Nasib Yen Kian Muram, Investor Mulai Waspadai Intervensi Baru Jepang
Yen Jepang kembali menyentuh level psikologis 160 per dolar Amerika Serikat (AS), memicu kekhawatiran pasar akan kemungkinan intervensi baru dari pemerintah Jepang. Pelemahan mata uang Negeri Sakura terjadi di tengah menguatnya dolar AS yang didorong meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah serta ekspektasi kenaikan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).
Pada perdagangan Rabu, yen turun hingga mencapai level yang sebelumnya menjadi titik intervensi otoritas Jepang. Pelemahan tersebut menghapus penguatan yen yang sempat terjadi setelah pemerintah Jepang menggelontorkan dana sebesar 11,7 triliun yen atau sekitar US$73 miliar (setara Rp1,31 kuadriliun dengan kurs Rp17.900 per dolar AS) sebulan lalu untuk menopang nilai tukar.
Penguatan dolar terjadi setelah konflik di Timur Tengah kembali memanas. Amerika Serikat menyebut Iran meluncurkan rudal balistik ke sejumlah negara tetangga di kawasan tersebut, meski seluruh rudal dilaporkan gagal mencapai sasaran. Sebagai respons, militer AS melakukan serangan ke Pulau Qeshm milik Iran.
Di sisi lain, perundingan diplomatik antara Iran dan Amerika Serikat masih menemui jalan buntu. Kondisi ini membuat investor cenderung mencari aset yang dianggap aman, termasuk dolar AS.
Yen menjadi salah satu mata uang yang tertekan dalam situasi tersebut. Selain faktor penguatan dolar, Jepang juga rentan terhadap kenaikan harga energi karena masih bergantung pada impor minyak dan gas dari luar negeri.
Marc Chandler, Kepala Strategi Pasar di Bannockburn Global Forex, menilai risiko intervensi Bank of Japan (BoJ) memang meningkat, tetapi belum cukup untuk mengubah perilaku pasar. "Semua orang tahu risiko intervensi Bank of Japan telah meningkat, tetapi hal itu tidak benar-benar membuat pasar gentar," kata Chandler, sebagaimana dikutip dari Reuters, Kamis, 4 Juni 2026.
"Intervensi yang dilakukan pada akhir April dan Mei merupakan yang terbesar dalam sejarah. Nilai tukar sempat turun, tetapi sekarang kembali naik ke level sebelumnya. Jadi, apa pun yang dibeli Jepang melalui intervensi tersebut, ternyata tidak memberi banyak waktu," ungkapnya.
Sementara itu, Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, mengatakan pemerintah siap merespons pergerakan nilai tukar jika diperlukan. Pernyataan itu sempat memberikan dukungan bagi yen sebelum akhirnya mata uang tersebut kembali melemah ke level 160 per dolar AS.
Gubernur Bank of Japan Kazuo Ueda juga mengisyaratkan kemungkinan kenaikan suku bunga jika risiko inflasi dianggap lebih besar dibandingkan risiko perlambatan ekonomi.
Menurut Shaun Osborne, Kepala Strategi Valuta Asing Scotiabank, pernyataan Ueda menunjukkan sikap yang lebih agresif dari bank sentral Jepang. "Komentar Gubernur Bank of Japan Ueda bernada hawkish dan menunjukkan bahwa suku bunga kebijakan saat ini belum berada di tingkat netral," ujarnya.
Meski demikian, dolar AS tetap bertahan kuat dan terakhir diperdagangkan di level 160,015 yen.
Selain perkembangan geopolitik, perhatian investor saat ini juga tertuju pada data ekonomi Amerika Serikat. Data terbaru menunjukkan jumlah lowongan pekerjaan di AS pada April meningkat paling besar dalam lima tahun terakhir.
Pasar kini menunggu rilis data nonfarm payrolls atau penyerapan tenaga kerja yang dijadwalkan pada Jumat. Data tersebut dinilai dapat memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan.
"Angka nonfarm payrolls bisa menjadi data yang sangat penting bagi pergerakan dolar," kata ahli strategi makro SEB, Gustav Helgesson. "Data tersebut bisa membuat The Fed menjauh dari kecenderungan melonggarkan kebijakan dan mulai mempertimbangkan kenaikan suku bunga. Menurut saya, ini bisa menjadi awal perubahan sentimen terhadap dolar."
Saat ini pasar memperkirakan The Fed berpotensi menaikkan suku bunga sekitar 19 basis poin hingga akhir tahun. Bahkan kenaikan suku bunga sebesar 0,25 persen diperkirakan sudah sepenuhnya diperhitungkan pasar untuk Maret tahun depan.