Evakuasi Hari Ketujuh Ponpes Al Khoziny, 141 Orang Terevakuasi, 37 Meninggal Dunia

sidoarjo, Al Khoziny, Ponpes Al Khoziny, ponpes al khoziny ambruk, ponpes al khoziny buduran, santri al khoziny, al khoziny buduran, ponpes al khoziny roboh, mushala Al Khoziny, al khoziny ambruk, Evakuasi Hari Ketujuh Ponpes Al Khoziny, 141 Orang Terevakuasi, 37 Meninggal Dunia, Delapan Jenazah Teridentifikasi, Daftar Korban Meninggal Dunia yang Telah Teridentifikasi, MUI: Tragedi Ini Harus Jadi Peringatan Nasional, Kronologi Ambruknya Bangunan Mushala Ponpes Al Khoziny

Tim SAR gabungan kembali menemukan tiga korban meninggal dunia di dalam reruntuhan mushala Pondok Pesantren (Ponpes) Al Khoziny, Buduran, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, pada hari ketujuh proses pencarian, Minggu (5/10/2025).

Penemuan ini menambah jumlah total korban meninggal dunia akibat ambruknya bangunan Ponpes Al Khoziny Sidoarjo menjadi 37 orang.

“Untuk hari ini total ada 11 korban yang diekstraksi dalam proses evakuasi hari ketujuh,” ujar Direktur Operasi BNPB Laksamana TNI Yudhi Bramantyo, Minggu.

Tiga jenazah yang ditemukan pagi itu berada di sektor A3 dan A4, masing-masing pada pukul 02.37 WIB, 03.00 WIB, dan 03.24 WIB.

Hingga hari ketujuh pencarian, total korban yang berhasil dievakuasi mencapai 141 orang. Dari jumlah tersebut, 104 orang dinyatakan selamat, sementara 37 lainnya meninggal dunia.

Dari 37 korban yang ditemukan, satu di antaranya merupakan bagian tubuh (body part) yang tidak utuh.

Delapan Jenazah Teridentifikasi

Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polda Jawa Timur telah berhasil mengidentifikasi delapan jenazah dari total 17 jenazah dan satu bagian tubuh yang ditemukan.

“Sampai hari ini, tim gabungan berhasil mengidentifikasi delapan dari 17 jenazah dan satu body part yang ditemukan,” ujar Kabiddokkes Polda Jatim Kombes Pol Mohammad Khusnan Marzuki.

Proses identifikasi dilakukan melalui pemeriksaan gigi, medis, sidik jari, serta kecocokan data ante mortem dan post mortem.

Tiga dari delapan jenazah yang telah teridentifikasi yaitu:

  • Firman Nur (16), warga Tembok Lor, Surabaya
  • Muhammad Azka Ibadurrahman (13), warga Kenjeran, Surabaya
  • Daul Milal (15), warga Sidokapasan, Surabaya

Sementara itu, proses identifikasi terhadap 29 korban lainnya masih terus berlangsung dengan pendalaman data tambahan dari keluarga korban.

Daftar Korban Meninggal Dunia yang Telah Teridentifikasi

Berikut daftar korban meninggal dunia Ponpes Al Khoziny Sidoarjo yang telah berhasil teridentifikasi hingga Minggu (5/10/2025):

1. Maulana Ibrahimific (15), warga Bangkalan, berdomisili di Surabaya

2. Mashudul Haq (14), asal Surabaya

3. Muhammad Sholeh (22), asal Bangka Belitung

4. Rafi Catur Okta Mulya (17), warga Kelurahan Putat Jaya, Kecamatan Sawahan, Kota Surabaya

5. Mochammad Agus Ubaidillah (14), warga Kelurahan Morokrembangan, Kecamatan Krembangan, Kota Surabaya

6. Firman Nur (16), warga Tembok Lor, Surabaya

7. Muhammad Azka Ibadurrahman (13), warga Kenjeran, Surabaya

8. Daul Milal (15), warga Sidokapasan, Surabaya

MUI: Tragedi Ini Harus Jadi Peringatan Nasional

Menanggapi tragedi ambruknya bangunan Ponpes Al Khoziny, Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyampaikan belasungkawa mendalam kepada keluarga korban.

Ketua MUI Bidang Infokom KH Masduki Baidlowi menyebut peristiwa ini sebagai tragedi kemanusiaan yang harus menjadi pelajaran bersama.

“Kami mengucapkan belasungkawa yang mendalam. Peristiwa ini menjadi peringatan kita semua untuk memberikan bantuan kepada pesantren di Indonesia yang rata-rata masih memiliki problem infrastruktur bangunannya,” ujar Masduki dalam keterangan tertulis, Sabtu (4/10/2025).

Masduki menilai, pemerintah pusat dan daerah perlu memberi perhatian khusus terhadap kondisi bangunan pondok pesantren di Indonesia agar kejadian serupa tidak terulang.

“Saya kira jangan terlalu mengarah ke proses hukum terlebih dahulu. Tragedi kemanusiaan ini harus diselesaikan dahulu. Kalau hal-hal yang berkaitan dengan masalah hukum, itu urusan berikutnya,” ungkapnya.

Ia juga mengimbau agar seluruh pondok pesantren di Indonesia memperhatikan keamanan serta kekuatan bangunannya.

“Mengimbau kepada seluruh ponpes di seluruh Indonesia yang rata-rata bangunannya belum permanen, belum kuat secara konstruksi, itu harus menjadi perhatian kita semua, sehingga tidak ada korban-korban berikutnya,” tuturnya.

Masduki menegaskan bahwa pondok pesantren adalah lembaga pendidikan tradisional yang telah lama berperan mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana amanat Pembukaan UUD 1945. Namun, menurutnya, lembaga tersebut belum banyak mendapat afirmasi dari pemerintah.

“Pesantren sudah ikut mencerdaskan kehidupan bangsa, tapi tidak banyak mendapatkan afirmasi oleh negara, baik dari pemerintah pusat maupun daerah,” pungkasnya.

Kronologi Ambruknya Bangunan Mushala Ponpes Al Khoziny

Peristiwa bangunan ambruk di Ponpes Al Khoziny Sidoarjo terjadi pada Senin (29/9/2025) sekitar pukul 15.00 WIB, saat ratusan santri sedang melaksanakan salat Asar berjemaah di lantai dua mushala.

Pada saat bersamaan, di lantai tiga sedang dilakukan proses pengecoran atap bangunan. Diduga beban cor semen membuat tiang penopang gagal menahan struktur, hingga akhirnya seluruh bangunan runtuh menimpa para santri yang sedang beribadah.

Evakuasi berlangsung dramatis sejak sore hingga dini hari. Tim SAR gabungan yang terdiri dari Basarnas, BPBD, TNI, Polri, dan relawan bekerja tanpa henti mengevakuasi para korban.

Hingga saat ini, penyebab ambruknya bangunan diduga karena konstruksi yang tidak sesuai standar keamanan bangunan.

Sebagian Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul