Debut Bersejarah Mathew Baker, Pengamat Sepak Bola Ini Yakin Timnas Indonesia Punya Bek Masa Depan
Kemenangan meyakinkan Timnas Indonesia atas Oman dalam FIFA Matchday Juni 2026 tidak hanya menghadirkan pesta gol di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Jakarta. Di balik kemenangan 3-0 tersebut, muncul satu cerita yang tak kalah menarik, yakni debut bersejarah bek muda Mathew Baker bersama skuad senior Garuda.
Pemain yang masih berusia 17 tahun itu akhirnya mendapatkan kesempatan tampil untuk pertama kalinya bersama Timnas Indonesia senior setelah dimasukkan pelatih John Herdman pada menit ke-80. Meski hanya bermain dalam waktu singkat, kemunculan Baker langsung menjadi sorotan para pencinta sepak bola nasional.
Tak sedikit yang menilai debut tersebut sebagai investasi besar untuk masa depan Timnas Indonesia. Salah satunya datang dari pengamat sepak bola nasional Haris Pardede atau Bung Harpa, yang secara khusus memberikan pujian kepada pemain muda tersebut.
Menurut Bung Harpa, keputusan John Herdman memberikan kesempatan kepada Mathew Baker bukan sekadar hadiah atau formalitas menjelang akhir pertandingan ketika Indonesia sudah unggul tiga gol.
Pelatih Timnas Indonesia, John Herdman
Sebaliknya, Pria dengan nama Haris Pardede itu melihat ada keyakinan besar dari sang pelatih, John Herdman terhadap kualitas yang dimiliki pemain muda tersebut.
"Salah satu yang menyita perhatian tentu Mathew Baker. Luar biasa. Seperti prediksi saya sebelumnya, dari dua pertandingan FIFA Matchday ini hampir pasti dia akan diturunkan," ujar Bung Harpa dalam ulasannya usai pertandingan.
Bung Harpa menilai banyak pihak yang mengira Baker dimainkan semata-mata untuk mengamankan status internasionalnya bersama Indonesia. Namun menurutnya, alasan tersebut bukan satu-satunya faktor.
"John Herdman tidak salah mempromosikan Mathew Baker ke tim nasional senior. Bukan sekadar memberikan kesan atau pengalaman saja, tetapi memang dia punya kualitas," katanya seperti dikutip YouTube BungHarpa.
Pengamat Sepakbola Bung Harpa (Haris Pardede)
Bek Muda yang Diproyeksikan untuk Masa Depan
Kemunculan Mathew Baker menjadi angin segar bagi Timnas Indonesia yang dalam beberapa tahun terakhir terus berusaha membangun regenerasi pemain. Saat ini Indonesia memang memiliki stok bek berkualitas seperti Jay Idzes, Rizky Ridho, Elkan Baggott, Justin Hubner, Kevin Diks hingga Mees Hilgers. Namun sebagian besar pemain tersebut sudah memasuki usia matang sebagai pesepak bola profesional.
Karena itulah kehadiran Baker dianggap sangat penting untuk menjaga kesinambungan kekuatan lini belakang Garuda dalam jangka panjang. Bung Harpa bahkan menilai Indonesia berpotensi memiliki bek andalan untuk lebih dari satu dekade ke depan apabila perkembangan Baker berjalan sesuai harapan.
"Kalau diasumsikan Mathew Baker bisa bermain sampai usia 32 atau 33 tahun, berarti terbentang sekitar 15 tahun perjalanan yang bisa dia berikan kepada Timnas Indonesia. Mudah-mudahan dia menjadi salah satu tulang punggung Garuda di masa depan," ujar Bung Harpa.
Pernyataan tersebut bukan tanpa alasan. Di usia yang masih sangat muda, Baker sudah menunjukkan keberanian dan ketenangan ketika menghadapi pertandingan level internasional. Menurut Bung Harpa, ada satu momen yang membuat dirinya cukup terkesan.
Ketika Oman mencoba melancarkan serangan balik, Baker mampu mengambil keputusan dengan cepat untuk menghentikan ancaman lawan. Situasi itu menunjukkan kematangan yang tidak biasa untuk pemain seusianya.
"Ada satu highlight ketika Oman melakukan serangan balik dan dia mengambil keputusan dengan sangat cepat. Itu menunjukkan bahwa dia memang punya kualitas," kata Bung Harpa.
Lebih jauh, Bung Harpa menilai debut Mathew Baker juga membawa pesan penting dari John Herdman kepada seluruh pemain Indonesia. Pelatih asal Kanada tersebut seolah ingin menunjukkan bahwa tidak ada batas usia untuk mendapatkan kesempatan membela Timnas Indonesia. Selama seorang pemain memiliki kualitas yang dibutuhkan, maka peluang akan selalu terbuka.
Di sisi lain, Herdman juga ingin mengirimkan sinyal bahwa persaingan di dalam skuad Garuda akan berlangsung sangat ketat.
"Pesan dari John Herdman jelas. Siapa pun bisa masuk tim nasional kalau punya kualitas. Dan siapa pun bisa tidak dipanggil kalau kualitasnya belum memenuhi standar," ujar Bung Harpa.
Filosofi tersebut dinilai sangat penting dalam membangun budaya kompetitif di dalam tim. Tidak ada pemain yang bisa merasa aman dengan statusnya, sementara pemain muda pun memiliki motivasi untuk terus berkembang karena kesempatan selalu terbuka.
Garuda Tampil Superior atas Oman
Sejak menit awal, Indonesia langsung mengambil kendali permainan. Peluang pertama hadir pada menit ketujuh ketika Nathan Tjoe-A-On menyambut umpan panjang Rizky Ridho. Sundulan Nathan mengarah ke gawang, tetapi masih mampu ditepis kiper Oman, Ahmed Faraj.
Tekanan Indonesia akhirnya membuahkan hasil pada menit ke-13. Berawal dari skema bola mati yang dieksekusi Nathan Tjoe-A-On, Justin Hubner berhasil memenangkan duel udara dan menyundul bola masuk ke gawang Oman.
Gol tersebut menjadi gol perdana Hubner bersama Timnas Indonesia senior. Keunggulan Garuda bertambah pada menit ke-28 melalui Ole Romeny.
Penyerang yang kini menjadi andalan lini depan Indonesia itu memanfaatkan umpan panjang akurat dari Rizky Ridho sebelum melepaskan tembakan mendatar yang gagal dijangkau Ahmed Faraj.
Oman sebenarnya memiliki kesempatan untuk memperkecil ketertinggalan pada menit ke-38 setelah mendapatkan hadiah penalti. Namun Emil Audero Mulyadi menunjukkan kualitasnya dengan menggagalkan eksekusi Hatem Sultan. Penyelamatan tersebut menjadi salah satu momen penting yang menjaga momentum Indonesia hingga turun minum.
Memasuki babak kedua, dominasi Indonesia tetap berlanjut. Pada menit ke-55, Ragnar Oratmangoen mencatatkan namanya di papan skor. Memanfaatkan umpan Ivar Jenner, Ragnar sempat gagal pada percobaan pertama setelah ditepis kiper Oman. Namun bola rebound kembali mengarah kepadanya dan langsung diselesaikan menjadi gol.
Indonesia unggul 3-0. John Herdman kemudian mulai melakukan sejumlah pergantian pemain untuk memberikan kesempatan kepada pemain lain. Salah satu keputusan yang paling menarik adalah ketika Mathew Baker masuk menggantikan pemain senior pada menit ke-80.
Meski usianya masih 17 tahun, Baker mampu beradaptasi dengan baik dan ikut menjaga stabilitas permainan Indonesia hingga laga berakhir. Skor 3-0 pun bertahan sampai peluit panjang dibunyikan.