Intelijen AS Sebut Pemerintahan Iran Tidak Akan Tumbang

Negara Iran/Islamic Republic of Iran
Negara Iran/Islamic Republic of Iran

Laporan intelijen Amerika Serikat menunjukkan bahwa kepemimpinan Iran masih memegang kendali atas negara tersebut. Hal ini disampaikan oleh beberapa sumber yang mengetahui persoalan tersebut kepada Reuters.

Setelah dua pekan serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel ke Iran termasuk serangan yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, salah satu sumber mengatakan kepada Reuters bahwa ada analisis yang konsisten bahwa pemerintahan Iran tidak berada di ambang keruntuhan dan masih bisa mengendalikan masyarakatnya

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Berdasarkan sejumlah laporan intelijen, termasuk yang muncul dalam beberapa hari terakhir, menyimpulkan hal serupa. Oleh karena itu, keputusan Presiden Donald Trump untuk menghentikan pengeboman yang disampaiaknnya kepada CBS akan segera berakhir pada awal pekan ini bisa menjadi tanda kegagalan besar bagi pemerintahannya.

Laporan-laporan tersebut muncul setelah sejumlah senator dari Partai Demokrat menyampaikan hasil pengarahan tertutup dari pejabat pemerintahan Trump Rabu pekan ini. Mereka mengatakan Amerika Serikat tidak memiliki rencana jelas terkait Iran. Bahkan, penilaian awal CIA sebelumnya menyimpulkan bahwa jika para pemimpin Iran disingkirkan, kemungkinan akan muncul kelompok yang lebih radikal.

Intervensi Trump dalam konflik ini sejauh ini telah menewaskan sedikitnya tujuh tentara Amerika dan melukai sekitar 140 lainnya. Langkah tersebut juga memicu kritik dari sebagian pendukungnya sendiri.

Sementara itu, penutupan selat Hormuz oleh Iran berdampak pada kenaikan harga minya dunia. Jika pemerintahan Republik Islam Iran tidak berhasil dijatuhkan, tekanan terhadap Gedung Putih kemungkinan akan semakin besar.

Para senator yang menerima pengarahan dari pejabat AS juga menyebut bahwa pergantian rezim Iran bukanlah salah satu tujuan utama dari perang tersebut.

Dalam laporan terpisah, Reuters menyebut sejumlah pejabat Israel juga tidak yakin akan terjadi pemberontakan dari rakyat Iran atau runtuhnya pemerintahan negara itu. Pemerintah Iran sendiri baru saja menunjuk pemimpin tertinggi baru, yaitu Mojtaba Khamenei, putra dari pemimpin tertinggi sebelumnya.

Meski demikian, sumber lain menegaskan bahwa Israel tidak berniat membiarkan pemerintahan Iran dalam bentuk apa pun tetap bertahan. Namun, ia juga mengakui bahwa untuk benar-benar menjatuhkan rezim Iran diperlukan pengerahan pasukan darat, opsi yang hingga kini belum sepenuhnya dikesampingkan oleh Amerika Serikat.

Pemerintahan Trump sebelumnya memberikan berbagai alasan untuk memulai Operasi Epic Fury nama yang diberikan untuk serangan militer tersebut. Alasannya antara lain sebagai bentuk pembelaan diri terhadap ambisi nuklir Iran, sekaligus upaya membebaskan rakyat Iran.

ADVERTISEMENT

GULIR UNTUK LANJUT BACA

Namun kini, di tengah peringatan dari Iran bahwa harga minyak dunia bisa melonjak lebih tinggi lagi, operasi militer terbesar Amerika Serikat sejak 2003 itu mulai dipertanyakan. Laporan intelijen menunjukkan bahwa Korps Garda Revolusi Islam serta para pemimpin Iran masih mampu mengendalikan negara tersebut.

Pemerintah Amerika Serikat sendiri juga mengirimkan sinyal yang saling bertentangan mengenai langkah selanjutnya. Sehari sebelum Trump menyatakan perang akan segera berakhir, Menteri Pertahanan Pete Hegseth justru mengatakan kepada CBS,  bahwa serangan yang diluncurkan AS baru permulaan saja.