Bursa Asia Dibuka Bervariasi di Tengah Tertekannya Wall Street Imbas Penutupan Pemerintahan AS
Bursa Asia-Pasifik bergerak fluktuatif saat pembukaan pasar pada Rabu, 8 Oktober 2025. Gejolak indeks di kawasan ini menyusul kerugian Wall Street yang tertekan ketidakpastian tarif impor kembali mengguncang ekonomi global.
Pada Selasa, 7 Oktober 2025, Bank Dunia (World Bank) menaikkan perkiraan pertumbuhan ekonomi lebih tinggi untuk kawasan Asia. Ekonomi Indonesia pada tahun 2025 juga diproyeksikan naik dari 4,7 persen menjadi 4,8 persen secara year on year (yoy).
Dikutip dari CNBC Internasional, indeks Nikkei 225 yang diperdagangan di bursa Jepang naik 0,22 persen. Indeks Topix ikut menguat sebesar 0,62 persen.
Indeks acuan Australia, ASX/S&P 200 melemah 0,3 persen. Indeks Hang Seng Hong Kong bergerak naik ke posisi 27.165 dari sebelumnya di level 26.957,77.
Karyawan melewati monitor pergerakan angka Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Plaza Bank Mandiri, Jakarta. (Foto ilustrasi)
Bursa Tiongkok Daratan dan Korea Selatan tutup karena hari libur. Bank sentral Thailand dan Selandia Baru akan merilis keputusan kebijakan pada hari ini, Rabu, 8 Oktober 2025.
Semalam, indeks acuan di Wall Street tergerus terbebani penurunan tajam saham Oracle imbas kekhawatiran investor terhadap profitabilitas kecerdasan buatan (AI). Investor juga menantikan perkembangan lebih lanjut dari Gedung Putih terkait penutupan pemerintah AS (government shutdown) yang memasuki minggu kedua.
Indeks S&P 500 melemah 0,38 persen dan ditutup pada level 6.714,59 sekaligus mengakhiri tren positif selama sepekan berturut-turut. Nasdaq Composite anjlok 0,67 persen 22.788,36 dan indeks Dow Jones Industrial Average kehilangan 91,99 poin atau 0,2 persen ke posisi 46.602,98.