Bitcoin Rontok ke Level Terendah 9 Bulan, Likuiditas Rp28 Triliun Lenyap!

Bitcoin.
Bitcoin.

Pasar aset kripto dilanda gempa hebat. Bitcoin (BTC) terjun bebas ke level terendahnya dalam sembilan bulan terakhir setelah rentetan sentimen makroekonomi dan ketegangan geopolitik mengguncang kepercayaan investor pada perdagangan pasar.

Dikutip dari CoinGecko, Bitcoin sempat menyentuh titik rendah di angka US$82.134 sekitar Rp1,3 miliar (estimasi kurs Rp 16.770 per dolar AS) setelah terkoreksi tajam 7,4 per dalam 24 jam pada perdagangan Kamis, 29 Januari 2026. Aset kripto ini menunjukkan perbaikan di akhir pekan.

Melansir CoinMarketCap hingga pukul 14.48 WIB pada Sabtu, 31 Januari 2026, Bitcoin berada di level US$83.272,90. Harga ini mencerminkan kenaikan 1 persen dalam 24 jam terakhir meski dalam tujuh hari terakhir masih tergerus 6,92 persen, 

Akibat dari penurunan tajam pada perdagangan Kamis, total kapitalisasi pasar kripto merosot 6,7 persen yang berujung kerugian  bagi para trade. Likuiditas menyusut U$1,68 miliar atau setara lebih dari Rp 28,1 triliun menguap. 

Investasi kripto.

Pasar bereaksi negatif terhadap langkah politik Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Spekulasi mengenai calon kuat Ketua Federal Reserve (The Fed) berikutnya jatuh kepada mantan Gubernur Fed, Kevin Warsh yang dikenal sebagai elang inflasi (inflation hawk) membuat investor ketar-ketir.

“Pelaku pasar memperkirakan ketua berikutnya adalah Kevin Warsh, kritikus lama pelonggaran kuantitatif dan diduga sebagai sosok pro-inflasi (hawk). Ini bersifat bearish bagi Bitcoin dalam jangka pendek,” ungkap analis investasi di Fisher8 Capital, Lai Yuen, dilansir dari Decrypt pada Sabtu, 31 Januari 2026.

Tak hanya itu, Trump juga meneken perintah eksekutif darurat nasional yang menetapkan tarif bagi negara-negara penyedia minyak ke Kuba. Langkah agresif ini, ditambah potensi intervensi AS di Iran, memaksa investor menarik dana mereka dari aset berisiko.

“Langkah ini memicu pelarian utama ke aset aman (safe haven) baik di pasar kripto maupun ekuitas,” jelas analis Zerocap, Emir Ibrahim.

Konflik yang masih membara di Iran, ketegangan di Laut China Selatan, serta perang Rusia-Ukraina yang terus berlanjut telah mengikis selera risiko investor secara global. Data dari Velo menunjukkan adanya tekanan jual ganda, baik dari pasar spot maupun investor perpetual. Sementara itu, pasar opsi menunjukkan sinyal waspada yang lebih dalam.

“Secara keseluruhan, saya memperkirakan awal Februari yang menyakitkan,” tegas Kepala Riset platform opsi on-chain Derive, Sean Dawson.

Ia menambahkan bahwa meskipun UU Clarity Act yang sedang diperdebatkan di Senat AS adalah langkah regulasi positif. Menurut Dawson ini belum cukup kuat untuk memompa harga dalam waktu dekat.