Takut Masa Depan Suram, Banyak Orang Kini Ragu Punya Anak
Rasa cemas terhadap kondisi dunia membuat sebagian orang berpikir ulang untuk punya anak.
Isu perubahan iklim, ekonomi yang tidak stabil, dan sulitnya mencari kerja menimbulkan kekhawatiran tentang masa depan. Psikolog menilai kecemasan ini ikut memengaruhi keputusan banyak orang untuk menunda memiliki anak.
Psikolog Ibunda.id, Danti Wulan Manunggal, S.Psi., mengatakan penurunan angka kelahiran tidak hanya soal data atau kebijakan.
“Fenomena penurunan angka kelahiran (TFR - Total Fertility Rate) di Indonesia bukan sekadar urusan angka statistik atau kebijakan pemerintah, melainkan cerminan dari pergeseran kondisi psikologis kolektif masyarakatnya,” ujarnya saat dihubungi Kompas.com pada Senin (2/3/2026).
Cemas karena dunia terasa tidak pasti
Menurut Danti, banyak orang merasa masa depan sekarang sulit diprediksi. Berita tentang cuaca ekstrem, krisis ekonomi, dan ketatnya persaingan kerja terus muncul setiap hari.
“Kecemasan terhadap kondisi dunia, perubahan iklim, ketidakstabilan ekonomi global, hingga persaingan lapangan kerja yang makin ketat menciptakan rasa pesimisme,” jelasnya.
Rasa khawatir ini membuat sebagian orang bertanya-tanya, apakah mereka siap membawa anak ke situasi seperti sekarang. Pikiran tentang masa depan anak menjadi pertimbangan yang serius.
Muncul pertanyaan soal eksistensi
Ilustrasi pasangan. Psikolog menyebut kecemasan terhadap perubahan iklim dan kondisi ekonomi membuat sebagian orang ragu membawa anak ke dunia yang terasa tidak pasti.
Danti mengatakan ada pertanyaan yang sering muncul di kalangan generasi muda. “Muncul pertanyaan eksistensial, ‘Apakah etis membawa anak ke dunia yang sedang tidak baik-baik saja ini?’” ujarnya.
Pertanyaan ini muncul karena ada rasa tanggung jawab terhadap kehidupan anak di masa depan. Sebagian orang merasa takut jika anaknya nanti harus menghadapi kondisi yang sulit.
“Rasa bersalah proaktif ini menjadi penghambat psikologis yang signifikan,” kata Danti.
Artinya, rasa bersalah dan khawatir itu bisa menjadi penghalang dalam mengambil keputusan punya anak.
Ketakutan yang tidak selalu terucap
Danti menyebut kondisi ini sebagai eco-anxiety, yaitu rasa cemas terhadap masa depan bumi dan kehidupan.
Perasaan ini tidak selalu diungkapkan secara terang-terangan, tetapi tetap memengaruhi pikiran seseorang.
Banyak orang memilih menunda sampai merasa lebih yakin dengan kondisi dunia. Mereka ingin memastikan anak yang lahir nanti memiliki peluang hidup yang baik.
Fenomena ini menunjukkan bahwa keputusan punya anak sekarang tidak hanya soal kesiapan ekonomi atau hubungan.
Kekhawatiran tentang masa depan dunia juga menjadi pertimbangan penting bagi sebagian orang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang