Harga Emas Dunia Turun, Analis: Ada Pemulihan ke Level US$6.400
Harga emas dunia terkoreksi signifikan dipicu penguatan dolar Amerika Serikat (AS) di tengah rencana penunjukan Kevin Warsh sebagai calon Ketua Federal Reserve (The Fed) yang baru. Meski demikian, analis menilai prospek pemulihan emas masih terbuka hingga menyentuh level US$6.400.
Harga emas spot tercatat turun 7,5 persen ke posisi US$4.992,05 atau sekitar Rp 83,73 juta (estimasi kurs Rp 16.770 per dolar AS) per ons pada pukul 09.47 GMT, Jumat, 30 Januari 2026. Penuruan masih terjadi hingga pada akhir pekan, logam mulia ini tergerus sebesar 8,15 persen menjadi US$4.893,2 sekitar Rp 82 juta per ons hingga pukul 12.47 WIB pada Minggu, 1 Februari 2026, dikutip dari Gold Price.
Koreksi tajam ini terjadi setelah emas mencetak rekor tertinggi sepanjang masa di level US$5.594,82 per ons pada Kamis, 29 Januari 2026. Secara bulanan, harga emas masih berada di jalur kenaikan lebih dari 15 persen, berpotensi menjadi lonjakan bulanan terbesar sejak 1999 serta menandai enam bulan kenaikan beruntun.
Analis UBS, Giovanni Staunovo, menilai penurunan harga emas saat ini sebagai fase yang wajar setelah reli kuat dalam beberapa pekan terakhir. Apalagi setelah reli signifikan sehingga fase konsolidasi adalah hal yang biasa terjadi.
"Saya masih percaya ada sejumlah faktor pendukung emas yang tetap kuat,” ujar Staunovo dikutip dari CNBC Internasional pada Minggu, 1 Februari 2026.
Ilustrasi: emas batangan
Permintaan fisik emas tetap menunjukkan sinyal positif. Premi emas fisik di India melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari satu dekade, didorong oleh kuatnya permintaan investasi menjelang potensi kenaikan bea masuk. Sementara itu, premi emas di Tiongkok ikut meningkat seiring pulihnya permintaan investasi dan perhiasan.
Sependapat dengan Staunovo, Analis independen Ross Norman, juga optimistis terhadap prospek jangka menengah hingga panjang. Di satu sisi, Norman melihat peluang harga emas masih berpotensi turun lebih lanjut dalam jangka pendek.
“Harga emas masih bisa turun lebih rendah dari posisi saat ini. Namun, kami memperkirakan akan terjadi pemulihan dengan rata-rata harga US$5.375 pada 2026, dan berpotensi mencapai puncak US$6.400 pada kuartal keempat,” ungkap Norman.
Sebagai informasi, Trump mengusung Kevin Warsh sebagai kandidat terkuat menjadi bos baru bank sentral AS. Warsh dikenal mendorong penyusutan neraca The Fed yang berlawanan dengan kecenderungan Trump terhadap kebijakan moneter longgar.
Rencanya Trump akan mengumumkan penunjukkan Warsh secara resmi untuk menggantikan Jerome Powell pada Jumat pekan depan.