Mengapa Basarnas Tidak Gunakan Alat Berat dalam Evakuasi Ponpes Al Khoziny Sidoarjo?

Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas) menjelaskan alasan tidak menggunakan alat berat seperti crane atau ekskavator dalam proses evakuasi korban runtuhnya Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Buduran, Sidoarjo, Jawa Timur.
Menurut Basarnas, penggunaan alat berat justru berisiko memperburuk kondisi para santri yang masih terjebak di bawah reruntuhan bangunan.
“Bangunan pesantren ini mengalami pola keruntuhan pancake, di mana material satu menimpa material lain dan memiliki stabilitas yang sangat rendah. Karena itu dibutuhkan shoring atau penopang untuk menstabilkan material sebelum evakuasi,” jelas salah satu anggota Basarnas melalui akun TikTok @egaprasutia.
Ia menegaskan, bila material dipindahkan secara paksa menggunakan alat berat, risiko keruntuhan susulan sangat tinggi.
“Jika material langsung dipindahkan, dikhawatirkan memicu keruntuhan lanjutan yang memperparah kondisi korban. Evakuasi dilakukan dengan sistem bergantian menggunakan peralatan khusus, dengan penuh pertimbangan keselamatan korban maupun petugas,” lanjutnya.
Basarnas: Prinsip Utama Selamatkan Nyawa
Kepala Basarnas, Marsekal Madya Mohammad Syafii, menegaskan bahwa sejak awal pencarian, alat berat tidak boleh digunakan.
“Untuk menyelamatkan korban dalam kondisi selamat, penggunaan alat berat belum dimungkinkan lantaran potensi getaran yang dapat mengubah struktur bangunan,” ujarnya, Selasa (30/9/2025).
Syafii mengakui keputusan ini tidak mudah. Dalam kondisi darurat, crane atau ekskavator tampak sebagai cara tercepat. Namun, Basarnas memilih metode yang lebih aman, meski rumit.
“Prinsip kami, sekecil apa pun peluang menemukan korban selamat, harus diutamakan,” tegas Syafii.
Hingga hari ketiga pencarian, tim gabungan Basarnas, TNI, Polri, dan relawan terus bekerja siang dan malam untuk menemukan para santri yang masih terjebak.
Data Korban Reruntuhan Ponpes Al Khoziny
Kondisi Ponpes Al Khoziny, Sidoarjo usai ambruk, Selasa (30/9/2025).
Menurut data BNPB, hingga Rabu (1/10/2025), masih ada 91 korban yang diperkirakan tertimbun reruntuhan bangunan.Pada hari ketiga, Tim SAR kembali menemukan 7 Korban dan 2 di antaranya meninggal dunia, sementara 5 korban selamat.
Meski demikian, Basarnas memastikan sejumlah korban masih menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Beberapa bahkan bisa berkomunikasi dengan tim SAR di lokasi.
Penjelasan Gubernur Khofifah
Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, ikut memberikan penjelasan terkait evakuasi. Menurutnya, proses penyelamatan memang rumit dan tidak bisa dilakukan dengan terburu-buru.
“Mengapa penanganan ini terkesan lambat? Bukan lambat. Tapi karena ini penyelamatan tidak bisa kita mengonversi satu nyawa dengan berapa-berapa. Basarnas tidak berani mengambil risiko,” kata Khofifah saat menghadiri acara Jatim Fest di Grand City, Rabu (1/10/2025).
Khofifah menambahkan, dirinya memang meminta alat berat seperti ekskavator dan crane didatangkan, namun penggunaannya belum memungkinkan.
“Itu tidak memungkinkan dipakai, karena ketika difungsikan maka penyelamatan yang bisa terganggu,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Tim SAR memilih metode manual dengan menggali dari bawah reruntuhan.
“Jadi ngambilnya ini ngerong (menggali lubang), harus digali sedalam 80 cm. Ini tidak bisa dari atas tapi harus dari bawah. Di bawah ternyata ada keramik, ada beton, ada bangunan sebelumnya, dan mereka ini menggalinya sambil tengkurap,” jelasnya.
Untuk menjaga nyawa korban, tim memberikan suplai berupa air, oksigen, vitamin, hingga infus.
“Kalau ada kesan lambat, bukan lambat. Tapi ada yang harus diselamatkan di situ,” ujar Khofifah.
Korban Bisa Bertahan Lebih dari 72 Jam
Kondisi mushala Ponpes Al Khoziny Sidoarjo yang runtuh pada Jumat (29/9/2025)
Kepala Basarnas, Syafii, mengatakan korban yang masih bisa berkomunikasi (status kesadaran merah) berpeluang bertahan lebih lama dari waktu krusial 72 jam setelah kejadian, asalkan tetap mendapat suplai makan dan minum.“Tim dapat mencapai korban melalui celah-celah di bawah reruntuhan. Selama mendapatkan suplai makan minum serta infus, maka memungkinkan korban dapat bertahan lebih lama alias lebih dari batas waktu krusial 72 jam,” ungkapnya.
Syafii menyebut hingga hari ketiga pencarian, sudah ada sekitar 15 titik korban yang terdeteksi di bawah reruntuhan.
Dari jumlah tersebut, delapan korban berada dalam kondisi kesadaran hitam alias tidak bisa berkomunikasi, sementara tujuh lainnya berstatus merah atau masih bisa merespons.
Kendala Evakuasi di Reruntuhan Ponpes Al Khoziny
SAR Mission Coordinator (SMC), Nanang Sigit, menjelaskan bahwa banyak korban sulit dievakuasi karena posisi tubuh mereka terjepit beton.
“Beberapa korban masih merespons dengan menggerakkan kaki atau anggota tubuh lainnya, artinya masih ada tanda-tanda kehidupan,” ujarnya.
Nanang menambahkan, alasan utama tidak menggunakan alat berat adalah faktor keselamatan korban dan tim.
“Kami berusaha membuat lubang dari bawah supaya bisa sampai ke para korban dan bisa menjadi jalan untuk mengevakuasi mereka,” katanya.
Proses evakuasi dilakukan 24 jam penuh, dengan 379 personel dari 65 instansi yang bekerja secara bergantian setiap tiga jam.
Kendala utama adalah struktur bangunan yang rapuh dan tumpukan beton yang menyulitkan pergerakan tim.
Kepala Subdirektorat Pengarahan dan Pengendalian Operasi (RPDO) Basarnas, Emi Freezer, menambahkan,“Hingga hari ketiga pencarian, tim penyelamatan gabungan telah berhasil mengevakuasi 11 korban, tiga di antaranya meninggal dunia.”
Sebagian Artikel ini telah tayang di Surya.co.id dengan judul "Gubernur Khofifah Tegaskan Proses Penyelamatan Korban Ponpes Al Khoziny Sidoarjo Tak Bisa Asal" dan "Alasan Basarnas Tak Pakai Alat Berat untuk Selamatkan Santri Pondok Al Khoziny Buduran Sidoarjo"