Bitcoin Tembus Rp1,52 Miliar Dipicu Konflik Trump-Powell, Investor Incar Aset Safe Haven
Ketegangan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Ketua The Fed As Jerome Powell mendorong harga Bitcoin pada perdagangan Senin sore waktu Hong Kong, Senin, 12 Januari 2026. Konflik terbuka ini mengguncang kepercayaan investor sehingga menekan indeks saham berjangka AS serta dolar AS.
Dikutip dari data CoinDesk, harga Bitcoin melesat sekitar lebih dari 1 persen ke level US$90.555,09 atau Rp 1,52 miliar (estimasi kurs Rp 16.850 per dolar AS) per keping. Aset kripto terbesar dunia ini bahkan sempat menyentuh level US$92.000 atau Rp 1,54 miliar per keping.
Pada pekan lalu, Bitcoin bergerak dalam rentang harga US$89.000 hingga US$95.000.
Menariknya, pergerakan Bitcoin kali ini tidak sejalan dengan Nasdaq. Kontrak berjangka Nasdaq terkoreksi 0,8 persen, S&P 500 futures turun 0,5 persen, dan indeks dolar AS melemah ke level 99,00.
Aset kripto.
Kondisi ini memunculkan indikasi meningkatnya permintaan aset lindung nilai (safe haven) terhadap Bitcoin di tengah eskalasi perseteruan antara Trump dan Powell. Selama ini, pendukung Bitcoin kerap menyebut aset kripto sebagai instrumen anti-kemapanan dan lindung nilai terhadap kebijakan fiskal dan moneter yang dinilai tidak prudent.
Penguatan Bitcoin juga sejalan dengan lonjakan aset lindung nilai tradisional. Harga emas tercatat melonjak ke rekor tertinggi baru di US$4.600 per ons.
Ketegangan antara Gedung Putih dan bank sentral AS memanas sejak akhir pekan lalu. Tepatnya setelah Powell mengungkapkan pemerintahan Trump mengancamnya dengan dakwaan pidana terkait proyek renovasi gedung Federal Reserve di Washington, DC.
Powell menilai ancaman tersebut bermuatan politik dan bertujuan menekan The Fed agar memangkas suku bunga. Sementara itu, Trump selama ini vokal mengkritik kebijakan bank sentral AS, khususnya sikap Powell yang dinilai enggan memangkas suku bunga secara agresif untuk mendorong pertumbuhan ekonomi.
Sejak dilantik kembali pada tahun 2025, Trump berulang kali mendesak Powell untuk memangkas suku bunga lebih dalam. Ia bahkan menyebut Powell sebagai orang bodoh dan mengancam akan melakukan perubahan untuk memperbesar pengaruh Gedung Putih terhadap kebijakan moneter.
Trump secara konsisten mendorong agar suku bunga acuan diturunkan hingga 1 persen atau lebih rendah. Pada bulan Desember 2025, The Fed memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 3,5 persen.
Pasar memperkirakan The Fed masih akan menahan kebijakan hingga setidaknya Maret 2026. Di samping itu, tersebar ekspektasi bahwa kecil kemungkinan kembali ke era suku bunga ultra-rendah dalam waktu dekat.
Di tengah tekanan politik tersebut, pasar prediksi tidak melihat adanya peluang Powell akan mundur lebih cepat. Masa jabatannya sebagai Ketua Federal Reserve dijadwalkan berakhir pada Mei tahun ini.
Serangan berulang terhadap independensi bank sentral berpotensi menggerus kepercayaan investor dan melemahkan mata uang domestik, namun status dolar AS sebagai mata uang cadangan global dinilai membuat risiko kejatuhan drastis relatif kecil. Pasar menyoroti kejatuhan nilai tukar Lira Turki dalam beberapa tahun terakhir akibat intervensi Presiden Recep Tayyip Erdogan terhadap bank sentral.