, tetapi juga hampir tidak membuka lowongan baru dalam jumlah signifikan.

Dalam laporan pemerintah pekan lalu, perekrutan pada September tercatat meningkat dengan penambahan 119.000 pekerjaan baru. Namun data tersebut juga menunjukkan bahwa perusahaan menghapus sejumlah pekerjaan pada Agustus. 

Sementara itu, tingkat pengangguran naik menjadi 4,4 persen, level tertinggi dalam empat tahun. Kenaikan ini terjadi karena lebih banyak warga AS kembali masuk ke pasar kerja, tetapi tidak semuanya berhasil mendapat pekerjaan. Meskipun PHK rendah, kesempatan kerja baru tidak bertambah cepat.

Fenomena ini memperlihatkan bagaimana perusahaan memilih strategi bertahan. Mereka menghindari risiko dengan tidak menambah pegawai banyak, tetapi juga tidak ingin kehilangan karyawan berpengalaman karena khawatir akan kesulitan mencari pengganti ketika ekonomi kembali menguat.

Data ekonomi lain turut menegaskan gambaran pelemahan aktivitas. Pemerintah melaporkan bahwa penjualan ritel pada September melemah setelah tiga bulan meningkat. Kepercayaan konsumen bahkan merosot ke posisi terendah kedua dalam lima tahun terakhir. 

Bersamaan dengan itu, inflasi grosir sedikit mereda, mencerminkan perlambatan aktivitas sektor bisnis. Serangkaian data ini meningkatkan ekspektasi pasar bahwa Federal Reserve kemungkinan akan memangkas suku bunga acuannya pada pertemuan 9–10 Desember mendatang.