Ketegangan Geopolitik Meningkat, Investor Diminta Fokus ke 3 Aset Safe Haven Ini

Ilustrasi mata uang Jepang
Ilustrasi mata uang Jepang

  Ketegangan geopolitik global kembali meningkat di awal 2026, mendorong banyak investor mencari aset yang dianggap lebih aman dan tahan terhadap risiko. Situasi ini menekankan pentingnya strategi lindung nilai (hedging) dalam portofolio investasi, terutama bagi mereka yang ingin menjaga nilai kekayaan di tengah ketidakpastian ekonomi dan politik.

United Overseas Bank (UOB) menekankan bahwa kebutuhan akan safe haven akan menjadi tema utama sepanjang 2026. Di tengah turbulensi geopolitik, termasuk peristiwa terakhir di Venezuela, investor diimbau untuk mempertimbangkan aset-aset yang bisa membantu mengurangi risiko portofolio mereka.

Laporan UOB menyatakan bahwa kemungkinan terjadinya kejadian risiko geopolitik global yang telah menjadi kenyataan, sehingga dunia investasi pada 2026 didominasi oleh kebutuhan akan safe haven. Risiko ini tidak hanya terbatas pada konflik antarnegara, tetapi juga kekacauan politik, pergeseran aliansi ekonomi, dan dampak kebijakan yang tiba-tiba terhadap pasar.

“Ada kebutuhan mendesak dan penting bagi investor untuk mencari lindung nilai safe haven untuk mendiversifikasi risiko dalam portofolio investasi,” kata para analis UOB, sebagaimana dikutip dari The Business Times, Senin, 12 Januari 2026.

Diversifikasi semacam ini dianggap krusial untuk menghadapi volatilitas yang dapat memukul nilai aset berisiko tinggi seperti saham. Berikut tiga aset yang dipandang  sebagai pilihan defensif yang menjanjikan:

1. Emas

Ilustrasi Emas.

Emas telah lama dikenal sebagai aset safe haven klasik. UOB menyebut logam mulia ini sebagai “safe haven global yang sebenarnya” atau de facto global safe haven.

Logam mulia tidak hanya menarik karena nilainya yang cenderung stabil saat pasar bergejolak, tetapi juga karena emas adalah satu-satunya aset nyata yang dimiliki bank-bank sentral sebagai cadangan. Hal ini membuat emas punya peran ganda: sebagai lindung nilai terhadap inflasi dan gejolak geopolitik.

Harga emas juga diperkirakan naik di 2026. Tren ini menunjukkan kepercayaan kuat pada fundamental emas, bukan sekadar dorongan harga sementara akibat peristiwa tertentu.

2. Yen Jepang

Selain emas, Yen Jepang diproyeksikan kembali menjadi aset safe haven penting, terutama dalam kelompok negara industri maju (G7). Walaupun beberapa waktu terakhir mata uang ini lemah terhadap dolar AS, UOB melihat yen memiliki potensi kuat untuk kembali ke peran tradisionalnya sebagai mata uang safe haven G7.

Alasannya, meskipun yen melemah, Bank of Japan berencana memperketat kebijakan moneternya, sedangkan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang meningkat tajam. Hal ini memperkecil selisih imbal hasil (yield differential) yang mulai menguntungkan posisi yen, sehingga kekuatan safe haven-nya diyakini akan kembali seiring waktu.

Angka yang lebih rendah menunjukkan yen akan menguat terhadap dolar, yang merupakan tanda peningkatan kepercayaan sebagai aset safe haven.

3. Dolar Singapura

Ketiga, ada dolar Singapura (SGD), yang dipandang sebagai mata uang safe haven di kawasan ASEAN. UOB menilai jalur apresiasi jangka panjang SGD tetap utuh dan didukung kuat oleh fundamental ekonomi Singapura.

Pertumbuhan ekonomi Singapura pada 2025 dilaporkan kuat, dengan Produk Domestik Bruto meningkat sekitar 4,8 persen dibanding tahun sebelumnya, salah satu laju pertumbuhan tertinggi di kawasan. Hal ini didorong oleh pergeseran rantai pasok global ke ASEAN dan lonjakan ekspor di sektor semikonduktor serta elektronik.

UOB memperkirakan USD/SGD akan turun sepanjang 2026, menandakan SGD menguat. Selain itu, daya beli SGD yang kuat dianggap sebagai keunggulan utama di tengah ketidakpastian global.

Dengan meningkatnya risiko geopolitik, diversifikasi portofolio melalui aset safe haven kini menjadi lebih relevan daripada sebelumnya. Emas menawarkan stabilitas global, Yen Jepang memberikan pelindung dari gejolak mata uang tradisional, dan Dolar Singapura muncul sebagai benteng nilai di kawasan ASEAN.

Bagi investor yang ingin melindungi kekayaan dari dampak peristiwa geopolitik dan volatilitas pasar, ketiga aset ini layak dipertimbangkan sebagai bagian dari strategi defensif.